Thursday, 24 September 2020


Menjajaki Sistem Logistik Unggas

03 Dec 2013, 11:42 WIBEditor : Clara Agustin

Sistem logistik pangan di Indonesia selama ini hanya dikenal untuk pangan pokok. Bahkan sejak International Monetary Fund (IMF), logistik pangan yang semula sembilan bahan pokok (sembako) terpangkas tinggal beras.

Akibatnya ketika harga pangan bergejolak, kecuali beras, pemerintah tidak bisa turun tangan. Contohnya, saat harga kedelai dan daging melonjak, pemerintah kesulitan mengendalikan. Perum Bulog yang dulu mempunyai kekuatan menjaga stabilisasi, juga tak mampu menjaga kondisi harga ketika pemerintah secara mendadak menugaskan sebagai stabilisator.

Begitu juga dengan gejolak harga komoditi unggas. Dengan sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar, membuat pemerintah tak berkutik saat terjadi gejolak harga. Untuk mengatasi permasalahan perunggasan yang kian carut-marut, mantan Direktur Jenderal Peternakan, Soehadji mengusulkan, seharusnya perunggasan di Indonesia menerapkan sistem logistik nasional (Sislognas).

Jadi perunggasan nasional diposisikan sebagai logistik. Di dalamnya terdapat rantai pasok (supply chan). Ada arus barang, informasi dan uang. Kemudian, terdapat pula proses di dalamnya: pengadaan, transportasi, pengaturan, penyimpanan dan distribusi.

Alasan mengapa diperlukan Sislognas, menurut Soehadji, karena pergerakan, baik barang, informasi dan uang akan menjadi aman, efisien dan efektivitas. Dengan Sislognas akan ada peningkatan pelayanan. “Infrastruktur ada, mengurangi pungutan tidak resmi, menghemat waktu, dan antisipasi peningkatan stok serta fluktuasi harga di hari besar,” kata Soehadji yang juga aktif di Pordasi (Perhimpunan Olah Raga Berkuda Indonesia).

Informasi lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (info berlangganan SMS ke : 081317575066).

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018