Friday, 01 July 2022


Lokasi Peternakan Tradisional Siaga Flu Burung

30 Mar 2016, 09:57 WIBEditor : Ahmad Soim

Kasus matinya puluhan ayam di beberapa daerah kembali membuat khawatir peternak unggas, terutama lokasi peternakan unggas tradisional. Vaksin flu burung bisa jadi alternative mencegah kematian unggas milik peternak.

 

            Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Muladno  mengingatkan lokasi peternakan yang bersifat tradisional patut untuk diwaspadai sebagai salah satu agen penyebar flu burung lantaran penanganan biosecurity yang belum baik. Berbeda dengan peternakan unggas skala industri yang sudah berjalan dengan baik. Pemerintah juga telah mengeluarkan sertifikat bagi perusahaan unggas yang sudah benar-benar bebas flu burung.

            Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Technical Sales Representative (TSR) dari Medion Indonesia, Gunawan. Menurutnya para peternak ayam kampung dan itik dengan cara tradisional memang jarang ada yang memakai sistem biosecurity. “Kendalanya hanya di kesadaran pemilik unggas/ terutama pemilik ayam kampung rumahan, yang memiliki ayam tidak lebih dari 10 ekor saja dan dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri,” tegas Gunawan.

            Anggapan vaksin Flu Burung (Avian Influenza) yang mahal juga dibantah oleh Gunawan. Masing-masing perusahaan vaksin sudah mengeluarkan harga yang terjangkau untuk peternak unggas agar terhindar dari flu burung. “Kisarannya sekitar Rp 30 ribu untuk ukuran 25 ml dan itu bisa digunakan untuk 50 ekor unggas,” tuturnya.

            Apalagi pemerintah sudah sering melakukan sosialisasi dari bahayanya flu burung ini. Penggunaan vaksin flu burung bagi peternak pun sudah pernah dilakukan. “Kasus ini bisa saja terus berulang. Satu-satunya jalan hanya dengan kesadaran dari peternak sendiri akan biosecurity,” tegasnya..

            Dalam dunia peternakan unggas skala besar, penyakit Flu Burung merupakan hal yang biasa dan bisa menyerang kapan saja. “Sama dengan penyakit lainnya seperti ND ( new castle desease, Infectious bursal desease dan lain-lain) yang jika kita tidak melakukan pengebalan / vaksinasi , maka ayam akan terserang penyakit tersebut,” tutupnya.

            Sebelumnya, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) sudah pernah membuat pemetaan daerah yang diperkirakan terjadinya outbreak dari resiko tinggi hingga rendah.

Wilayah berisiko tinggi, di antaranya Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Lampung, Bali, dan Sulawesi Selatan. Sementara, wilayah risiko sedang, yakni Aceh, Jambi, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan, dan NTB. Sedangkan, wilayah Indonesia yang berpotensi rendah terjangkit virus flu burung, yakni Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua, dan Papua Barat.

Kementan pun sudah membuat Unit Reaksi Cepat Kota dan delapan Unit Pelaksana Teknis Veteriner di daerah guna memantau perkembangan penyakit hewan sepanjang tahun. Unit ini bekerjasama dengan Dinas Peternakan se-Indonesia. Gsh

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018