Sabtu, 07 Desember 2019


Lulusan Peternakan Diarahkan Jadi Insinyur yang Tersertifikasi

17 Mei 2016, 16:33 WIBEditor : Kontributor

 

Pengembangan sektor peternakan  berhubungan langsung dengan ketersediaan sumberdaya manusia. Oleh karena itu, lulusan sarjana Peternakan seluruh Indonesia diarahkan menjadi insinyur dengan kemampuan yang terus terbaharui.

"Akan berupa sertifikasi profesi untuk sarjana menjadi insinyur sehingga ada penambahan periode tertentu sebanyak 2 semester agar menjadi insinyur. Kurikulum sarjana peternakan sekarang hanya 144 sks sedangkan insinyur peternakan zaman dahulu sebanyak 166 sks," ungkap Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia, Prof Ali Agus, DEA ketika ditemui Sinar Tani di IPB.

Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) sebagai kumpulan pimpinan perguruan tinggi yang memiliki fakultas peternakan di Indonesia hingga sekarang tengah menggodok rancangan kredit semester yang harus ditempuh oleh peserta didik.

Selama ini, lulusan/sarjana peternakan bekerja dan berkarya di berbagai bidang baik yang terkait langsung maupun tidak langsung sektor peternakan.

"Dengan mengarah pada pembentukan skill insinyur, keahlian dari lulusan peternakan menjadi lebih profesional, lebih terampil dan lebih kualified," ungkapnya.

ISPI sendiri bersama organisasi lain sebenarnya telah mendirikan lembaga sertifikasi profesi dan telah diakui oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). "Sehingga lembaga ini bisa digunakan untuk sertifikasi profesi bagi lulusan sarjana tergantung bidangnya mulai dari reproduksi, budidaya hingga pemerahan," ungkapnya.

ISPI sendiri menargetkan lulusan sarjana berkualitas insinyur ini bisa tercetak dalam jangka 2-3 tahun yang akan datang.

Menurut catatan dari ISPI, Indonesia memiliki sekitar 30 ribu lulusan sarjana peternakan dari seluruh Universitas. Peminatan peserta didik  baru terhadap pertanian juga masih cukup tinggi. "Untuk di Universitas Gajah Mada (UGM) saja 1:17 atau dengan kata lain 1 orang yang masuk ke Peternakan harus mengalahkan sekitar 17 orang," tutur Prof Ali yang juga dosen Fakultas Peternakan dari UGM.

Prof. Ali juga menambahkan pertumbuhan minat menjadi dosen Peternakan juga harus mulai didorong oleh pemerintah. "Dosen Peternakan di UGM saja hanya sekitar 80 orang, sedangkan idealnya sendiri adalah 100," ungkapnya.

Pemerintah hingga sekarang masih belum melakukan rekruitmen dosen dan staf pengajar bidang peternakan, padahal sudah banyak diantaranya dosen-dosen yang purnabakti (pensiun). Gsh

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018