Minggu, 16 Desember 2018


Miliki Jejaring Pengawasan Virus Avian Influenza, Indonesia Mulai Kenalkan ke ASEAN

15 Agu 2018, 16:37 WIBEditor : Kontributor

Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Avian Influenza (AI)  atau biasa disebut flu burung di Indonesia, Kementerian Pertanian telah mengembangkan suatu jejaring inovasi dimana isolat H5N1 dikarakterisasi secara antigenik dan genetik. Jejaring ini dibangun  dengan bantuan Badan Pangan Dunia (FAO/OFFLU) sebagai upaya meningkatkan sistem pengawasan perubahan (evolusi) virus AI di Indonesia.

Hal tersebut dipaparkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita saat jadi tuan rumah pertemuan Avian Influenza Group for ASEAN (AIGA) pertama. Pertemuan yang diikuti oleh Delegasi dari Negara anggota ASEAN, perwakilan ASEAN Secretariat dan FAO Regional Kawasan Asia Pasifik yang berlangsung selama 4 hari dari tanggal 13 Agustus hingga 16 Agustus 2018 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Pada kesempatan tersebut I Ketut Diarmita menyampaikan kegiatan Bioinformatic kepada negara anggota ASEAN lainnya, salah satunya jejaring surveilans molekuler atau disebut Influenza Virus Monitoring (IVM) di Indonesia.

Ia sebutkan bahwa IVM Indonesia dibangun didasarkan pada jejaring regional laboratorium diagnostik veteriner dan didukung oleh suatu sistem manajemen data berbasis website (IVM Online).

“Contoh jejaring IVM Indonesia ini memiliki relevansi dengan negara-negara lain yang ingin membangun jaringan laboratorium untuk surveilans molekuler AI dan penyakit menular (patogen) lainnya,” kata I Ketut Diarmita. Menurutnya, hal ini sesuai dengan kerangka kerja strategis FAO-Regional untuk peningkatan kapasitas laboratorium, dimana Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates di Yogyakarta telah ditunjuk sebagai laboratorium veteriner rujukan untuk Avian Influenza di Indonesia,” ungkapnya.

I Ketut menjelaskan, perkembangan situasi penyakit Avian Influenza (AI) sejak tahun 2003 hingga saat ini khususnya di kawasan regional Asia Tenggara sangatlah dinamis, baik kejadian pada unggas maupun pada manusia. Masing-masing Negara anggota ASEAN sangat memerlukan berbagi informasi dan pengalaman dalam menerapkan strategi pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit AI.

Pada pertemuan ini antar negara anggota ASEAN saling berbagi informasi situasi terkini dinamika penyakit AI di kawasan regional ASEAN dan strategi efektif untuk pencegahan dan pemberantasannya. Selain itu juga akan dikaji kembali target capaian Roadmap ASEAN untuk Komunitas ASEAN Bebas HPAI pada tahun 2020 secara realistis.

Lebih lanjut I Ketut katakan bahwa semua negara anggota ASEAN akan bersama-sama memformulasikan mekanisme koordinasi, memastikan hubungan, dan mengembangkan kerjasama melalui platform multi-sektor dan multi-lembaga yang diharapkan bermanfaat bagi setiap Negara anggota ASEAN maupun negara diluar kawasan regional ASEAN.

Senada dengan I Ketut Diarmita,  Mesah Tarigan Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pertanian yang merupakan wakil focal point  Indonesia untuk Pertemuan Pejabat Tinggi Bidang Pertanian dan Kehutanan se-ASEAN (Senior Officials Meeting of ASEAN Ministers  on Agriculture and Forestry/SOM-AMAF)  menyampaikan, pentingnya  kerjasama diantara negara-negara anggota ASEAN dalam pengendalian dan pemberantasan Avian Influenza. “Hasil kesepakatan dan rekomendasi pada pertemuan ini akan dilaporkan secara secara berjenjang untuk mendapat pengesahan di pertemuan tingkat Menteri,” ungkapnya menjelaskan.
 
Pada kesempatan tersebut, Mesah Tarigan dan I Ketut Diarmita mengundang semua negara anggota ASEAN untuk mengunjungi BBVet Wates yang merupakan laboratorium veteriner rujukan untuk Avian Influenza di Indonesia.

 

 

Editor : Gesha

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018