Selasa, 21 Mei 2019


FAO Apresiasi Networking Monitoring Flu Burung Ala Kementan

03 Nov 2018, 08:20 WIBEditor : GESHA

FAO Apresiasi Networking Monitoring Flu Burung yang lebih cepat dan tepat dalam menanggulangi kasus Flu Burung | Sumber Foto:HUMAS DITJEN PETERNAKAN

Jejaring Inovasi Monitoring membantu menentukan strategi pengendalian Flu Burung

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta --- Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memberikan apresiasi kepada Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah berhasil mengembangkan jejaring inovasi dalam upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit Avian Influenza atau Flu Burung.

Jejaring tersebut adalah Influenza Virus Monitoring (IVM) Online yang merupakan sebuah sistem untuk memonitor sifat antigenic dan genetic dari virus avian influenza (AI) khususnya Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) pada unggas di Indonesia.

Sistem ini terintegrasi secara online dan hasilnya dapat ditampilkan dalam sebuah map (peta). Jejaring inovasi tersebut telah sukses mengkarakterisasi isolat virus AI secara antigenik, genetik dan biologis. 

Yaya Adisa Olaitan Olaniran Permanent (Representative of Nigeria untuk United Nations Roma) bersama 9 delegasi FAO lainnya saat melakukan kunjungan ke Balai Besar Veteriner Wates (BBVet) Yogyakarta (02/11).

Delegasi FAO tersebut menyampaikan pujian atas IVM Online yang sejak peluncurannya pada tahun 2014 telah memberikan dampak yang signifikan dalam upaya pengendalian dan penanggulan penyakit AI.

Kunjungan tersebut dilakukan ke sejumlah kota di Indonesia untuk melihat perkembangan proyek pertanian hasil kerja sama FAO dengan Indonesia.

Dimana program IVM online merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dengan FAO-OFFLU dalam meningkatkan sistem monitoring perubahan (evolusi) virus dan deteksi dini virus AI varian baru di Indonesia.

Dalam kegiatan ini Indonesia mendapat dukungan laboratorium referensi OIE seperti Australian Animal Health Laboratory (AAHL).

"Contoh jejaring dari IVM Indonesia ini memiliki relevansi dengan negara-negara lain yang ingin membangun jaringan laboratorium untuk surveilans molekuler AI dan penyakit menular (patogen) lainnya,” kata Yaya.

Networking tersebut sesuai dengan kerangka kerja strategis FAO-Regional untuk peningkatan kapasitas laboratorium.

Monitoring Cepat

Sementara itu, Kepala Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan, Boethdy Angkasa menyampaikan bahwa pengguna IVM online akan dengan mudah mengetahui posisi virus AI yang bersirkulasi di Indonesia dan melaporkannya dengan cepat dan tepat kepada para pengambil kebijakan.

Dengan demikian perkembangan jenis virus HPAI di seluruh penjuru Indonesia dapat dimonitor, sehingga dapat membantu menentukan strategi pengendalian dan pemberantasan AI yang cepat dan akurat. 

Menurutnya, pelaksanaan program IVM Online merupakan langkah strategis untuk dapat secara mudah dan cepat memantau perkembangan sirkulasi virus AI serta mendeteksi varian-varian virus baru.

"Ini tentunya akan membantu kita untuk menetapkan tindakan pengendalian selanjutnya seperti penentuan jenis vaksin yang baru dan antigen untuk diagnosa,” ucap Boethdy Angkasa.

Lebih lanjut Boethdy menambahkan, melalui penerapan IVM Online maka apabila terjadi mutasi virus AI bisa cepat terdeteksi, sehingga dapat dilakukan upaya segera menghasilkan vaksin yang sesuai untuk pencegahan penyebaran penyakit.

Boethdy mengungkapkan bahwa cara kerja IVM on line ini telah terintegrasi dengan sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) untuk data awal dan isolate.

“IVM Online telah didukung oleh sekitar 40 tenaga ahli anggota IVM Online yang secara rutin bertemu, bertukar informasi dan menerima pelatihan,” ujarnya.

Saat ini anggota IVM Online meliputi delapan (8) laboratorium diagnostik (Balai Besar Veteriner/BBVET dan Balai Veteriner/BVET), Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), Pusvetma, BBLITVET dan Pergutuan Tinggi (FKH-UNAIR).

BBVet Wates sebagai focal point pengendali kegiatan IVM Online juga ditunjuk sebagai Laboratorium Veteriner rujukan Nasional untuk AI di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Bagoes Poermadjaja selaku Kepala Balai Besar Veteriner Wates menyampaikan, laboratorium yang dipimpinnya telah menjadi laboratorium rujukan nasional untuk penyakit AI, Antrax, penyakit pada Ternak yang disebabkan oleh Bakteri Salmonela (Salmonellosis), Penyakit Sapi Gila (BSE).

BBVet Wates yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dibawah Ditjen PKH ini juga telah terakreditasi ISO 17025 tahun 2004 dan ISO 9001 tahun 2010, dengan wilayah kerjanya meliputi 3 Provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY Yogyakarta.

"Kami selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik, melalui penyidikan dan pengujian veteriner, serta pengembangan teknik berbasis laboratorium yang terakreditasi, sehingga mendukung upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan di Indonesia," kata Bagoes Poermadjaja.

Menurutnya, saat ini Indonesia juga sedang mengajukan kepada OIE untuk menjadi laboratorium veteriner rujukan Regional Asia Pasific untuk pengujian Avian Influenza.

“Untuk meningkatkan kapasitas laboratorium BBVEt Wates, kami juga melakukan kerjasama dengan Australian Animal Health Laboratory (AAHL) dalam program kerjasama antar 2 (dua) laboratorium (OIE Laboratory Twinning Program),” pungkasnya. 

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018