Selasa, 21 Mei 2019


Belgian Blue, Harapan Baru Swasembada Daging

20 Jan 2019, 16:16 WIBEditor : Ahmad Soim

Kuntoro Boga Andri di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang | Sumber Foto:Istimewa

Kementan menargetkan kelahiran 1.000 pedet Belgian Blue pada 2019, baik melalui Inseminasi Buatan maupun transfer embrio.




TABLOIDSINARTANI.COM - Hari ini penulis berkesempatan mengungunjungi Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang Bogor. Lokasi Unit Pelaksana Teknis (UPT), Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan,  yang terletak di lereng Gunung Salak di desa Cipelang Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor dapat ditempuh melalui 2 jalur utama yaitu Ciawi (20 Km) dan Batutulis (15 Km). Ketika Penulis datang, kami  disambut hawa  sejuk dan panorama indah. Dengan posisi di atas ketinggian 1.200 m dpl, pusat pengembangan sapi unggulan di Indonesia ini, kita disuguhi pemandangan menawan jika melihat ke arah Kota Bogor, atau menikmati lekak-lekuk punggung Gunung Salak. Di tempat inilah masa depan swasembada daging sapi Indonesia sedang dipersiapkan.

Puluhan sapi jenis unggul tampak berjejer dalam Kandang Indukan yang  tengah dibersihkan. Berjejer aneka jenis sapi Simmental, Limousin, Angus, Madura, Bali, PO dan Aceh yang sehat,  gemuk, dan bersih menyambut ketika kita mengunjungi tempat ini. Para pekerja sedang aktif merawat dan memberi makan sapi-sapinya. Selain itu, BET Cipelang juga merupakan satu-satunya UPT Ditjen PKH Kementan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana untuk produksi embrio. Disini dilakukan uji coba untuk memproduksi embrio dari sapi-sapi donor, baik dari sapi lokal maupun eksotik dengan semen beku sapi unggulan.

Adalah pengembangan sapi Belgian Blue yang menarik saya mengunjungi tempat ini. Jenis sapi yang didatangkan dari Negara Belgia ini merupakan instruksi dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai upaya pemenuhan kebutuhan daging dan bibit sapi unggul nasional.  Sejak mulai dikembangkan  pada 2016, sapi-sapi Belgian Blue berkembang biak dengan baik dan digadang-gadang menjadi masa depan swasembada sapi di Indonesia.  Sampai Desember 2018, sudah lebih dari 100 ekor kelahiran sapi Belgian Blue dari hasil inseminasi buatan maupun hasil transfer embrio.

Sapi ini adalah rumpun sapi potong kelompok Bos taurus yang berasal dari negara Belgia. Keunggulan sapi Belgian Blue diantaranya mempunyai konformasi perototan yang baik dan persentase karkas yang tinggi sekitar 20 persen lebih tinggi dari persentase karkas sapi pada umumnya. Kandungan lemak pada sapi Belgian Blue yang relatif lebih rendah dan memiliki efisiensi penggunaan pakan yang baik. Potensi produksi karkas yang tinggi dan performance yang baik merupakan harapan bagi pemenuhan kebutuhan protein bagi masyarakat Indonesia.

Belgian Blue memang bukan sapi biasa, pertambahan bobot badannya tinggi sekali, per hari bisa mencapai 1 - 1,5 kg.  Dalam sejarahnya, sapi Belgian Blue merupakan perkawinan antara sapi Shorthorn atau Durham dengan sapi lokal Belgia. Sapi hasil persilangan ini memiliki warna kulit kebiruan sehingga disebut dengan Belgian Blue.  Beberapa keuntungan yang diperoleh dari terjadinya mutasi ini adalah, perototan yang luar biasa, sehingga jumlah karkas juga meningkat dan kandungan lemak rendah. Dengan dikembangkannya sapi Belgian blue ini, diharapkan dapat membantu upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi daging sapi di Indonesia.  Keberadaan Belgian Blue digunakan untuk disilangkan dengan sapi lokal untuk meningkatkan perototan sapi lokal.


Pengembangan Seribu Belgian Blue

 
Yanyan Setiawan, Kepala seksi Pelayanan Teknis  Pemeliharaan Ternak BET Cipelang, sewaktu mendampingi kunjungan kami menjelaskan sejak dicanangkannya, Kementan menargetkan kelahiran 1.000 pedet Belgian Blue pada  2019, baik melalui Inseminasi Buatan maupun transfer embrio.  Saat ini pengembangan sapi Belgian Blue masih bersifat tertutup di 11 UPT lingkup Kementerian Pertanian, dengan beberapa kajian yang dilakukan oleh peneliti dan tim pakar pendukung. Program ini dilaksanakan melalui kerjasama antara Ditjen PKH, Badan Litbang Pertanian, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, dan Perguruan Tinggi.

Pengembangbiakkan Belgian Blue dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya adalah transfer embrio, dengan komposisi darah 100 persen Belgian Blue. Metode ini menghasilkan jenis Belgian Blue murni. Sedangkan sapi hasil persilangan dengan sapi eksotik/lokal dengan semen beku memiliki komposisi darah 50 persen Belgian Blue atau disebut dengan sapi persilangan.  Ini untuk menghasilkan sapi Belgian Blue dengan komposisi darah 75 persen. “Lalu dilakukan kawin suntik lagi dengan semen beku Belgian Blue untuk menghasilkan pedet komposisi darah Belgian Blue 87,5 persen, demikian seterusnya," beber Yanyan.

Sedangkan Ilyas, Kepala seksi Pelayanan Teknis Produksi dan Aplikasi, BET Cipelang mengungkapkan sapi-sapi keturunan Belgian Blue yang telah mencapai dewasa mulai dicoba memproduksi semen dan embrionya. Untuk pengembangannya ke seluruh Indonesia, bibit Belgian Blue ini akan disebar ke masyarakat peternak setelah mendapat rekomendasi dari komisi bibit.  “Sapi jantan hasil transfer embrio akan digunakan sebagai pejantan untuk diambil semennya, sedangkan sapi betina akan digunakan sebagai sapi donor (pemberi embrio) untuk diproduksi embrionya,” ungkap Ilyas.

Sejauh ini telah dilakukan uji coba untuk memproduksi embrio dari sapi-sapi donor, baik dari sapi lokal maupun eksotik dengan semen beku Belgian Blue. Uji coba produksi embrio dengan semen beku Belgian Blue dilakukan pada sapi donor Simmental, Limousin, Angus, Madura, Bali, PO dan Aceh.   Jika anak keturunan Belgian Blue dengan komposisi darah 75?pat lahir secara normal, maka dimungkinkan sapi dengan komposisi darah Belgian Blue 75?pat dikembangkan lebih banyak lagi di masyarakat. Selain itu, sapi resipien yang melahirkan pedet Belgian Blue melalui operasi caesar dapat dibuntingkan kembali, setelah kondisi reproduksinya normal. Demikian juga dengan sapi donor yang melahirkan pedet Belgian Blue juga dapat diproduksi embrionya kembali.  "Target seribu sapi Belgian Blue di 2019 terus diupayakan," ujar Ilyas.

Sejauh ini, percobaan persilangan sapi Belgian Blue dengan sapi Aceh, Madura, dan sapi Bali juga dilakukan dengan cara melakukan produksi embrio dari sapi-sapi tersebut dengan menggunakan semen Belgian Blue. Hasilnya, produksi embrio dengan donor sapi Bali dan semen Belgian Blue belum menunjukkan keberhasilan, sedangkan donor sapi Aceh lebih responsif ketika dilakukan produksi embrio. 
 

Tahap Pengembangan di 2019

Saat ini sapi keturunan Belgian Blue yang telah mencapai dewasa mulai dicoba untuk produksi semen dan produksi embrionya. Untuk pengembangannya ke seluruh Indonesia, bibit Belgian Blue ini akan disebar ke masyarakat peternak setelah mendapat rekomendasi dari komisi bibit.


"Sapi jantan hasil transfer embrio akan digunakan sebagai pejantan untuk diambil semennya, sedangkan sapi betina akan digunakan sebagai sapi donor (pemberi embrio) untuk diproduksi embrionya," Ilyas.


Uji coba produksi embrio dengan semen beku Belgian Blue dilakukan pada sapi donor Simmental, Limosin, Angus, Madura, Bali, PO dan Aceh.  Embrio dihasilkan sesuai dengan SNI embrio, dan mengacu pada standar IETS (International Embryo Transfer Society). Sementara untuk embrio dengan komposisi darah 75% ini akan dicoba transfer pada sapi resipien (penerima embrio) untuk memastikan kelahiran anaknya.

BACA JUGA:

> Festival Buah Langka Diserbu Pengunjung

> Buah Surga Antarkan Warta Menginjak Tanah Suci

> Bermitra dengan Perusahaan, Petani Teh Terima KUR Rp 100 Juta

 


Ilyas menyampaikan Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, sudah bisa memproduksi sperma sapi jenis Belgian Blue dan siap disebar ke masyarakat dalam waktu dekat. Pencapaian ini diklaim sebagai keberhasilan sekaligus menunjukkan pengembangan sapi Belgian Blue di Indonesia memberi hasil positif. "Saat ini pejantan Belgian Blue sudah siap diproduksi spermanya, untuk sapi murni kita punya Gatot Kaca, kalau untuk silangan ada lima ekor sapi pejantan," kata Kepala Ilyas.  Ia mengatakan, saat ini pejantan murni sapi Belgian Blue yakni Gatot Kaca sudah dikirim ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari untuk disiapkan menjadi sapi Bulls atau pejantan penghasil semen beku. Menurutnya, untuk pengembangbiakan sapi Belgian Blue di tingkat masyarakat lebih disarankan menggunakan Inseminasi Buatan (IB) dengan mengawinkan pejantan Belgian Blue dengan sapi lokal Indonesia.

Menurut ilyas, jika Komisi Bibit maupun Dirjen Pembibitan merekomendasikan sperma Belgian Blue sudah boleh diedarkan, maka tahun 2019 sudah bisa diproduksi. Sekadar informasi, berdasarkan peta jalan pengembangan sapi Belgian Blue di Indonesia, ditargetkan di 2021 akhir sudah siap produksi semen beku dan di 2022 sudah disebar ke masyarakat. Untuk bisa disebar, perlu menunggu rekomendasi dari Komisi Bibit dan Dirjen Peternakan sebagai otoritas yang berwenang memberikan izin. Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak, Kementerian Pertanian.

Dikesempatan Lain, Direktur Perbibitan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan  Sugiono mengatakan sebelum disebar ke masyarakat perlu dilakukan kajian lagi untuk mendapatkan data yang akurat terkait tumbuh kembang Belgian Blue. Ia mengatakan saat ini pengembangan sapi Belgian Blue sudah dikaji di tingkat UPT lingkup Kementerian Pertanian. "Dan hasilnya bagus, kita akan kaji lagi di tingkat peternak yang sudah bagus manajemenya, setelah itu baru ke masyarakat," imbuhnya.

Menurut Sugiono, sperma Belgian Blue baru bisa disebar di tahun 2021 setelah melalui tahapan kajian yang berjenjang dari lingkup UPT, dan uji coba di peternakan dengan manajemen pengelolaan yang bagus, dan baru ke masyarakat. Hal-hal yang akan dikaji sebelum disebar yakni terlihat pertambahan bobot badan, pertumbuhannya, aspek kesehatan, dan aspek lingkungan. "Kajiannya perlu dua tahu, dicoba dulu di kelompok tertentu punya manajemen bagus baru dilepas ke peternak," kata Sugiono.

Harapan kita semua, tentunya Sapi Belgian Blue terus dikembangkan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri yang kebutuhannya cukup tinggi. Sapi Belgian Blue yang memiliki bobot lebih besar dibanding sapi pada umumnya diharapkan dapat meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri. ( Kuntoro Boga Andri adalah Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Sekretariat Jenderal  Kementerian Pertanian)

Reporter : Kuntoro Boga Andri
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018