Senin, 26 Agustus 2019


Perkuat Koordinasi untuk Usaha Perunggasan Nasional

20 Mar 2019, 12:59 WIBEditor : Gesha

Usaha Perunggasan Nasional perlu koordinasi agar bisa kuat | Sumber Foto:ENNO

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kementerian Pertanian  terus memperkuat koordinasi untuk mendukung usaha perunggasan nasional yang sehat. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Rabu (20/03).

Salah satu solusi  dari sisi pakan adalah dengan memastikan ketersediaan pakan (komponen utamanya jagung) pada harga yang wajar.

Pernyataan tersebut disampaikan I Ketut pada saat melakukan rapat koordinasi perunggasan yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal dan dihadiri oleh pejabat dari Kementerian Pertanian yaitu dari Sekretariat Jenderal, Inspektorat Jenderal, Ditjen PKH, dan Ditjen Tanaman Pangan, wakil dari perusahaan integrasi (Integrator), serta perwakilan peternak mandiri.

Di pertemuan selanjutnya Kementan juga mengundang komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Bareskrim, dan Satgas Pangan untuk mengawal dan memastikan berjalannya usaha perunggasan nasional yang sehat.

“Kementerian Pertanian bersama stakeholder terus berkoordinasi untuk merumuskan langkah-langkah strategis menyelesaikan permasalahan perunggasan ini” ujar I Ketut. 

Harga Turun

Sejalan dengan berlangsungnya panen raya jagung pada bulan Februari-Maret 2019, kondisi di lapangan menunjukkan harga pakan  telah berangsur-angsur turun,  hal ini  direspons dengan baik oleh perusahaan pakan ternak (feedmill).

Pemerintah terus menjembatani hasil panen jagung  petani agar diserap oleh peternak, karena jagung untuk bahan pakan ternak merupakan komponen terbesar yang dibutuhkan oleh pabrik pakan skala besar (anggota GPMT), peternak ayam mandiri (self mixing) dan oleh pabrik pakan UMKM (termasuk pabrik pakan milik koperasi susu). 

Menurut I Ketut Pakan sangat mempengaruhi efisiensi dalam budidaya ternak karena biaya budidaya ternak  menempati porsi terbesar dari total biaya produksi  yaitu 70 – 80%, sehingga pakan yang disediakan harus baik kualitasnya, cukup jumlahnya, dan harganya terjangkau. 

Berdasarkan laporan dari beberapa pabrik pakan yang diterima oleh Kementerian Pertanian, pakan broiler harganya turun Rp. 100-300, dan  pakan layer turun Rp. 150-300.

"Kisaran harga pakan broiler saat ini Rp. 6.700-7.300, sedangkan untuk pakan layer dari Rp. 5.200-6.200," tegas I Ketut. 

Berdasarkan perhitungan, produksi pakan GPMT tahun 2018 sebesar 19.4 juta ton sehingga dibutuhkan jagung 7, 8 juta ton, sedangkan kebutuhan jagung peternak self mixing sekitar 3  juta (rata-rata 250 ribu ton per bulan).

Perkiraan kebutuhan jagung sebagai bahan pakan ternak pada tahun 2019 untuk GPMT adalah 8.28 juta ton dan untuk peternak mandiri sebesar 2,92 juta ton. Total kebutuhan sebesar 11,2 juta ton atau rata-rata 925 ribu ton/bulan.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto menyampaikan harapannya adanya kontinuitas pasokan jagung, utamanya pada saat musim kemarau.

“Hal itu untuk menjamin tidak terjadi penurunan stock jagung yang berpotensi mempengaruhi fluktuasi harga pakan” ungkap Desianto.

 

Reporter : Enno
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018