Senin, 26 Agustus 2019


Perkuat Posisi, Pemerintah Ingin Peternak Ayam Bermitra

10 Apr 2019, 14:52 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah mendorong peternak untuk bermitra | Sumber Foto:Kontributor

Pemerintah berkeinginan kuat agar lini budidaya pola kemitraan bisa semakin berkembang. Peternak dengan skala usaha kecil terus didorong bergabung sehingga menjadi lebih kokoh dan efisien dalam berhadapan dengan perusahaan sarana produksi (produsen D

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Pelaku  bisnis broiler saat ini didominasi perusahaan terintegrasi. Namun di level budidayanya masih melibatkan peternak dari skala mikro, kecil dan menengahm termasuk yang berusaha melalui pola inti-plasma.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan,  Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Fini Murfiani mengatakan, pemerintah berkeinginan kuat agar di lini budidaya pola kemitraan bisa semakin berkembang. Peternak dengan skala usaha kecil terus didorong bergabung sehingga menjadi lebih kokoh dan efisien dalam berhadapan dengan perusahaan sarana produksi (produsen DOC FS dan pakan) terintegrasi serta dengan pihak buyers.

Menurutnya, peternak sebagai mitra dari pihak inti harus mendapatkan jaminan kualitas sarana produksi peternakan (sapronak) seperti DOC, pakan dan obat hewan serta kepastian jadwal chick in dan panen. ”Prinsipnya kemitraan antara perusahaan inti dan peternak plasma dapat terjalin baik bila terdapat saling ketergantungan dan saling menguntungkan,” kata Fini.     

Ditjen PKH mencatat, penyediaan daging broiler di tahun 2018 lalu total mencapai 3.382.311 ton, meningkat 2,2% dibanding tahun 2017. Untuk tahun 2019 diproyeksikan kebutuhan daging broiler akan naik sekitar 6,2% karena peningkatan konsumsi dan prediksi perbaikan ekonomi.

Kondisi peningkatan perminataan daging broiler, ungkap Fini Murfiani,  tak perlu dikhawatirkan karena diperkirakan produksi daging broiler di dalam negeri juga akan mengalami peningkatan. Dengan memperhitungkan potensi produksi bibi broiler (DOC Final Stock/FS) berdasarkan impor bibit nenek (DOC Grand Parent Stock) di tahun 2017 dan 2018 diproyeksikan  produksi DOC broiler FS di 2019  akan meningkat 7,8% hingga mencapai 3.501.779.317 ekor setara 3.647.805 ton daging broiler.

Dengan memperhitungkan proyeksi produksi dan proyeksi kebutuhan maka di tahun 2019 terjadi  surplus sebanyak 396.060 ton daging ayam. “Adanya surplus merupakan saat yang tepat untuk mendorong peningkatan ekspor, karena beberapa negara terutama Timor Leste sangat antusias untuk bisa mengimpor produk daging ayam olahan dari negara kita,” kata Fini di Forum Indonesian Poultry Club (IPC) belum lama ini.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018