Minggu, 18 Agustus 2019


Lewat Program Bekerja, Gabungan Kelompok Peternak (GAPOKNAK) di Garut Meningkat.

31 Jul 2019, 18:51 WIBEditor : Gesha

Usen Bersama ayam KUB yang berusia 7 Bulan dengan berat 1.6 Kg | Sumber Foto:ECHA

TABLOIDSINARTANI.COM, Garut --- Sinyal keberhasilan program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) Kementerian Pertanian di Kabupaten Garut mulai terlihat. Gabungan Kelompok Ternak (Gapoknak) dari Rumah Tangga Miskin (RTM) semakin semangat beternak ayam.

Salah satu Rumah Tangga Miskin (RTM) penerima bantuan Ayam KUB adalah Usen yang menjadi penanggung jawab RTM‪ di Desa Margaluyu Kecamatan Leles Kabupaten Garut Jawa Barat.  Dirinya mengaku optimis bahwa program bantuan pemerintah Bekerja bisa berjalan.

"Buktinya saya. Sejak awal sudah niat mau mengembangkan usaha Ayam KUB ini dengan membangun kandang dann tempat penyimpanan pakan. Benih (DOC) yang diberikan Pemerintah sebanyak 50 ekor ayam sejak bulan Januari 2019 hingga saat ini, tinggal 2 pejantan dan 13 betina. Saya bisa menghasilkan telur sebanyak 13 Butir perhari”, ujarnya pada tabloidsinartani.com‬

‪Menurut Usen, program Bekerja yang digagas Pemerintah sangat bagus. "Hanya saja kembali pada RTM nya masing masing apakah mereka mau sukses atau tidak, itu tergantung pada diri masing masing," imbuhnya.‬

‪Sebagai penanggung jawab desa dirinya harus berani mengambil keputusan soal keberlanjutan program Bekerja ini. "Karena masyarakat kebanyakan maunya instan. Kalau ayam mati atau berkurang, RTM alasannya terdesak ekonomi padahal kalau mereka ada kemauan tinggi pasti jadi pengusaha ternak sukses," tuturnya.

Ditambah Puyuh

Ketika usaha ayam KUB ini berjalan sukses, dirinya punya rencana agar bisa berdiri dikaki sendiri. "Saya akan memgembakan selain ayam KUB saya juga kembanhkan puyuh," terangnya. ‬

Menurutnya, Integrasi ayam dan puyuh sangat cocok karena pakannya bisa dari lingkungan sekitar. “Rencana saya akan mulai dengan 1000 bibit puyuh usia 1-2 minggu (DOQ). Bibit tersebut dalam 17 hari telur sudah menetas. Lalu, burung puyuh tersebut akan bisa menetas 45 hari kemudian," tuturnya.

Adanya integrasi ini pun membuat budidaya puyuh pun selalu mendapatkan telur setiap harinya. “Nanti burungnya diafkir dan bisa dimakan,” lanjutnya.

Sementara itu, hasil budidaya yang dilakukan akan dipasarkan melalui pasar tradisional dan ke warga sekitar. “Namun, karena masih baru, ya kita belum punya analisis ekonomi secara tepat,” tambahnya. ‎

Budidaya burung puyuh ini juga bisa dikembangkan di kawasan Garut. Karena selain tidak membutuhkan lahan yang luas, dan tidak menimbulkan polusi berlebihan. Ditinjau dari segi bisnis, juga tidak membutuhkan biaya yang besar. “Per seribu ekor membutuhkan biaya Rp 16 juta. Itu sudah termasuk kandang, bibit dan pakan,” imbuhnya.

Ia mengaku semangatnya bertambah dalam mengurus ternak ayamnya setelah menerima bantuan 50 ekor ayam melalui program Bekerja dari Kementan. “Dulu saya memelihara ayam dengan jumah sedikit, namun dengan bantuan ayam dari pemerintah saya jadi lebih semangat mengurus ayam untuk merubah kehidupan saya,” tutupnya.

Reporter : Echa
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018