Kamis, 15 November 2018


e-paper Tabloid Sinar Tani - Menembus Pasar Ekspor Bawang Merah

16 Agu 2018, 06:55 WIBEditor : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Menembus Pasar Ekspor  Bawang Merah

Ekspor bawang merah kini bukan lagi mimpi. Kerja keras pemerintah menggenjot produksi komoditas hortikultura tersebut membuahkan hasil. Bukan hanya pasar dalam negeri yang terpenuhi, ekspor pun menjadi target selanjutnya. 

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS), selama 2017 Indonesia telah mengekspor bawang merah sebanyak 7.750 ton atau meningkat 93,5% dibandingkan tahun 2016 yang hanya 736 ton. Untuk tahun 2018, pemerintah menargetkan ekspor sebanyak 15 ribu ton. Pasar yang dibidik adalah Taiwan, Malaysia, Singapura, Thailand dan beberapa negara lainnya. 

“Ini jadi momentum emas cetak dollar. Kita targetkan ekspor dua kali lipat. Naik 100%. Ini adalah perintah Bapak Presiden,” tegas Amran saat meninjau Gudang Klampok, Brebes untuk Pelepasan Ekspor 5.600 ton Bawang Merah ke Thailand, beberapa waktu lalu.
Dengan adanya ekspor, berarti Indonesia bisa membalikkan keadaan dari semula sebagai importir menjadi negara eksportir bawang merah ke sejumlah negara Asean. Sebelumnya tahun 2014, Indonesia masih impor bawang merah sebanyak 74.903 ton. Lalu pada 2015, jumlah impor bawang merah sudah mulai menurun drastis menjadi 17.428 ton. Tahun 2016, pemerintah mulai menghentikan impor bawang merah guna membenahi pola pertanaman dan distribusi di dalam negeri.
Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi mengatakan, kelebihan bawang merah Indonesia adalah cita rasa dan aroma yang berbeda dibandingkan produk India dan Cina. Bawang merah yang diekspor adalah varietas Super Philip yang bentuk umbinya bulat dan memiliki ukurannya lebih besar dengan diameter minimal 2,7 sentimeter. 
“Yang jelas untuk ekspor, petani harus menerapkan GAP (Good Agriculture Practices), serta dilakukan sortasi, grading dan pengemasan yang memenuhi standar mutu bawang merah ekspor yang telah ditetapkan,” papar Suwandi.
Suwandi menilai, penerapan budidaya bawang merah sesuai GAP menjadi kunci utama menghasilkan bawang merah yang sesuai dengan pasar ekspor. Dalam GAP bukan sebatas pemilihan varietas unggul yang ditetapkan, tapi cara pemupukan, penggunaan pestisida, panennya hingga pascapanennya harus benar-benar diperhatikan. 
“Saya rasa para petani bawang merah kita sudah menerapkan budidaya bawang merah sesuai GAP. Mereka tahu bagaimana menangani hama dan penyakitnya, teknik pemupukan, panen hingga pasca panennya. Hal ini sudah diterapkan petani di Pulau Jawa, NTB, dan daerah lainnya,” tutur Suwandi.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Pimpinan Redaksi

BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018