Selasa, 21 Mei 2019


Optimalkan Akselerasi Ekspor di NTT, Kementan Berikan Layanan iMace

11 Apr 2019, 08:28 WIBEditor : Gesha

Dengan IMace, NTT Optimis bisa meningkatkan ekspor | Sumber Foto:Tiara

Dengan aplikasi iMace yang menyajikan pemetaan potensi ekspor komoditas pertanian tersebut nantinya dapat digunakan untuk mengatasi, menghadapi, memfasilitasi dan menyelesaikan semua tantangan, hambatan dan permasalahan dalam meningkatkan volume eksp

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kupang --- Dalam upaya pemerintah penuhi pasar ekspor, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) terus tingkatkan berbagai inovasi layanan akselerasi ekspor komoditas pertanian.

Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, drh. Sujarwanto memberikan aplikasi iMace (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports) kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Victor Bungtilu Laskodat saat lakukan audiensi bersama.

“Dengan adanya aplikasi iMace ini, akselerasi dan target ekspor komoditas pertanian unggulan dari wilayah NTT diharapkan dapat tercapai secara optimal,” ungkap Sujarwanto.

iMace merupakan sebuah inovasi layanan Barantan, Kementan yang memberikan informasi berupa jenis komoditas unggulan ekspor di masing-masing wilayah, informasi negara tujuan, serta tren volume ekspor.

Dengan layanan ini, mempermudah pemerintah daerah dalam memetakan komoditas pertanian unggulan ekspor sekaligus dapat mengembangkan potensi yang terdapat di wilayahnya. 

Dikatakan Sujarwanto bahwa data-data komoditas pertanian yang memiliki potensi ekspor juga dapat digunakan sebagai pembanding bagi pemerintah di masing-masing wilayah untuk saling berbagi informasi dan dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah di wilayahnya terkait upaya konkrit yang telah dilakukan.

“Dengan aplikasi iMace yang menyajikan pemetaan potensi ekspor komoditas pertanian tersebut nantinya dapat digunakan untuk mengatasi, menghadapi, memfasilitasi dan menyelesaikan semua tantangan, hambatan dan permasalahan dalam meningkatkan volume ekspor komoditas pertanian,” jelasnya.

Berdasarkan data Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Kupang, pada 2018 potensi ekspor wilayah NTT memiliki komoditas unggulan tertinggi adalah Meubeulair Jati sebanyak 3.102 mk atau senilai lebih dari Rp 4 miliar.

Lalu ada pakan ternak sebanyak 203.950 kg dengan nilai Rp 1,63 miliar; bawang merah sebanyak 62.082 kg yang memiliki nilai lebih dari Rp 280,90 juta; dan 13.500 ekor DOC dengan nilai lebih dari Rp 109 juta dengan masing-masing negara tujuan ekspor, Timor Leste.

Sedangkan pada trisemester pertama tahun 2019, komoditas unggulan tujuan Timor Leste tersebut tercatat untuk komoditas pakan ternak berada pada posisi tertinggi sebanyak 96.140 kg dengan nilai Rp 769 juta.

Termasuk Meubeulair Jati yang telah dilakukan sebanyak 68 frekuensi dengan jumlah 347 mk atau memiliki nilai ekonomi Rp 452,40 juta; sebanyak 12.680 ekor DOC senilai Rp 102,39 juta; dan bawang merah sebanyak 4.950 kg senilai Rp 22,4 juta.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, Nur Hartanto menyampaikan bahwa propinsi NTT juga memiliki potensi ekspor komoditas pertanian lainnya.

“NTT memiliki komoditas pertanian unggulan yang juga berpotensi ekspor ke negara lain, namun selama ini dilakukan melalui Surabaya. Ini disebabkan sarana dan prasarana wilayah yang belum memadai, sehingga perlu adanya dukungan propinsi agar dapat lakukan ekspor langsung ke negara tujuan,” ungkapnya.

Disebutkannya komoditas yang miliki potensi ekspor yaitu sarang burung walet, kemiri, biji gewang, biji kopi, biji mete, dan kopra.

Pada 2018, tercatat ekspor komoditas tersebut mencapai Rp 253,90 miliar. Sedangkan pada awal 2019, ekspor dengan komoditas pertanian yang sama telah mencapai Rp 26,96 miliar.

Untuk mendukung kebijakan daerah dalam meningkatan ekspor produk pertanian daerah, Barantan juga lakukan pendampingan kepada para petani milenial maupun eksportir muda.

Wujud pendampingan tersebut melalui program Agrogemilang (Ayo Galakkan Ekspor oleh Generasi Milenial Bangsa).

Program yang bertujuan memberi pelatihan pada petani maupun eksportir, terutama generasi milenial yang akan terjun ke bidang agribisnis ini menitikberatkan pada persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS) yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor.

Selain itu, pendampingan dilakukan untuk menjaga kualitas produk pertanian yang akan diekspor bebas hama dan penyakit.

“Kami akan mendukung program bimbingan perbanyakan sapi bibit dan pengeluaran komoditas pertanian dari NTT ke daerah lainnya,” tambah Nur Hartanto. 

Menurutnya, sebagai salah satu unit pelaksana teknis Badan Karantina Pertanian, BKP Kelas I Kupang bersama Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas II Ende juga lakukan berbagai dukungan.

Upaya ini untuk mendukung NTT menjadi kawasan bebas rabies, dengan memberikan sosialisasi bahaya rabies kepada masyarakat dan vaksinasi rabies oleh SKP Kelas I Ende.

Sedangkan penggunaan program yang mendukung pengusaha, khususnya sapi dalam percepatan pengurusan sertifikasi karantina, jadi agenda upaya dukungan BKP Kelas I Kupang.

Victor Bungtilu Laskodat selaku Gubernur NTT menyambut baik program pemerintah untuk tingkatkan akselerasi ekspor komoditas pertanian khususnya wilayah NTT.

Pihaknya mengaku akan lakukan berbagai upaya untuk mendukung peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, serta perkenalkan produk pertanian asli NTT ke mancanegara. 

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018