Saturday, 13 June 2026


Obituari : Mas Haryanto

04 Feb 2022, 18:01 WIBEditor : Gesha

Bersama istri di Mekkah

Siang itu Mas Haryanto terlihat sedikit lelah, bicaranya seperti biasa, perlahan dan lambat tanpa emosi. Laki-laki yang bersahaja ini memang tidak pernah bergegas. Bicaranya datar, bekerjanya tidak tergesa-gesa. Tetapi apa yang dikerjakannya selalu terjadwal dan selesai. Laptop di mejanya selalu menyala dan menghasilkan sesuatu.

Mas Haryanto tidak pernah bicara meledak-ledak walaupun sedang semangat. Intonasi suaranya tetap terjaga. Satu lagi, saat rapat dia tidak lupa menyempatkan diri mengunyah penganan dari kotak yang tersedia di meja.

Bagi yang mengoleksi 8 ring dalam arterinya, laki-laki asli Indramayu ini tergolong sangat tabah dan tidak pernah terdengar sekali pun mengeluh. Secara rutin, sebulan sekali atau jika terasa perlu, dia periksa kondisi kesehatannya ke rumah sakit. Dan selalu mendapat pelayanan yang baik dan segera walau dengan modal BPJS.

Mas Haryanto memang orang optimis. Isi WA-nya yang terakhir sebelum kepergiannya, waktu dia sedang berada di ICU, yang dikirim ke Mas Kartijo sangat optimis. Tak ada keluhan. "Kalau sudah berhasil cuci darah saya sudah bisa pulang ke rumah," tulisnya.

Sejak pertama sekali terasa sesak nafasnya beberapa tahun yang lalu, Mas Haryanto yang sudah bekerja di Tabloid Sinar Tani sejak tahun 1990 itu langsung dipasang ring. Rupanya penyumbatan arterinya yang sudah hampir 90 persen itu tidak dirasakan benar, atau tepatnya tidak diketahui kalau itu masalah serius, sampai akhirnya sudah dalam kondisi lanjut.

Mas Haryanto adalah orang yang sangat patuh dengan tugas dan pekerjaannya. Dia sejak pertama kali sudah menangani keuangan perusahaan, lalu beralih ke bagian pemasaran dan pengembangan usaha. Itu dilakoninya dengan tanpa masalah dan bisa segera menyesuaikan dengan tugas barunya. Dia orang baik dan jujur, selalu memperhatikan staf yang ada di bawahnya. Pengetahuan keuangan dan IT cukup mumpuni, di atas rata-rata bagi seorang yang bukan lulusan bidang IT.

Tiga hari sebelum masuk ICU Mas Haryanto sempat ngobrol dan bercerita tentang kesehatannya. Dia bilang biasa-biasa saja. Memang dia menanggung banyak penyakit mulai dari darah tinggi, gula dan jantung. Tapi semua itu dijalani dengan hidup yang tidak grasa-grusu dan bekerja tergesa-gesa. "Yang penting selesai," katanya. "Jalan pelan-pelan, kalau terasa sesak berhenti dulu," lanjutnya.

Memang dia salah satu yang paling rajin datang ke kantor walaupun dalam keadaan pandemi yang sedang menggila. Saya sudah peringatkan, kalau bisa dilakukan di rumah, tidak perlu datang ke kantor. Yang mempunyai komorbid sungguh sangat beresiko. Tapi dia tetap datang dan bahkan menyetir mobil sendiri. Saya yakin hidupnya tidak berlebih tapi dia selalu berusaha yang terbaik.

Dia juga mencoba berbagai usaha, mulai dari membuat minuman, sari buah, makanan dan sebagainya. Usahanya masih belum berhasil dengan baik. Banyak sekali kendala selain persaingan yang memang sangat tajam.

Melihat kantornya yang sekarang kosong, masih terbayang dia duduk di sana menghadapi laptop kesayangannya. Lalu begitu adzan bergema, dia ke luar dengan kaki celana digulung, memasuki kamar mandi mengambil air wudhu. Segera turun ke mesjid, mengambil shaf di tengah dan langsung duduk di kursi yang menjadi langganannya. Sudah lama dia terpaksa duduk di kursi kalau sholat.

Satu yang sulit dia hindarkannya memang soal makan. Dia suka makan walaupun akhir-akhir ini sudah sangat berkurang. Orang Indramayu ini suka sekali makan sup Endas Manyung yang berkuah pedas dan telor asin yang memang enak. Kepala ikan Jambal yang entah mengapa namanya menjadi Endas Manyung itu memang istimewa, siapa pun pasti suka, menggeluti daging rahang dan kepala ikan yang gurih. Apalagi ukurannya besar menjulur melebihi ukuran piring yang paling besar sekali pun.

Selamat jalan Mas Haryanto. Perjalanan kita penuh kenangan indah, kita nikmati setiap Tabloid Sinat Tani keluar dari percetakan dan kita membacanya dengan penuh kepuasan. Insyaa Allah, Yang Maha Kuasa menganugerahkan nikmat kubur, yang lapang, yang terang dan dari sana sudah tercium wanginya janah.

Saya bersaksi, Mas Haryanto orang baik, jujur, amanah dan penuh dedikasi dalam melaksanakan tugas selama berkipah di Tabloid Sinar Tani yang kita cintai. Innalillahi wainna ilaihi roojiun. Allohumagfirlaha warhamha waafihi wafuanha.

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018