Jumat, 06 Desember 2019


BPP di Kecamatan Sebagai Pusat Pembangunan Pertanian

08 Nov 2019, 16:08 WIBEditor : Gesha

BPP semakin diarahkan menjadi pusat pembangunan pertanian | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---- Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostra Tani) akan semakin terealisasi di tingkat kecamatan. Pasukannya sendiri terdiri dari penyuluh dan beragam pasukan sinergis lainnya di tingkat kecamatan.

"Berapa bibit yang dibutuhkan disana, apa yang kemungkinan terjadi di satu bulan ke depan, itu bisa kalian jawab. karena di tanganmu ada lebih dari 1000 Professor yang mendukung (data). Itulah yang akan kita bangun dalam bentuk Kostra Tani. Semua akumulasinya ada di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)," ungkap Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat membuka Sosialisasi Kostra Tani di Jakarta, Jumat (8/11).

Mengapa di Kecamatan?, Mentan Syahrul menjawab bahwa dari kecamatan, semua bisa digali dengan baik dan menjadi sumber pengendalian. Mulai dari perencanaan, implementasi, pembelajaran, hingga evaluasi. "Termasuk pemasarannya diatur dari kecamatan," tuturnya.

Bahkan dengan adanya teknologi, pembangunan pertanian di tingkat kecamatan bisa semakin melesat. "Dengan pencitraan satelit dan artificial intelegence yang ada disini, bisa dirumuskan kebijakan by IT, by konsepsi by theori di Komando Strategis itu," tukasnya.

Senada dengan Mentan Syahrul, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Momon Rusmono menuturkan di tingkat kecamatan tidak hanya penyuluh yang akan ada di Kostra Tani. "Semua komponen pembangunan pertanian tingkat kecamatan semua menyatu di Kostra Tani. Ada juga POPT, Poskeswan, Medik dan Paramedik menjadi satu kesatuan," tuturnya.

Momon mengatakan bahwa BPP menjadi posko pembangunan pertanian tingkat kecamatan (Kostra tani). "Jika disana ada Poskeswan, itu menjadi bagian dari Kostra Tani. Pokoknya lembaga lain diluar penyuluhan di tingkat kecamatan menjadi satu kesatuan melalui Kostra Tani," tegasnya.

Sehingga fungsi utama Kostra tani adalah sebagai pusat data tingkat kecamatan. Kemudian sebagai posko, menjadi pusat gerakan pembangunan termasuk pengendali rdm di tingkat kecamatan. "Langkah strategisnya bisa dibentuk PJ gerakan sesuai dengan komoditas yang ada di kecamatan tersebut. Kalau ada masalah serangan hama, penyakit bisa cepat diselesaikan," tambahnya.

Kostra Tani juga menjadi tempat berkumpulnya stakeholder lingkup pertanian di tingkat kecamatan. "Karenanya, rembug tani harus dihidupkan kembali sesuai UU no 16/2006 yaitu BPP sebagai tempat berkumpulnya pemangku kepentingan di tingkat kecamatan , apakah pelaku usaha, pelaku utama bahkan termasuk aparat," tuturnya.

Kostra Tani juga menjadi tempat pelatihan lingkup kecil di tingkat kecamatan. "Menjadi on the Job training, memecahkan msalah langsung di lapangan. Pelatihan menjadi lebih massif jika dilakukan di BPP," tuturnya

Begitupula pelaksanaan denfarm di setiap wilayah BPP yang dilakukan di lahan petani dan dilakukan sendiri oleh petani. "Denfarm lebih bisa dilihat petani. Untuk padi misalnya, buat minimal 500 hektar, penyuluh yang fasilitasi dan jika ini denfarm berjalan dan berhasil, gerakan Kostra Tani ini akan lebih massif," tutur Momon Rusmono.

Massif dan Strategis

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa kecamatan menjadi lokus pembangunan pertanian yang utama. "Kopasusnya adalah penyuluh dalam artian luas sehingga bukan hanya penyuluh pertanian saja, termasuk penyuluh peternakan, POPT, medik, paramedik, dan lain sebagainya," tuturnya.

Setidaknya ada 16 tenaga fungsional, IT, Koramil bahkan Polsek yang akan bersinergi dengan Gerakan Kostra Tani. "Tenaga IT ini bisa dari penyuluh maupun tenaga profesional IT, karena ke depan monitoring pembangunan pertanian akan menggunakan 4.0, internet dan sebagainya. Kita juga akan dibantu oleh TNI, Babinsa termasuk Babinkamtibmas," bebernya.

Lebih lanjut Prof Dedi Nursyamsi menuturkan bahwa adanya gerakan yang masif dan strategis ini dilakukan mulai dari level terkecil di kecamatan. "Di kabupaten akan ada Kostra Daerah (Kostrada), kemudian di tingkat Provinsi berbentuk Kostra Wilayah (Kostrawil). Intinya adalah kerjasama Kementan dengan daerah dari berbagai level," tuturnya.

Di Provinsi misalnya ada UPT Kementan dalam bentuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang bisa saling sinergis dengan Dinas Pertanian Provinsi. Kemudian di tingkat kabupaten ada laison officer (LO) dari BPTP yang bisa kerjasama sepenuhnya dengan dinas pertanian kabupaten.

"Di Kecamatan, BPP kerjasama juga dengan instansi lain dengan Babinsa, dengan Polsek (Babinkamtibmas) bisa juga dengan Kemendesa melalui Pendamping Desa, dan lainnya untuk kerjasama pertanian," tuturnya

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018