Friday, 07 August 2020


Makan Siang Bersama Wartawan, Mentan SYL: Pertanian bukan Pekerjaan Kecil

20 Nov 2019, 15:04 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat makan siang bersama wartawan | Sumber Foto:Dok.Humas Kementan

perlu pendekatan yang komprehensif agar semua aktifitas pembangunan pertanian dapat sesuai dengan kondisi yang ada dan agroklimatnya masing-masing daerah

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengakui sektor pertanian bukanlah pekerjaan kecil dan biasa-biasa. Pertanian adalah masalah besar dan strategis, sehingga perlu konsentrasi dan bergerak bersama dalam mengurusi sektor tersebut.

“Bantu saya dalam membangun pertanian, kita harus bergerak bersama-sama, termasuk dengan media massa. Jadi kalau sebelum sudah bagus, ke depan harus lebih bagus,” kata Syahrul saat berdialog dengan wartawan usai makan siang bersama di kantin Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (20/11).

Menurut Syahrul, pertanian tidak bisa hanya dilihat di Jawa saja, tapi seluruh Indonesia. Karena itu perlu pendekatan yang komprehensif agar semua aktifitas pembangunan pertanian dapat sesuai dengan kondisi yang ada dan agroklimatnya masing-masing daerah.

Untuk itu Syahrul mengungkapkan, pendekatan pertama yang dilakukan adalah aktualisasi data pertanian. Pemahaman terhadap data sangat penting. Dengan banyaknya data yang dipakai, mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini mengakui sempat timbul kecurigaan. “Kita tidak bisa bicara kalau tidak ada data yang benar. Karena itu saya berusaha memfaktualkan data yang ada,” ujarnya.

Upaya memperbaiki data tersebut, salah satunya adalah dengan pendekatan teknologi satelit. Meski tidak 100 persen tepat, menurut Syahrul minimal tingkat kesalahannya sangat kecil dan bisa dimimalisir. Apalagi dengan kemampuan teknologi informasi (IT) yang ada dan tingkat resolusinya tinggi, Syahrul yakin bisa memperbaiki persoalan data pertanian.

“Saya harapkan pada 1 Desember nanti sudah bisa selesaikan data. Kita coba, meski ada yang bilang itu (perbaikan data,red) sulit. Apalagi upaya menyatukan data pertanian sebenarnya bukan hal yang baru,” ujarnya.

Hal lain yang menjadi target Kementerian Pertanian di bawah komando Syahrul adalah pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat Indonesia yang jumlahnya mencapai 360 juta jiwa dan tersebar di ribuan pulau. “Ini semua harus dipersiapkan dengan baik, apalagi tahun ini kita menghadapi kemarau panjang selama enam bulan terakhir,” katanya.

Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan tersebut diakui Syahrul mempengaruhi produksi pangan. Kondisi tersebut harus bisa ditutupi, minimal pada masa tanam Nopember-Desember 2019 ini. “Dengan stok yang masih ada memang masih bisa tutupi. Kita juga bisa melihat kondisi pertanaman dengan pencatatan satelit, seberapa besar panen yang terjadi pada Januari mendatang,” tuturnya.

Syahrul berharap dengan upaya yang telah dilakukan Indonesia tidak akan impor pangan, khususnya beras. Namun demikian ia menilai, impor bukanlah barang haram. “Tidak ada dalam pikiran saya mengutamakan impor. Impor bukan haram, tapi jika sebelumnya kita telah mengupayakan semua kekuatan untuk meningkatkan produksi. Ekspor-impor dalam perdagangan dunia adalah wajar,” tegasnya.

Bahkan Syahrul menegaskan, dirinya justru mendorong agar gerakan ekspor produk pertanian lebih optimal, bahkan bisa naik hingga tiga kali lipat dari saat ini. Misalnya, saat kunjungan ke Jawa Timur dan Jawa Tengah, potensi produk pertanian Indonesia yang bisa diekspor cukup besar. “Saya tidak khawatir bahwa Indonesia tidak bisa bersaing dalam menghadapi kompetisi dalam perdagangan dunia,” ujaranya.

Persoalan lain yang bakal menjadi konsentrasi Syahrul adalah membangun Komando Strategis Pertanian (KOSTRATANI). Nantinya menurut Syahrul semua gerakan pembangunan pertanian berada di Kostratani yang ada di kecamatan. “Bicara pertanian adalah bicara di lapangan, bukan di atas kertas. Di lapangan  kita akan mengetahui langsung masalah yang ada,” katanya.

Untuk memantau gerakan di lapangan, ungkap Syahrul, pihaknya akan membangun AWR (Agriculture War Room). AWR tersebut nantinya menggunakan pencitraan satelit dan artificial intelegent. “Jadi saya bisa melihat semua akktifitas di lapangan hingga ke kecamatan. Petani mau tanam apa, kebutuhan benihnya berapa, hingga ketersediaan alsintan. Bahkan aktifitas penyuluh bisa kita pantau,” katanya seraya berharap dalam 1-2 bulan ke depan AWR sudah bisa berjalan.

Reporter : Julian/TABLOID SINAR TANI
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018