Tuesday, 27 October 2020


Tahun 2020, Bulog Serius Garap Usaha Komersial

03 Dec 2019, 15:34 WIBEditor : Yulianto

Perum Bulog kini lebih serius garap usaha komersial | Sumber Foto:Julian

Selama ini dalam kegiatan operasional, Bulog menggunakan kredit komersial. Jika dana komersial tersebut lebih banyak untuk kegiatan PSO, maka Bulog akan mengalami kerugian.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Berkurangnya peran Perum Bulog dalam kegiatan Public Service Obligationa (PSO) membuat perusahaan pelat merah tersebut kini memperkuat kegiatan komersial pada tahun 2020 mendatang. Jika sebelumnya porsinya 80 persen kegiatan PSO dan 20 persen komersial, maka ke depan porsinya seimbang 50 persen PSO dan 50 persen komersial.

“Kini Bulog melangkah ke komersial, tahun depan paling tidak 50:50. Kalau sekarang baru 20 persen komersialm, sisanya 80 perseb PSO,” tegas Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (3/12).

Ada beberapa bisnis yang kini mulai digarap serius. Apa saja? Pertama ungkap Buwas sapaan akrab mantan Kepala BNN, kegiatan komersialnya membangun e-commerce dengan PangananDotCom. Setidaknya ada 50 jenis beras yang dipasarkan dalam PangananDotCom.

“Dari jumlah itu ada lima produk beras yang masuk peringkat pertinggi laku dibeli konsumen. Ini merupakan wujud kegiatan komersial Bulog berjalan baik,” ujarnya.

Untuk saat ini e-commerce PangananDotCom baru untuk wilayah  Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan  Bekasi (Jabodetabek). Namun ke depan akan dikembangkan  ke suluruh Jawa dan Sumatera (Medan) dan Sulawesi (Makassar). “Pengembangan berikutnya di enam provinsi. Kalau berhasil langkah selanjutnya di seluruh provinsi di Indonesia,” katanya.

Di PangananDotCom, Bulog juga menjual beras medium, sehingga nantinya masyarakat tak kesulitan mendapatkan beras medium. Dengan demikian, masyarakat tak perlu ke toko atau pasar, karena bisa memesan melalui e-commerce.

Kegiatan komersial lainnya ungkap Buwas, Bulog bekerjasama dengan ritel untuk menjual beras medium. Selama ini, pihaknya melihat di pasar ritel hanya menjual beras premium.  

“Bahkan ke depan kegiatan operasi pasar (OP) tidak perlu lagi ke lapangan, karena di ritel sudah ada beras medium Bulog dengan harga murah. Jika pemerintah menetapkan harga beras OP Rp 8.000/kg, kita akan jual di ritel Rp 8.000/kg di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Saat ini jumlah beras yang sudah disalurkan untuk OP sekitar 4.000-5.000 ton, padahal targetnya sebanyak 15.000 ton. “Kalau kita kerjasama dengan ritel, maka target 15 ribu ton akan mudah bisa kita capai,” ujar Buwas.

Kegiatan komersial lainnya yang dilakukan Bulog ungkap Buwas, kerjasama internal antar BUMN yakni Bank BNI dan BRI. Bentuk kerjasamanya yakni mendistribusikan beras tidap bulan untuk karyawan dua bank tersebut.

Mengapa Bulog tak lagi main-main terjun ke komersial? Buwas beralasan, selama ini dalam kegiatan operasional, pihaknya menggunakan kredit komersial. Jika dana komersial tersebut lebih banyak untuk kegiatan PSO, maka Bulog akan mengalami kerugian.

“Kalau dana komersial untuk kegiatan komersial itu sepadan. Evaluasi kita, Bulog akan untung kalau 50:50. Kalau kegiatan komersialnya hanya 20 persen terlalu kecil untuk menutup kegiatan operasional. Jadi Bulog tak lagi berpikir hanya PSO,” ungkapnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018