Sabtu, 14 Desember 2019


Mentan Syahrul Optimis Pertanian Maju Bersama IPB

03 Des 2019, 21:46 WIBEditor : Gesha

Mentan Syahrul Yasin Limpo bersama Rektor IPB University, Arif Satria menghadiri acara Forum Silaturahmi Alumni V IPB di Kementerian Pertanian, Selasa (3/12) | Sumber Foto:Nattasya

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mempererat sinergi dengan berbagai pihak, tak terkecuali dengan kalangan akademisi perguruan tinggi. Salah satunya adalah Institut Pertanian Bogor (IPB University).

"Ini adalah panggilan bangsa  untuk menghadirkan kehidupan rakyat yang lebih baik, maka tidak ada sekat antara Menteri dan IPB. Karena itu, saya harus mengajak bersama-sama dan mengakselerasi untuk keluar dari masalah dan tantangan era. Sebab, pemerintah yang baik mampu hadirkan stakeholder bersama sama," ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam kegiatan Forum Silaturahmi Alumni (FSA) V IPB di Jakarta, Selasa (3/12).

Lebih lanjut Mentan Syahrul menuturkan bahwa Indonesia negara tropis dan menjanjikan pertanian untuk kekuatan bangsa. "Yang kurang apa? Perlu ada manajemen kebersamaan menemukan riset terbaru dan manajemen yang terkawal dengan hati. Kalau gitu sandaran saya ada di IPB," bebernya.

Menurutnya, IPB dan seluruh civitasnya mampu menemukan solusi untuk pertanian. "Saya butuh sainsnya, saya butuh ilmunya untuk perbaiki risetnya (pertanian). Sebab keterampilan, teknologi serta diplomasi dibutuhkan untuk pertanian Indonesia, " tukasnya.

Rektor IPB University, Arif Satria menuturkan pihaknya selalu siap bersinergi dengan Kementan. Apalagi di era disrupsi teknologi dan volatibilitas yang berbeda dengan masa lalu. "Pertanian masa depan adalah yang mengantisipasi perkembangan teknologi. Namun perlu berkolaborasi dan perlu saling percaya serta integritas," tuturnya 

Apalagi, alumni IPB memiliki ciri khusus yaitu integritas dan inovatif. "Keduanya menjadi kata kunci yang dimiliki IPB serta menjadi modal untuk dipercaya dan bangun kolaborasi serta kerjasama untuk menghasilkan karya," tuturnya.

Arif mengakui keberagaman petani dalam merespon teknologi menjadi tantangan tersendiri, karenanya Alumni IPB University hadir menjadi inovator, technopreneur serta sosiopreneur.

"Sehingga inovasi yang dihasilkan oleh  IPB bisa dilakukan di lapangan dalam bentuk hilirisasi  oleh technopreneur dan disaat bersamaan dilakukan pendampingan dalam bentuk sosiopreneur. Tak hanya itu, leadership dalam pertanian juga dibutuhkan. Bukan untuk posisi tertinggi tetapi menjadi orang yang berpengaruh (influencer) bagi petani dan stakeholder pertanian," tutur Arif.

Kaderisasi Pertanian 

Ketua Umum Himpunan Alumni IPB, Fathan Kamil menuturkan bahwa seluruh civitas Alumni IPB bersama Kementan terus menjalankan komitmen sektor pertanian dengan mendorong potensi alumni IPB.

"Seluruh adik-adik kami (alumni IPB) dihadirkan untuk bisa menerima message (pesan) mengenai visi pertanian ke depan. Sebab keberlangsungan pertanian tentunya tidak bisa melupakan kader pertanian itu sendiri. Kami (IPB) hadirkan sebagian besar (alumni)  yang menjadi orang-oramhterbaik di IPB untuk negara ini," bebernya.

Apalagi,  jaringan IPB sudah banyak dikenal dan menjadi bagian penting di Indonesia. "Kita ada kanal (SDM) di birokrasi, profesional, akademisi, politisi serta BUMN. Semua (Kaderisasi) dilakukan secara sistematis dan terus menerus untuk memastikan ketersediaan kader IPB yang  hadir di semua lapisan," tuturnya.

Lebih lanjut Fathan menuturkan untuk mencetak sosok pemimpin dalam sektor pertanian, Alumni IPB sejak tahun lalu sudah meluncurkan Program Mentoring Leader. Program ini menjadi ajang kaderisasi dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing lulusan IPB. 

Menariknya, para mentor dalam program ini merupakan alumni IPB  yang sudah berkontribusi positif bagi bangsa dan negara serta memiliki rekam jejak prestasi di bidangnya masing-masing. Selama setahun, alumni sebagai mentor ini melakukan coaching kepada mentee terpilih yang sebagian besar merupakan mahasiswa akhir di IPB. 

"Proses alih kepemimpinan (kaderisasi) ini jadi penting untuk ke depan. Sehingga, lumbung pangan dunia 2045 bisa tercapai," tutupnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018