Sunday, 05 April 2020


Mentan Syahrul : Perlu Cara Baru untuk Pertanian Indonesia!

25 Feb 2020, 12:02 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan pentingnya cara baru untuk mengolah pertanian | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Tantangan teknologi dewasa ini semakin mempengaruhi pangan, khususnya negara yang berbasis pertanian seperti Indonesia. Karena itu, penguasaan teknologi untuk pertanian sangat penting bagi petani.

"Kita tidak bisa (menggunakan) solusi pertanian dengan cara kemarin. Banyak paradigma-paradigma pertanian yang sudah bergeser dan harus menemukan cara-cara baru. If you not change, you will be die!," ungkap Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dalam Diskusi Publik "Penguasaan dan Pengembangan Inovasi Teknologi untuk Ketahanan Pangan Nasional" di Institut Pertanian Bogor (IPB University), Selasa (25/2).

Mentan Syahrul mencontohkan pengalaman dirinya selama menjadi Kepala Desa hingga Gubernur, dalam memajukan pertanian di wilayahnya menggunakan inovasi teknologi sesuai zamannya.

"Zaman saya Kepala Desa sampai Camat, yang menjadi orientasi kita adalah bagaimana mengolah tanah dengan mendatangkan sapi yang lebih kuat, lebih baik, cara menyisirnya dan cara menanamnya dengan tandur jajar. Itu teknologi yang berguna pada masanya," tuturnya.

Kondisi berbeda ketika menjadi dirinya menjadi Bupati yang mulai menggunakan hand traktor, pupuk organik dan anorganik. Disini mulai meningkatkan produktivitas, mulai menghitung malai-malai yang ada. "Saat menjadi gubernur, menggunakan traktor roda empat yang menyisirnya lebih baik. Menyiramnya dengan menggunakan sprinkle, mengalirkan air dari pintu-pintu air dan menggunakan manajemen air," tambahnya.

Sekarang ini, Pertanian Indonesia berhadapan dengan teknologi yang kian maju. Mentan Syahrul menggarisbawahi beberapa teknologi yang sangat penting untuk kemajuan dan modernisasi pertanian saat ini hingga di masa depan. Mulai dari penginderaan jarak jauh hingga artificial intellegence. "Agar agroklimat bisa kita baca. Hari ini sampai satu bulan ke depan akan hujan atau enggak. Luas area seperti apa?Semua pembacaan dari artificial Intellegence sudah ada," tuturnya.

Termasuk ketersediaan dan kekurangan pupuk dalam satu wilayah. "Tentu saja dengan pendekatan-pendekatan itu bisa menyesuaikan budidaya, riset kita harus tepat," tambahnya.

Mengapa demikian?Mentan Syahrul menuturkan dengan luasan wilayah Indonesia, perlu cara baru. "Pengawasannya pun tidak dilakukan dengan manual, perlu ada pengawasan dengan digital system. Enggak bisa pakai instrumen dan tools kemarin. Kita pakai online sistem, digital sistem, frekuensi sistem, transmitter sistem. Kalau tidak, susah banget mengurai (masalah pertanian negara seperti Indonesia, " tegasnya.

Dukungan Universitas

Mentan Syahrul menegaskan bahwa Institut Pertanian Bogor (IPB University) harus menjadi pemimpin dalam transformasi teknologi ini dalam penyebarluasan ke masyarakat tani. "Keilmuan IPB dan perguruan tinggi menjadi penting dan menyentuh 3 aspek yaitu mindset dengan frame akademik intelektual sesuai tantangan  era dan adaptif era," jelasnya.

Tentunya dengan digital sistem online sistem, frekuensi sistem dan mekanisasi, baik dengan artificial intellegence. "Baik Internet of thinking, by robot system' dan segala macam mapping," tambah Mentan Syahrul. 

Rektor IPB University, Prof Arif Satria pun menanggapi tantangan tersebut dan mencontohkan IPB University tengah mendampingi 53 desa di Jawa Barat yang dicoba untuk transformasi smart farming. 

"Di satu sisi, petani- petani kita (akses) teknologi terbatas. Di sisi lain, teknologi sudah dituntut sesuai teknologi 4.0 sehingga presisi farming dan smart farming harus segera  didorong. Makanya perlu ada jembatan, inilah peran pemerintah, perguruan tinggi dan swasta serta LSM untuk menjembatani transformasi teknologi ini," jelasnya.

Penguatan basis data juga menjadi perhatian dari Kementerian Pertanian yang diapresiasi IPB University dengan adanya Agriculture War Room (AWR). "Pengambilan keputusan yang kuat harus berbasis pada data yang presisi," tegasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018