Friday, 26 February 2021


Kementan Ajak Milenial Pangkas Rantai Tata Niaga

22 Apr 2020, 20:46 WIBEditor : Clara

Momon Rusmono saat Vcon FGD Mengenai Peran Petani di Tenagah Covid-19 | Sumber Foto:Tiara

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kalau berbicara pandemi Covid-19, masalah yang dihadapi pertama adalah kesehatan. Masalah kedua yang yakni pangan. Masalah pangan kalau tidak bisa diselesaikan dengan baik dalam rangka memenuhi kebutuhan 267 juta penduduk Indonesia, akan muncul masalah sosial dan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono pada Focus Group Discussion VCon bertema Meraup Untung Bisnis Pangan Petani Milenial di Tengah Pandemi Covid-19.

Ia menyampaikan pada rapat terbatas antara Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dengan jajaran eselon 1 dan 2, ada tiga poin yang disampaikan. Pertama, Mentan SYL mengajak semua komponen pertanian dari kalangan mana pun harus tetap bekerja keras dan berkomitmen dalam rangka menyediakan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia.

"Kedua, Kita harus menjaga keseimbangan antara supply (penawaran) dan demand (permintaan). Kita harus menjaga bagaimana stabilisasi harga pangan tetap terjaga. Banyak kasus produksi melimpah, harga justru naik. Contoh Senin pagi saya evaluasi data bawang merah di Brebes Rp 26-28 ribu, tapi di pasar retail Jakarta bisa mencapai Rp 52 ribu," cerita Momon.

Juga harga ayam harga sekitar Rp 10 ribuan, tapi harga karkas bisa mencapai Rp 30 ribu. Beras diprediksi produksi pada April-Mei bisa mencapai 11-12 juta ton, tapi harga beras malah cenderung meningkat. "Ini menjaga tugas Kita menjaga supply, demand dan stabilitas harga," tegasnya.

Poin ketiga adalah tidak mungkin pertanian bisa diselesaikan hanya oleh orang pertanian sendiri. Sehingga kerjasama, harmonisasi atau hubungan antar seluruh stakeholder harus berjalan dengan baik. Pemerintah pusat dengan daerah, legislatif baik pusat dengan daerah, tapi yang lebih penting bagaimana hubungan dengan para pelaku utama dan pelaku usaha. "Tingkatkan koordinasi, mari Kita bergandengan tangan menyelesaikan masalah pangan Kita. Tidak hanya dari aspek produksi tapi juga dari aspek harga dan demand," tambah Momon.

Mewakili Mentan SYL, Momon berharap ada beberapa strategi yang dituangkan dalam tiga tahapan. Pertama tahapan jangka pendek yakni amankan produksi, ketersediaan, kebutuhan pangan minimal hingga Agustus.

Strategi kedua, Kita harus menyelesaikan permasalahan dengan pendekatan jangka menengah  yang diperhitungkan hingga Agustus 2021 dari Agustus 2020. Program-program di tingkat petani apakah itu padat karya, bantuan tunai, bantuan sarana produksi sehingga petani bisa tetap melakukan usaha taninya.

Target jangka panjang sesuai yang telah ditetapkan oleh Kementan dalam rangka lima tahun juga harus menjadi skala prioritas. Momon mengajak petani milenial selain berproduksi, berbicara jangka panjang, jangan lupa juga bereorientasi pada ekspor.

Momon juga meminta Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Dedi Nurayamsi untuk mengajak para milenial melaksanakan strategi yang ada, baik  bersifat jangka pendek maupun panjang.

"Poin yang Saya sampaikan tentu merupakan moment yang sangat baik untuk menumbuhkembangkan petani milenial yang berbasis IT," tukasnya.

Kementan menargetkan 2,5 juta petani milenial hingga tahun 2024. Dalam menghadapi pandemi Covid-19 dengan banyak tantangan bisa menjadi sebuah peluang untuk menumbuhkembangkan petani milenial.

"Dengan kondisi yang mengharuskan kita melakukan physical distancing ini menjadi peluang ditumbuhkembangkan start up. Pemasaran melalui pendekatan IT," katanya. Kementan dalam rangka mempermudah konsumen kerjasama dengan GoJeg, Grab, Lazada, Tokopedia, Blibli, SayurBox, dan lainnya. 

Reporter : Tiara
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018