Friday, 05 June 2020


Stok Tinggal 2,5 Bulan, Kementan Ingatkan Importir Bawang Putih

22 May 2020, 22:38 WIBEditor : Yulianto

Stok bawang putih impor tinggal 2,5 bulan | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian kembali meminta kepada pemegang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RPIH) segera merealisasikan importasi bawang putih. Pasalnya, jumlah impor yang masuk sampai 19 Mei 2020 hanya cukup untuk stok 2,5 bulan ke depan.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menegaskan dengan kebutuhan  bawang putih per bulan yang mencapai 46-49 ribu ton, stok saat ini hanya untuk kebutuhan 2,5 bulan. “Jadi kami sampaikan kepada bapak dan ibu yang telah terbit Rekomendasi Impor Produk Hortikultura atau RIPH bawang putih agar segera melakukan importasi dan tidak mengulur waktu. Kita tunjukkan solidaritas nasional dengan turut mengamankan pangan nasional di tengah pandemi Covid-19, salah satunya bawang putih yang cukup,” tegas.

Prihasto menjelaskan, sesuai Permentan 39/2019 bahwa wajib tanam dan wajib berproduksi dilaksanakan setelah RIPH terbit, dan luas tanam, serta berproduksinya sesuai dengan pengajuan volume impor RIPH. Terkait ini, Prihasto meminta agar dilakukan langkah-langkah persiapan mulai dari seleksi calon benih, calon lahan, dan calon petaninya.

Bahkan, pihaknya memberi waktu satu tahun untuk menyelesaikan kewajibannya setelah RIPH terbit. Sebagai contoh, bagi RIPH yang terbit Maret 2020, maka harus menyelesaikan kewajibannya Maret 2021.

Kami juga mengingatkan tidak diperbolehkan tumpang tindih tanam antara satu pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya, lahan milik importir tidak boleh berbarengan dengan APBN,” kata dia.

Bawang Putih Besar

Dalam kesempatan itu, Prihasto memberikan tips cara menghasilkan bawang putih yang berukuran besar. Pertama, petani agar menggunakan benih dari siung yang berukuran besar. Jarak tanamnya 15 cm x 15 cm. Sementara minimum benih yang digunakan 1 ton/ha. Lebih dari 1 ton per hektar juga bagus,” ujarnya.

Faktor kedua adalah pupuk dan air. Gunakan pupuk organik dan pupuk kimia sesuai dosis rekomendasi. Ingat jangan sampai kekurangan air. Kami juga menyarankan menggunakan mesin grading untuk mensortir benih bawang putih berukuran besar dan kecil,” lanjut alumnus Universitas Brawijaya tersebut.

Terakhir dia juga menghimbau kepada seluruh importir yang akan memulai menanam bawang putih agar berhati-hati dengan peredaran benih palsu bawang putih.  Benih palsu adalah bawang putih konsumsi impor dari China yang sudah tumbuh tunasnya. Benih seperti ini, banyak beredar di tahun 2017 dan 2018 yang berujung banyaknya pelaku usaha gagal berproduksi. "Kasihan petaninya," sesalnya.

Selain benih palsu, Prihasto mengingatkan, harus waspada dengan benih oplosan. Biasanya yang terjadi oplosan antara bawang lokal dan bawang impor China. ada juga kasus. sama-sama bawang lokal, tapi dioplos antara yang siap tanam dan belum siap tanam. Kasus ini banyak terjadi di tahun 2017, 2018, semoga 2019 dan 2020 tidak ada,” ungkapnya.

Terakhir Prihasto juga meminta petani dan importir terus berkonsultasi dan berkomunikasi intensif dengan jajaran Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian untuk menghindari kegagalan tanam dan berproduksi. Semoga bawang putih nasional kembali berjaya di negeri sendiri,” katanya berharap.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018