Saturday, 15 August 2020


Bagaimana Rasanya Kalau Membeli Telur Harus Antri?

01 Aug 2020, 09:56 WIBEditor : Ahmad Soim

Telur Ayam | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Bagaimana rasanya kalau membeli telur dibatasi hanya selusin saja? Atau membeli beras harus antri karena pasokan terbatas? Ini adalah cerita ekstrim kelangkaan bahan makanan di masa krisis yang bisa saja dialami sebuah bangsa ketika melupakan pentingnya ketahanan pangan dan sektor pertanian. Ini adalah trauma yang bisa menjadi benih keos yang meruntuhkan kekuatan sebuah bangsa. Itu juga yang menyebabkan kita perlu terus membangun pertanian, mempunyai cadangan pangan yang aman di masa krisis, dan menjadi salah satu alasan mengapa harus membangun yang namanya Food Estate.

Telah berkali-kali terbukti bahwa sektor pertanian Indonesia, yang dicirikan skala usaha kecil, tradisional dan ndeso itu, yang mulai ditinggalkan kaum muda karena tidak memberikan pendapatan memadai, dan dianggap berlari paling lambat dalam perlombaan kemajuan ekonomi antar sektor itu menyelamatkan perekonomian nasional pada saat krisis ekonomi. Para cendikia menyebutnya sebagai katup pengaman. 

Sejarah membuktikan, pertanian selalu hadir dalam perjalanan sebuah bangsa. Perkembangannya tidak meledak-ledak, kalau berkembang dengan laju peningkatan 3.0 persen saja itu sudah cukup lega. Tapi di sektor inilah hampir semua negara menata ekonominya dan menempatkannya sebagai basis sektor industri dan jasa untuk melaju lebih lanjut dengan dengan kecepatan tinggi.  Ketika kegiatan di bidang pangan absen, dan hanya mengandalkan impor, bagi sebuah bangsa dengan populasi manusia besar, krisis pangan akan menjadi masalah nasional yang besar.

Bagi Indonesia, sektor pertanian tetap diandalkan sebagai sektor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, sebagai sumber bahan baku agroindustri dan ekspor penting bagi perekonomian. Tapi di sisi lain, data menunjukkan, pertanian mengalami berbagai kendala dalam produksi, pendapatan petani, dan bahkan penurunan kualitas sumberdaya alam. Pendapatan petani secara relatif semakin tertinggal di banding dengan sektor lain dan penguasaan asset semakin kecil akibat pengalihan lahan produktif untuk fasilitas sosial dan industri yang semakin meningkat.

Perkembangan teknologi dan tekanan pasar global mengakibatkan persaingan semakin tajam, membuat sektor pertanian semakin mendapat tantangan besar. Kondisi ini mengisyaratkan ada urgensi yang tinggi untuk reformasi mendasar pembangunan pertanian Indonesia ke depan. Sasaran pembangunan pertanian harus bergeser dari sasaran fisik ke sasaran kesejahteraan dan kualitas sumberdaya manusia selaras dengan kelestarian sumberdaya alam. 

Ke depan, sasaran pembangunan pertanian harus diarahkan pada pemberdayaan SDM pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani agar setara dengan di sektor lain, dan membangun sistem pertanian yang menjaga kelestarian sumberdaya alam. Hanya dengan cara itu, maka pertanian akan tetap eksis dan berkembang sebagai sektor yang diandalkan untuk mengamankan kecukupan pangan nasional. Pergeseran fokus sasaran pembangunan pertanian dari fisik ke kesejahteraan petani pada gilirannya akan menciptakan insentif bagi petani untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian. 

Dalam era teknologi industri 4.0 di mana teknologi informasi dan komunikasi serta pemanfaatan big data menjadi keniscayaan, bagi pertanian Indonesia peningkatan kemampuan SDM pertanian adalah suatu keharusan. Petani adalah kunci utama yang menentukan keberhasilan pembangunan pertanian, yang harus diberdayakan, ditingkatkan kemampuannya agar secara mandiri berinovasi dan berkreasi sehingga mampu memanfaatkan keunggulan lokalnya dan mampu memenangkan persaingan global. 

Upaya pokok harus diarahkan pada peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani untuk berinisiatif, berinovasi dan berkreasi dalam pertaniannya maupun dalam meningkatkan nilai tambah. Pemberdayaan dan peningkatan kemandirian kenjadi kunci agar petani mampu membesarkan dirinya sendiri, berkreasi mencari solusi. Selain itu, diperlukan upaya khusus untuk meningkatkan kemampuan petani membangun kerjasama sehamparan untuk memperluas skala usaha sehingga dapat mengaplikasikan teknologi dengan baik dan memberantas hama dengan pola PHT dan meningkatkan kemampuan bersaing di pasar global. 

Ancaman perubahan iklim yang semakin nyata telah pula dirasakan sehingga kerusakan tanaman dan hewan akibat kekeringan, kebanjiran, hama dan penyakit semakin kerap terjadi. Kondisi ini harus diantisipasi sejak dini dengan memberikan informasi dan prediksi dengan akurasi tinggi sehingga petani dapat memperoleh informasi penuh sebelum mereka melakukan aktivitas di lapangan. Mitigasi perubahan iklim harus mendapat porsi perhatian utama dengan memanfaatkan teknologi tinggi. Diseminasi informasi ini menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan kepada petani. 

Pengetahuan petani harus terus ditingkatkan melalui penyuluhan yang efektif. Metoda penyuluhan yang telah berhasil pada masa lalu akan tetap dilanjutkan dan disempurnakan, dan bahkan ditingkatkan dengan menggunakan teknologi informasi digital sehingga mempercepat penyampaian teknologi unggul kepada petani. Sistem penyuluhan juga harus memungkinkan terbangunnya arus informasi dua arah sehingga program penelitian dapat diarahkan pada kebutuhan petani di berbagai wilayah. Untuk itu petani seharusnya tidak dibebani dengan berbagai peraturan yang mengekang kreativitasnya. 

Diperlukan cara pandang baru tentang pertanian Indonesia yang mempunyai ciri-ciri spesifik dan unik, yang merupakan keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki pertanian lain di dunia. Sistem pertanian Indonesia harus memanfaatkan konsep multifunctionality of agriculture dengan menampilkan pertanian secara utuh dalam bentuk kegiatan ekonomi lain seperti wisata, olahraga dan gelar budaya dan lain-lain. 

Di atas semua itu, peran pemerintah adalah membangun kelembagaan pelayanan dan kebijakan yang efektif, sinergis, dan dengan prosedur yang jelas dan sederhana sehingga membantu pelaku usahatani mengembangkan usahanya semaksimal mungkin. Bantuan kepada petani, termasuk subsidi sangat penting tetapi perlu dilakukan secara selektif dan dengan model yang baik sehingga tidak menciptakaan ketergantungan, sebaliknya bantuan harus tetap dalam semangat membangun kemandirian. Bantuan dan subsidi yang tidak ditata dengan baik dapat menimbulkan moral hazard dan fraud sehingga bantuan tersebut tidak efektif walaupun dengan mencurahkan anggaran besar. 

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018