Saturday, 23 January 2021


Inilah Lima Cara Bertindak untuk Pembangunan Pertanian 2021

11 Jan 2021, 13:08 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan petani | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kementerian Pertanian (Kementan) mempersiapkan lima cara bertindak (CB) yang akan ditempuh untuk meningkatkan pembangunan pertanian segera di tahun 2021.

Dalam Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian tahun 2021 di Istana Negara, Senin (11/1), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menuturkan arah kebijakan pertanian saat ini adalah maju mandiri dan modern. Arah tersebut menjadi pedoman bertindak cerdas, tepat dan cepat.

"Termasuk mengoptimalkan Sumberdaya yang dimiliki dengan kemandirian nasional dan lokal. Memanfaatkan kekinian teknologi/modernisasi. Mekanisasi dan korporasi hulu hilir pertanian," tambahnya.

Kementerian Pertanian sendiri telah merancang 5 cara bertindak (CB) untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan nilai tambah serta ekspor komoditas pertanian. 

Dimulai dari CB 1 yang merangkum cara bertindak untuk peningkatan kapasitas produksi. Mulai dari pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah dengan target 164.598 hektar yang dilakukan dengan model ekstensifikasi (85.456 hektar) dan intensifikasi (79.142 hektar).

Kemudian perluasan area tanam baru (PATB) untuk padi, jagung, bawang merah, dan cabai di daerah defisit produksi, dengan target luasan 250 ribu hektar. Lalu ada peningkatan produksi gula, daging sapi dan bawang putih untuk mengurangi ketergantungan impor. "Program teknisnya ada pada eselon 1 masing-masing," tuturnya.

Sedangkan pada CB 2, dititik beratkan pada diversifikasi pangan lokal, dimana kebijakan berbasis kearifan lokal yang fokus pada satu komoditas utama. Termasuk produksi dan pemanfaatan pangan lokal secara massif yang terdiri dari ubi kayu (35 ribu hektar), jagung konsumsi (50 ribu hektar), sagu (1.000 hektar), kentang (650 hektar) dan sorgum (5 ribu hektar).

Tak hanya itu, diversifikasi pangan lokal ini juga membidik pemanfaatan pekarangan dan lahan marginal melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan urban farming.

Logistik hingga Ekspor

Tak hanya sektor produksi, Kementan juga membidik bagaimana pangan tersebut bisa didistribusikan bahkan hingga ekspor. Seperti pada CB 3, dimana terjadi penguatan cadangan dan sistem logistik pangan. "Penguatan sistem logistik pangan nasional untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan," tutur SYL.

Dimulai dari Penguatan Cadangan Beras Pemerintah Provinsi (CBPP), Penguatan Cadangan Beras Pemerintah Kabupaten/Kota (CBPK), hingga Dorongan Menteri Pertanian kepada Menteri Dalam Negeri untuk mengakselerasi Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah.

Termasuk, Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) dan LPM Berbasis Desa (LPMDes). LPM bekerjasama dengan Kostraling di setiap lumbung pangan kecamatan.

Penggunaan modernisasi juga wajib dilakukan dengan mewujudkan pertanian modern yang menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing. 

Dimulai dari pengembangan Smart Farming, Pengembangan dan pemanfaatan Screen House  untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam (cabai, bawang dan komoditas bernilai ekonomi tinggi).

Termasuk program super prioritas yaitu food estate yang menggunakan modernisasi untuk peningkatan produksi pangan utama (beras/jagung) di Kalteng. 

Hingga pengembangan korporasi petani. Dimana petani diarahkan masuk dalam model kelembagaan kerja sama ekonomi sekelompok petani dengan orientasi agribisnis melalui konsolidasi lahan menjadi satu hamparan, tetapi dengan tetap menjamin kepemilikan lahan masing-masing petani.

"Dengan korporasi petani, pengelolaan sumber daya bisa lebih optimal karena dilakukan secara lebih terintegrasi, konsisten, dan berkelanjutan sehingga terbentuk usaha yang lebih efisien, efektif dan memiliki standar mutu tinggi mendorong pertumbuhan ekonomi di perdesaan," tuturnya.

Sedangkan pada CB 5, Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian tak hanya mengenjot produksi dalam negeri untuk kebutuhan sendiri tetapi juga masyarakat dunia yang bermuara pada peningkatan devisa negara. Seperti diketahui, Pasar Internasional menyukai produk-produk sub tropis dari Indonesia mulai dari buah-buahan, produk setengah jadi hingga produk jadi dari sektor pertanian.

Karenanya, Kementerian Pertanian melakukan upaya dengan meningkatkan volume ekspor melalui kerjasama dan investasi dengan pemda dan stakeholder terkait. Di sisi lain, penambahan ragam komoditas ekspor dalam bentuk olahan hasil pertanian.

Dari sisi aktor pelaku ekspor, Kementan juga mendorong pertumbuhan eksportir baru melalui penumbuhan agropreneur. Dibesarkan di era digital tentu membuat Agropreneur muda lebih akrab terhadap penggunaan gadget dan internet, sehingga akses untuk memasarkan hasil pertanian di ranah pasar yang lebih luas dapat terjangkau secara optimal.

Dalam memperluas pasar, dilakukan simultan lintas Kementerian/Lembaga dengan menambah mitra dagang luar negeri melalui kerjasama bilateral maupun multilateral.

“Dengan stimulus tersebut, kita harapkan kekhawatiran FAO dapat diminimalisir sekecil mungkin, sehingga dapat memulihkan ekonomi,” kata Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini.

Upaya ini tidak hanya memastikan ketersediaan pangan dan kemudahan aksesnnya di seluruh Tanah Air, namun juga mampu menambah devisa dari kegiatan ekspor produk pertanian dan menjadikannya sebagai roda pembangunan yang terus bertumbuh.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018