Friday, 07 May 2021


DPR Ajak Petani Laksanakan Pertanian Berbasis Semesta

08 Mar 2021, 12:16 WIBEditor : Yulianto

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengajak petani melaksanakan pertanian berbasis semesta yakni pertanian yang meletakan alam sebagai sumber energi. Artinya, petani harus kembali ke alam dengan mengembangkan pertanian organik.

Hal ini disampaikandalam pembukaan Bimbingan Teknis Petani Penyuluh Kabupaten Purwakarta Wilayah Koordinasi Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor di Purwakarta, Kamis (5/3/2021).

Pertanian itu untuk membangun harmoni manusia dengan alam. Jadi  tidak boleh untuk merusak. Sistemnya itu, jadi lahirlah sistem pertanian untuk kesehatan, sistem tata ruang kemudian tata bangunan. Jadi pertanian itu tidak berdiri sendiri dia satu sistem,” ungkap Dedi.

Karena itu, ke depan harus mengarah ke pertanian organik. Sebab, lebih murah karena semuanya sudah tersedia dialam. Pupuk bisa dihasilkan dari kotoran sapi yang dipelihara, yang menjadi tempat bernaung cacing dan mikroorganisme lain dan pemanfaatan jerami.

Penggunaan pupuk organik itu lanjutnya, dapat membuat petani mandiri. Filosofi dasar dari pupuk organik itu adalah petani mampu membuat pupuk sendiri dengan memuliakan unsur kehidupan tanah, mulai dari cacing, belut dan berbagai mikroorganisme di dalamnya.

Pola pertanian organik ini, kata Dedi, meski petani hanya punya lahan sedikit, misalnya seperempat atau setengah hektar, tapi terbukti berhasil membangun kemandirian petani. Apalagi pengalaman ini sudah ditunjukkan orangtua kita dulu.

"Orangtua kita dulu punya sawah hanya seperempat hektar dan sapi tiga ekor, tetapi mampu membangun siklus ekomomi, sehingga anak-anaknya bisa pada sekolah. Padahal waktu itu sekolah tak ada subsidi. Ini yang disebut dengan kemandirian petani," tegasnya.

Menurut mantan Bupati Purwakarta ini, idealnya setiap petani dengan lahan dibawah satu hektar diberi seekor sapi. Sehingga bisa bertani dengan memanfaatkan sapi tersebut terutama untuk pupuk. Dengan demikian meski lahan sedikit petani bisa menghasilkan produksi padi yang sehat.

Dalam kesempatan yang sama  Kepala PPMKP Yusral Tahir menekankan, pendidikan pertanian perlu dikenalkan sejak dini agar kedepan banyak lahir petani muda milenial yang berpikiran lebih modern dalam melaksanakan kegiatan pertaniannya.

Bimtek bagi Petani dan Penyuluh Kabupaten Purwakarta yang fokus pada materi pembuatan pupuk organik sejalan dengan harapan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Diharapkan, petani nantinya bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik saat ini.

SYL mengakui hasil pertanian non pestisida  kualitasnya lebih bagus dan pasarnya bisa lebih besar. Pupuk organik itu makin menguntungkan ke depan. Seharusnya petani memang bisa memproduksi sendiri,” ucapnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP)  Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mengajak penyuluh senantiasa mengingatkan petani memaksimalkan pemakaian pupuk organik untuk meningkatkan kualitas tanaman dan kuantitas hasil panen. 

"Perkembangan teknologi pemupukan berimbang dengan pupuk hayati/organik  bisa dipelajari penyuluh agar petani dan praktisi pertanian mulai mengenal bahkan menjadi pelaku untuk menghasilkan pupuk hayati," ucapnya.

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018