
Strategi pemerintah membangun sistem pangan berkelanjutan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Persoalan indeks ketahanan pangan Indonesia sempat ramai di diperbicangan, termasuk di media massa. Belum lepas dari persoalan tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan impor beras.
Sejauh mana kondisi pangan Indonesia saat ini? Ternyata masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang mesti pemerintah selesaikan. Misalnya, pengusaan lahan pertanian yang sangat kecil, sehingga pertanian tidak efisien. Agroekosistem juga masalah. Apalagi kemudian adanya perubahan iklim.
Pemerintah sebenarnya telah membuat strategi agar pangan Indonesia berkelanjutan. Apalagi dengan kondisi pandemi Covid-19 yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional.
Seperti diungkapkan Deputi Pangan dan Agrobisnis, Kementerian Perekonomian, Dr. Musdalifah Machmud dalam webinar Membangun Sistem Pangan Berkelanjutan yang diselenggarankan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP) bersama Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (10/3).

Menurut Musdalifah, pandemi turut memberikan dampak pada sistem ketahanan panga,n khususnya mendorong perubahan dalam cara penyediaan pangan, bagaimana pangan didistribusikan dan pola konsumsi masyarakat.
“Untuk itu penerapan teknologi dalam sistem produksi, distribusi dan konsumsi menjadi sebuah keharusan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas setiap proses atau tahapan,” katanya.
Sementara itu Wakil Kepala LPPM IPB, Sofyan Shaf mengatakan, untuk menjaga ketahanan pangan, bangsa Indonesia harus kembali ke lokus pertanian yakni dari desa. Karena itu pandemi Covid-19 ini menjadi momentum untuk meningkatkan ketahanan pangan
Menurut Guru Besar IPB ini, saat ini fakta bahwa desa sebagai lokus produksi dan reproduksi pangan, serta pertanian sebagai basis ekonomi rumah tangga yakni 73,14 persen pertanian dan 15,11 persen desa pesisir dari total desa/kelurahan. Sayangnya potensi itu tidak ditatakelola dengan baik oleh pemerintah.
Sebaliknya, fakta impor pangan tidak berhenti. Akibatnya, desa-desa tersebut identik dengan ketertinggalan dan kantong kemiskinan. “Impor pangan makin menguatkan pada rezim perdagangan,” katanya.
Sementara itu pengamat pertanian, Khudori melihat dalam system pangan di Indonesia ada ketidakseimbangan dalam praktik sistem pangan selama ini. Terlihat lebih fokus ke produksi yakni 52 persen, sedangkan aspek konsumsi hanya 9 persen dan waste persen. Bahkan penetrasi budaya makan asing amat intens-agresif.
Padahal menurut Khudori, ketahanan pangan yang tangguh justru berbasis dari konsumsi di keluarga. “Sistem Pangan yang tangguh harus dimulai dari konsumsi (demand side) di level keluarga yang tangguh juga,” ujarnya.
Nah, untuk mengetahui lebih lanjut paparan ketiga narasumber tersebut. Bisa diunduh di file ini.
Bahan Webinar Membangun Sistem Pangan Berkelanjutan
===
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/