Friday, 16 April 2021


Food Estate Berhasil, Potensi Ekspor Beras Kian Terbuka

06 Apr 2021, 15:02 WIBEditor : Julianto

Ekspor beras dari Indonesia semakin terbuka saat food estate berhasil | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Food Estate di Kalimantan Tengah terus digenjot produksinya hingga pertengahan tahun 2021 ini. Jika petani di kawasan ini mampu mengikuti intervensi teknologi dan  transformasi kelembagaan ekonomi petani, potensi untuk mengekspor beras kian terbuka.

Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) telah diamanatkan Presiden Joko Widodo menjadi lumbung pangan (food estate) baru di luar Pulau Jawa. Kawasan lokasi lumbung pangan tersebut berada di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Ir. Priatna Sasmita M.Si. pernah menghitung, jika intervensi teknologi pengelolaan lahan rawa dilakukan dengan baik oleh petani di kawasan food estate, produksi pangan dari kawasan Food Estate di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas bisa memenuhi kebutuhan pangan (beras) se-Provinsi Kalimantan Tengah dan menambah produksi Nasional.

"Dari 164.500 hektar lahan food estate dengan rata-rata 4 ton GKG per hektar saja sudah bisa membukukan 658 ribu ton. Dibandingkan dengan jumlah penduduknya 2,7 juta jiwa dan tingkat konsumsi 110 kg per orangnya yang secara total kebutuhan beras di Kalteng hanya 297 ribu ton saja per tahunnya," jelasnya. 

Hingga tahun 2015, Kalteng mengalami surplus beras yang dapat digunakan untuk tahun berikutnya. Namun dalam kenyataannya, Kalteng masih melakukan pemasokan beras dari berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah, produksi beras di tahun 2019 hanya sebesar 262.123 ton, sedangkan total kebutuhan mencapai 297 ribu ton per tahunnya. Sehingga, untuk menutupi kekurangannya Kalteng mendapatkan pasokan dari Kalimantan Selatan.

Menariknya, tak hanya produksi beras saja yang dibidik di kawasan food estate, industrialisasi berbasis korporasi petani menjadi tujuan utama. "Food estate dikembangkan secara multikomoditas, terintegrasi hulu hilir sehingga tak hanya memberikan produksi, tetapi juga upaya hilirisasi melalui meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk komoditas tani," ungkap Kepala Balitbang Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry M.Si.

Sehingga, petani tak hanya memproduksi gabah saja, tetapi dengan nilai tambah menjadi beras premium sehingga harga berasnya lebih tinggi. "Limbah hasil sampingnya seperti jerami, sekam, menir dan dedak yang bisa dimanfaatkan lanjut," jelasnya. 

Upaya hilirisasi ini tentunya perlu melibatkan kelembagaan yang ada, seperti Gapoktan, Koperasi Petani, Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) bahkan Badan Usaha Milik Petani (BUMP). 

Pengelolaan berbasis korporasi inilah yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo. Seperti yang selalu diungkapkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. "Pengembangan korporasi petani menjadi prioritas agar petani menguasai produksi dan bisnis pertanian dari hulu ke hilir. Petani harus mendapat untung. Petani menjual beras sebagai produk hilir, bukan gabah sebagai produk hulu. Begitu pula produk olahan lainnya dari komoditas pertanian yang ditanam di food estate," jelasnya.

==

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : TABLOID SINARTANI/Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018