Friday, 16 April 2021


Inilah Dua Faktor Kunci Dapatkan Kesejahteraan Petani

06 Apr 2021, 16:39 WIBEditor : Gesha

Petani cabai berharap pemerintah tidak mengeluarkan ijin impor cabai untuk menekan harga yang kini tengah melonjak | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Prof Muhammad Firdaus mengatakan bahwa setidaknya ada dua faktor utama yang akan menentukan berapa besar imbal hasil yang diterima petani. 

"Setidaknya ada dua faktor utama yang akan menentukan berapa besar imbal hasil yang diterima petani. Pertama, produktivitas usahataninya dan harga jual di petani (farm gate). Oleh karena itu, upaya menggenjot produktivitas sekaligus akses pasar yang lebih baik krusial untuk terus dilakukan," beber Prof. Firdaus. 

Dirinya mencontohkan pertanaman monokultur cabai yang dilakukan petani hortikultura.  Jika sesuai rekomendasi teknis pada usahatani cabai, dibutuhkan modal sebesar hampir Rp 120 juta per hektar. Dari angka ini, petani memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp. 20 juta  per bulan per hektar. Ini sudah dihitung untuk enam bulan (cabai merah) atau delapan bulan (cabai rawit), sejak menyiapkan lubang tanam sampai selesai panen. "Umumnya petani dapatkan produktivitas 15 ton per hektar seperti di Tasikmalaya dan Banyuwangi. Tapi, rata-rata di sentra cabai hanya Rp 10 ton per hektar," tuturnya.

Namun, keuntungan tersebut akan bergantung pada harga yang diterima petani (farm gate). Nilai Rp 20 juta per bulan per hektar tersebut bisa diperoleh jika harga jual di petani (farm gate) sebesar Rp 12 ribu  per kg dan harga di tingkat konsumen (retail) Jawa dan luar Jawa berkisar antara Rp 30 sampai 45 ribu per kg.

"Tapi kenyataannya, Harga yang diterima (farm gate) petani cabai pada tiga bulan saat suplai relatif kurang (off-season), biasanya Desember sampai Maret bisa mencapai Rp 50 ribu per kg, namun bisa turun drastis menyentuh di bawah Rp 5 ribu per kg pada saat panen melimpah," ungkapnya.

Karena itu, sebagai upaya peningkatan produktivitas dan untuk mendapatkan hasil yang optimal dari lahan pertanian, langkah sesuai prosedur (good agricultural practices) seharusnya diterapkan. Dimulai dari persiapan lahan. Contohnya pengujian tanah untuk mengetahui kandungan hara, sehingga upaya pemupukan dapat efisien.

Tahap kedua yang menjadi titik kritis adalah penyiapan benih yang akan ditanam. Untuk tanaman seperti cabe, yang sering mengalami ancaman kegagalan karena serangan virus, saat penyemaian, faktor benih sangat menentukan.Peningkatan produktivitas secara serius khususnya pada tanaman cabai menuntut pengeluaran terbesar pada tahap ketiga, yaitu perawatan.

Memasuki tahap akhir yaitu panen dan penanganan pasca panen. Langkah rekomendasi teknis juga masih belum sepenuhnya dilakukan petani. Padahal keseluruhan kegiatan yang seharusnya dilakukan petani sebetulnya sudah terbukti dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Akses Kemitraan

Adanya jaminan dari pihak yang akan menampung hasil produksi merupakan faktor  yang akan menentukan kesejahteraan petani. Selain itu, kemitraan dengan industri dan pasar induk akan memberikan kepastian harga. Penanganan secara baik mulai saat panen sampai sortasi dan membawa produk ke gudang industri tentunya berperan sangat penting. Sehingga harga dasar yang tetap sepanjang tahun akan mensejahterakan petani.

"Tantangan ke depan dalam pelaksanaan kemitraan antara petani dan pasar adalah komitmen kedua belah pihak. Ini adalah kata kunci untuk terus berjalan. Jaminan pasar bagi produk pertanian memang harus terus diupayakan," tambahnya.

Dirinya mencontohkan Petani cabai di Magelang yang menjadi mitra industri selama lebih dari 5 tahun belakangan selalu menerima harga 50 persen di atas harga dasar. Demikian juga dengan pasar induk berjejaring, jika ada kelebihan harga pasar yang sedang berkembang, maka selisih dengan  harga dasar akan dibagi dua untuk petani dan manajemen pasar

Diakuinya, persoalan pertanian memang bersifat kompleks. Namun bukan tidak bisa terselesaikan bahkan bisa menarik bagi milenial jika ada kejelasan harga termasuk terbayang keuntungan. “Dengan hasil hitungan seperti di atas, generasi muda tentu akan secara sukarela akan terjun ke dunia agribisnis tatkala dapat memahami dan mengelola lahan, dengan luasan setengah sampai satu hektar, untuk komoditas bernilai tinggi ternyata akan memberikan imbal hasil jauh lebih tinggi daripada kerja menjadi karyawan kantor di bank atau ASN/PNS,” imbuhnya

 

Reporter : NATTASYA
Sumber : IPB University
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018