
Beras Fortivit Bulog
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Selain peningkatan produksi dan produktivitas pangan dengan membangun Food Estate di beberapa daerah, pemerintah juga berupaya agar masyarakat dapat mengakses pangan dalam jumlah yang cukup dan harga yang terjangkau. Masyarakat juga harus bisa mengakses pangan berkualitas dan aman.
“Fortifikasi beras oleh Perum Bulog adalah salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pangan,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud dalam Webinar “Dari IPB Untuk Indonesia Strategi dan Tatakelola Komoditas Beras Dalam Mendukung Swasembada Pangan”, beberapa waktu lalu.
Beras fortifikasi ini bermanfaat untuk perbaikan gizi masyarakat dan percepatan pencegahan kasus stunting. Pasalnya kandungan vitamin dan gizi dalam beras Fortivit memang cukup tinggi.
Sekarang ini Perum Bulog menyerap produksi beras di beberapa daerah dan mengolahnya menjadi beras fortifikasi yaitu beras sehat yang telah diperkaya dengan vitamin dan mineral yang terdiri dari vitamin A, vitamin B1, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B9 (Asam Folat), vitamin B12, Zat Besi (Iron), dan Zink dengan harga yang terjangkau.
Menurut Musdalifah, fortifikasi pangan sebagai salah satu upaya pemenuhan zat gizi mikro masyarakat merupakan intervensi yang terbukti cost-effective. Hal itu karena fortifikasi dilakukan melalui bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat secara luas terutama penduduk tidak mampu dan biaya yang relatif lebih rendah.
Selain beras fortifikasi, pemerintah telah lebih dulu menginisiasi program fortifikasi minyak goreng bekerja sama dengan produsen minyak goreng nasional. Produsen minyak goreng diwajibkan menambahkan vitamin A pada minyak goreng mulai tahun 2020. “Pemerintah mensyaratkan kadar vitamin A yang terkandung dalam minyak goreng harus 40 IU (satuan vitamin) dan ambang batasnya minimum 20 IU,” katanya.
Selain peningkatan kualitas melalui fortifikasi, Musdalifah mengungkapkan, pemerintah juga menggalakkan upaya diversifikasi pangan lokal. Saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pengembangan diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal yang fokus kepada satu komoditas utama per provinsi. “Diversifikasi pangan difokuskan kepada enam pangan lokal sumber karbohidrat non beras yakni ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang, dan sorgum,” ujarnya.