Thursday, 23 September 2021


Dua Ekonom Senior Apresiasi Pertumbuhan Pertanian

30 Jul 2021, 14:09 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat mengunjungi lokasi pertanaman padi di Bekasi | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pertumbuhan sektor pertanian yang menunjukkan kinerja positif selama pandemi Covid-19 mendapat apresiasi dua ekonom yakni Rizal Ramli dan Emil Salim.

Mantan Menko Ekuin dan Menko Kemaritiman, Dr. Rizal Ramli  menilai, sektor pertanian terbukti mampu membuka peluang kerja bagi jutaan orang yang terdampak PHK. "Saya mendengar ada 3 juta petani baru yang masuk saat pandemi ini,” katanya.

Menurunya, masuknya petani baru menjadi yang luar biasa. Karena itu dirinya percaya sektor pertanian selalu bertahan dari gejolak saat industri lain rontok, hotel payah dan yang lain juga payah. Akhirnya banyak profesional pulang kampung dan mereka jadi petani," ujar Rizal saat webinar Potensi Sektor Pertanian Dalam Mencegah Krisis Ekonomi, Kamis (29/7).

Rizal melihat, kehadiran petani baru merupakan angin segar sekaligus potensi besar bagi Indonesia untuk menciptakan berbagai peluang usaha. Apalagi, mereka (petani muda) dikenal inovatif, kreatif dan punya pengalaman yang cukup panjang. "Mudah-mudah mereka bisa survive karena mereka adalah orang orang berpengalaman," katanya.

Meski demikian, Rizal meminta pemerintah segera membuat strategi besar dalam menjwab berbagai tantangan jaman demi mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat pangan. "Intinya Indonesia harus jadi mangkok pangan Asia. Kenapa? Kita patut bersyukur karena kita memiliki matahari paling lama sepanjang tahun. Kita juga bersyukur rakyat kita ingin bekerja. Nah dalam kaitan ini Indonesia harus bisa jadi mangkok pangan Asia," katanya.

Dalam acara yang sama, mantan Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Emil Salim mengatakan, peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi penting dalam membangun sektor pertanian masa depan. NTP merupakan ukuran berapa biaya masuk dan berapa biaya yang dikeluarkan dari hasil kegiatan olah tanam.

"Fokus Kementan harus meningkatkan kesejahteraan petani melalui NTP diatas 100. Saya melihat NTP perkebunan sudah diatas 130, sehingga menarik untuk berinvestasi. maka tugas kementan adalah menghilangkan hambatan yang menyebabkan tingginya biya bagi petani di lapangan," katanya.

Menurut Prof Emil, pemerintah merupakan instrumen kuat yang masih dipercaya rakyat dalam membela petani. Karena itu, pembelaan itu wajib dubuktikan dengan ketersediaan pupuk dan mendorong pengembangan pupuk organik.

"Siapa yang mau bela petani, kalau bukan Kementan. Maka itu, jika pupuk terlamabat, bisakah kita membuat pupuk sendiri dari kandang. Saya bilang para produsen pangan harus menjdi bintang, terlebih diaaat pandemi Covid 19," katanya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai tukar petani (NTP) pada bulan Juni 2021 mencapai 103,58 atau naik sebesar 0,19 persen (MtoM). Sebelumnya curva NTP pada Okteber 2020 juga naik di atas 100. NTP Oktober mencapai 102,25, kemudian November mencapai 102,86, Desember 103,25, Januari 103,26, Februari 103,10, Maret 103,29, April 102,93 dan Mei tahun ini mencapai 103,29 atau naik sebesar 0,44 persen.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi mengatakan, sektor pertanian selama ini terus melakukan perbaikan menuju pertanian yang maju, mandiri dan modern. Perbaikan itu meliputi sisi hulu maupun hilir. Diantaranya membuka peluang usaha serta akses data bagi petani Indonesia dalam memenihi kebutuhan pupuk.

"Kita sudah melakukan berbagai upaya dimana pertanian selalu menjadi tulang punggung. Misalnya pengadaan pupuk subsidi selalu menjadi kendala serius. Namun alhamdulilah sekarang mulai menunjukan perkembangannya," katanya.

Reporter : Humas dan IP Kementan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018