Sunday, 24 October 2021


Produksi Jagung Cukup, Akademisi IPB Ingatkan Jangan Ada Impor  

21 Sep 2021, 18:12 WIBEditor : Yulianto

Jagung Balitbangtan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Akademisi IPB University, Prima Gandhi menganggap kondisi produksi jagung dalam negeri saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini diperkuat dengan data stok jagung minggu kedua September 2021 sebesar 2,6 juta ton.

"jumlah itu terdapat di Gabungan Pengusaha Makanan Ternak 722 ribu ton, pengepul 744 ribu ton, agen 423 ribu ton, sisanya di eceran, rumahtangga, industri olahan dan usaha lainnya," katanya. 

Data prognosa produksi jagung dengan kadar air 14 persen tahun 2021 sebesar 18,7 juta ton. Sedangkan, kebutuhan untuk pakan, konsumsi dan industri pangan hanya 16,3 juta ton. Karena itu Prima menilai, kondisi jagung dalam negeri aman dan cukup. Jika impor terjadi, lanjut Prima, maka harga jagung dalam negeri akan anjlok.

"Mohon semua menyadari ini. Intinya kita harus menahan tidak ada impor. Pemerintah tidak boleh gagal fokus karena terjadi penurunan harga telur karena pakan mahal, sehingga mendesak untuk impor jagung,” tegas Gandhi.

Gandhi mengatakan, menghadapi situasi peternak ayam harus dengan pemahaman yang teliti dengan mengurai apa masalah utamanya. Kenaikan harga pakan ternak bukan karena faktor ketersediaan jagung dalam negeri, namun harus membedah tata niaga jagung dan pakan ternak.

“Karena itu, mari kita urai dan dianalisis secara tajam dibalik jagung itu ada masalah apa, juga dibalik harga telur anjlok itu sumber masalahnya apa. Ini ada misteri yang terus berulang ulang,” ucapnya.

Gandhi menjelaskan, jika terjadi impor jagung, secara langsung dapat menyebabkan harga jagung dalam negeri terjun bebas, sehingga petani mengalami kerugian dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Karena itu, hal yang utama dan penting untuk dilakukan adalah pengawasan mekanisme pasarnya. "Tolong semua menyadari ini. Petani jagung harus dilindungi dan peternak kecil harus dilindungi juga,” bebernya.

Menurutnya, jagung merupakan tanaman musiman, sementara peternak memerlukan pasokan harian. Sedangkan sentra jagung lokasinya jauh dari sentra ternak. Aspek sistem logistik dan distribusi ini mempengaruhi tata niaga dan rantai pasok jagung.

"Masalah utama yang harus dituntaskan adalah disparitas harga telur,” ujar Gandhi yang juga menilai marjin tata niaga telur dalam negeri tidak efisien. Harga telur di peternak Blitar Rp 14.000/kg, sedangkan harga di pasar atau konsumen lebih dari Rp 19.000/kg. "Ini yang harusnya menjadi fokus dan dibenahi. Potong itu rantai pasok tata niaga, sehingga efisien," tuturnya.

Karena itu Gandhi berharap kedepan harus dicari inovasi komoditas pengganti jagung yang memiliki nilai keekonomian agar kejadian ini tidak berulang setiap tahunnya. Salah satunya perguruan tinggi bisa diajak kerjasama.

 

Reporter : Humas dan IP Kementan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018