Saturday, 23 October 2021


Peluang Kejar Ekspor Tiga Kali Lipat Terbuka Lebar

09 Oct 2021, 15:04 WIBEditor : Yulianto

Webinar Forum Wartawan Pertanian yang menhadirkan Kepala Barantan, Bambang | Sumber Foto:Forwatan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian telah mengibarkan bendera Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) hingga 2024. Target tersebut bukan hal sulit, jika semua pihak bergandeng tangan untuk bisa mencapai target tersebut. Contohnya saat kegiatan Merdeka Ekspor, ternyata dalam waktu enam hari bisa tercapai eskpor sebesar Rp 7,2 triliun.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang mengatakan, pihaknya terus melakukan akselerasi untuk gerakan tiga kali lipat ekspor tersebut. Dukungan akselerasi ekspor tersebut, bukan hanya dari Kementerian Pertanian, tapi juga Kementerian/Lembaga lain. Bahkan peluang untuk mencapai target tersebut sangat besar.

“Kemungkinan mengangkat ekspor sangat besar, terutama bagi pelaku usaha yang sudah melakukan aktivitas, maupun yang baru. Jadi tidak ada alasan pelaku usaha untuk menunda ekspor,” katanya saat Webinar Forwatan, Strategi Pembiyaan Ekspor Pertanian Mendukung Gratieks, Sabtu (9/10).

Salah satu dukungan pemerintah dalam akselerasi ekspor adalah dengan menyediakan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada tahun 2020 dialokasikan sebesar Rp 56 triliun dan tahun 2021 mencapai Rp 71 triliun.

Dengan KUR menurut Bambang memberikan peluang pelaku usaha untuk masuk dalam hilirisasi dan memberikan nilai tambah. Dengan demikian, bukan hanya meningkatkan produktivitas, tapi juga mendongkrak daya saing.

“Kami berharap pelaku usaha berani memanfaatkan dana perbankan tersebut. Usaha pertanian kalau diseriusi akan berhasil. Resiko kegagalan yang menjadi momok sebenaranya tidak sepenuhnya benar, kalau kita serius,” tegasnya.

Peluang lain yang bisa dioptimalkan adalah lahan pertanian yang cukup luas. Saat ini pemerintah membuka kesempatan untuk memanfaatkan lahan perhutanan sosial untuk dibudidayakan tanaman pertanian. “Kami berharap pemerintah daerah ikut mendorong pemanfaatan peluang-peluang tersebut dan menjadi spirit baru bahwa pertanian itu menguntungkan,” tuturnya.

Dengan memanfaatkan peluang tersebut Bambang menilai, tiga kali lipat ekspor pertanian tahun 2024 bukan pekerjaan berat, apalagi semua pihak bersama-sama. Program Gratieks juga berdampak pada perekonomian dan kesejahteraan petani. “Gratieks memberikan berkah bagi kita semua,” tegasnya.

Koordinator Substansi Keamanan hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian, Ihsan Nugroho menambahkan, ada lima startegi Gratieks. Pertama, meningkatan volume ekspor. Meluai ekerjsama dengan pemerintah daerah dan stakeholder untuk melakukan terbosan dan inovasi kebijakan ekspor. Kedua, mendorong pertumbuhan eksportir baru, termasuk agropreneur berorientasi ekspor.

Ketiga, lanjutnya, menambah ragam komoditas ekspor dengan mendorong ekspor dalam bentuk jadi, kerjasama dengan pemerintah daerah dan stakholder menggali potensi daerah (iMace), mendorong tumbuhnya investasi industri agribisnis. Keempat, meningkatkan frekuensi pengiriman melalui percepatan layanan ekspor. Kelima, menambah negara mitra dagang melalui kerjasama dan harmonisasi aturan perkarantinaan, baik bilateral maupun multilateral.

Perkebunan Tumbuh Positif

Sementara itu Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi mengatakan,  meski masih pandemi Covid-19, tapi hampir semua komoditas perkebunan tumbuh positif. Pertumbuhan ekspor dari 2020 dan 2021 (Januari-Juni) untuk volume naik 3,4 persen dan nilai juga naik 44,8 persen. “Kondisi saat ini perkebunan masih menjadi penyumbang terbesar ekspor pertanian,” katanya.

Ditjen Perkebunan telah menetapkan komoditas ekspor dalam tiga bagian. Pertama, komoditas utama yakni kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, vanili, kayu manis, cengkeh dan teh. Kedua komoditas andalan yaitu, sawit dan karet. Ketiga komoditas pengembangan yaitu, nilam, sagu, stevia, pinang, lontar, sereh wangi dan beberapa komoditas lainnya.

Dedi mencontohkan, peluang peningkatan ekspor pada komoditas kopi. Potensi ekspor kopi mencapai Rp 73,79 triliun, sementara capaiannya hanya Rp 13,48 triliun. Artinya ada kehilangan potensi ekspor sebanyak Rp 60,30 triliun. “Karena itu perlu ada perbaikan, misalnya peremajan, maka angka tiga kali lipat tidak sulit,” ujarnya.

Untuk peremajaan tanaman Dedi menghimbau, petani/pekebun bisa memanfaatkan dana KUR. Tahun ini hingga 4 Oktober, KUR perkebunan sudah mencapai Rp 22 triliun atau melebihi target sebesar Rp 20 triliun. Bahkan Dedi memprediksi masih masih bertambah lagi.  Setidaknya ada 17 komoditas yang telah memanfatakan anggaran KUR.

Guna mendukung Gratieks, Dedi menjelaskan, Ditjen Perkebunan telah mencanangkan Grasida (Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing). Dalam program tersebut beberapa kegiatannya yakni, pengembangan logistik perbenihan, peningkatan produkitivitas, peningakatan nilai tambah, daya saing dan ekepor, modernisasi perkebunan, pembiayaan melalui KUR, meningaktakn kapasitas SDM dan optimalisasi jejaring stakeholder.

“Kami juga mendorong investasi baru seperti tanaman stevia di Minahasa. Bahkan Investor Korea siap membangun industri hilir dan bisa diekspor.  Stevia ini potensinya besar untuk pemanis, terutama bagi penderita diabetes,” tuturnya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018