Wednesday, 21 October 2026


Kemendag : Ketersediaan Pangan Ramadhan dan Idul Fitri, Aman

21 Mar 2022, 12:04 WIBEditor : Gesha

Pasar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kementerian Perdagangan (Kemendag) melihat dari ketersediaan pangan selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2022 ini tergolong stabil. Karenanya, dapat dipastikan bahan pangan akan dinilai aman untuk kebutuhan dalam negeri.

"Dari data yang ada, dapat dipastikan bahwa stok komoditi bahan panganutama masih mencukupi baik yang terdapat pada pelaku usaha pangan maupun pasar induk. Hanya dua komoditi yang stoknya di bawah normal yakni cabai merah dan bawang merah,” ujar Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan, dalam Webinar “Antisipasi Ketersediaan Pangan saat Ramadhan dan Idul Fitri,” yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jumat (18/3/2022).

Oke menyalin dari data BPS, terlihat minyak goreng, telur ayam, daging ayam, dan cabai rawit menyumbang deflasi pada Februari 2022, sedangkan inflasi terjadi pada cabai merah dan bawang merah.  Sedangkan pada puasa-Lebaran 2018 (Mei-Juni) bahan makanan yang mengalami inflasi di antaranya, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah, pada puasa-lebaran 2019 (Mei-Juni) inflasi terjadi pada daging ayam, bawang putih, cabai rawit, cabai merah, dan gula pasir. 

Sementara itu pada puasa-lebaran 2020 (April-Mei) inflasi terjadi pada daging sapi, daging ayam dan bawang merah sedangkan pada puasa-lebaran 2021 (Apr-Mei) inflasi terjadi pada daging ayam dan minyak goreng.

Dirinya mengatakan pada Ramadhan-Idul Fitri mendatang, komoditas bahan pokok yang berpotensi menjadi pendorong inflasi di antaranya, kedelai, daging sapi, telur ayam, daging ayam, dan gula pasir. “Namun demikian pemerintah telah melakukan upaya mitigasi untuk keempat bahan pokok tersebut,” ujarnya. 

Oke melanjutkan, pemerintah juga terus melakukan koordinasi dengan perusahaan penggemukan sapi untuk menentukan besaran harga jual sapi hidup pada batas yang wajar. Khususnya pada periode puasa dan lebaran 2022 ini. Selain itu, Kemendag juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk kelancaran distribusi kebutuhan pokok saat puasa dan lebaran nanti.

“Tentunya yang penting adalah meminta dukungan pelaku usaha untuk memenuhi penugasan yang diberikan menjual dengan margin yang wajar dan sesuai dengan ketentuan harga. Serta tidak menahan atau menimbun stok karena tentunya kami akan mengambil tindakan tegas jika terjadi pelanggaran,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Oke menyebutkan bahwa kenaikan harga pangan di dalam negeri tak hanya terjadi di Indonesia. pemulihan pandemi dan iklim geopolitik global menyebabkan kenaikan indeks pangan dunia dan kenaikan komoditas yang bergantung dari impor seperti gandum, daging sapi, dan kedelai. "World Bank, FAO, dan badan-badan dunia lainnya menyatakan harga pangan dunia pada 2022 mengalami kenaikan," ujarnya. 

Tak hanya itu, kenaikan harga pangan dunia juga terjadi karena kenaikan harga angkutan laut, keterbatasan tenaga kerja, kenaikan harga energi dan lainnya. Faktor lainnya karena kenaikan harga pupuk, yang naik 131 persen serta perubahan iklim yang kian nyata terjadi di wilayah Amerika Latin, Kanada, dan Australia. Aspek geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina sebagai negara produsen gandum utama dunia juga mempengaruhi.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018