Monday, 08 August 2022


Kewirausahaan Tani, Solusi Indonesia Keluar Jebakan Middle Income Trap

19 Jul 2022, 11:50 WIBEditor : Gesha

Orasi Guru Besar IPB | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Guru Besar Ilmu Kewirausahaan di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Prof. Rachmat Pambudy, mendorong para petani untuk bertransformasi menjadi seorang wirausahawan pertanian. Hal itu harus dilakukannya agar peluang Indonesia untuk bisa keluar dari jebakan middle income trap (MIT) menjadi semakin besar.

“Indonesia saat ini memang terancam untuk terjebak pada posisi middle income trap, mengingat bahwa sudah 35 tahun Indonesia berada pada kategori lower middle income country (negara berpendapatan menengah kebawah),” ungkapnya saat press conference Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.

Menurutnya, untuk bisa keluar dari posisi middle income trap, mayoritas ahli mengemukakan bahwa pendapatan nasional perkapita Indonesia harus bisa tumbuh di atas 5 persen.

Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Indonesia baru akan bisa keluar dari posisi middle income trap apabila pertumbuhan ekonominya di atas 6 persen antara periode 2013 hingga 2030, sebuah syarat yang belum pernah berhasil dipenuhi. Terlebih dengan adanya pandemi Covid-19 yang telah mengakibatkan ekonomi Indonesia terkontraksi. "Itu sebabnya Indonesia harus bisa menemukan kunci untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi ke level yang dibutuhkan untuk keluar dari jebakan middle income trap. Saya melihat, kunci untuk mendongkrak perekonomian kita adalah kewirausahaan,” ujarnya.

Prof. Rachmat menjabarkan karena Indonesia adalah negara agraris, dimana 29,59 persen masyarakat bekerja dan hidup dari sektor pertanian, maka sektor pertanian merupakan sektor kunci untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Namun, ujar Prof. Rachmat, pertanian tidak bisa begitu saja menjadi motor pertumbuhan ekonomi.

“Para petani kita kan sebagian besar tergolong sebagai petani gurem miskin (low income peasant), sehingga tidak bisa jadi motor pertumbuhan ekonomi. Supaya mereka bisa jadi motor pertumbuhan, pertama-tama kita harus bisa mendorong mereka bertransformasi dari peasant (petani gurem) menjadi farmer (petani), lalu bertransformasi menjadi agripreneur (wiratani), atau wirausaha di bidang agribisnis,” tegas Prof. Rachmat.

Menurut Prof Rachmat, korelasi kuat antara jumlah wirausaha dengan kemajuan suatu negara telah digambarkan oleh berbagai riset. Ia mencontohkan, Zoltan Acs dan László Szerb tahun 2009, menemukan bahwa semakin banyak jumlah wirausaha, maka produktivitas nasional dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat, lapangan kerja menjadi kian luas tersedia, dan kesejahteraan menjadi terdistribusikan ke lebih banyak orang.

“Daya dongkrak ekonomi dari perubahan petani menjadi wiratani ini ternyata sangat besar. Itu sebabnya kebijakan pemerintah kita harus segera diarahkan untuk mengubah petani menjadi wirausaha pertanian. Pertanian tradisional kita harus segera digantikan oleh praktik wirausaha tani,” tutup Wakil Ketua Dewan Pembina Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018