
Annual General Meeting (AGM) CorpLife Indonesia di Jakarta, Kamis (23/2)
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Perubahan iklim menjadi persoalan tersendiri bagi dunia pertanian. Guna menyiasati kondisi iklim yang sulit ditebak, teknologi pertanian modern dapat menjadi solusi meningkatkan ketahanan pangan.
Executive Director CropLife Indonesia, Agung Kurniawan melihat, dalam menghadapi perubahan iklim, Indonesia rentan terhadap bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Karenanya, teknologi pertanian modern dapat menjadi solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Selain itu dalam menghadapi prediksi resesi ekonomi di tahun 2023, adopsi teknologi pertanian modern dapat menjadi solusi meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan. Pada akhirnya dapat membantu memperkuat ekonomi nasional.
“Karena itu, pemerintah, industri serta asosiasi pertanian harus terus mempromosikan adopsi teknologi pertanian modern dan memfasilitasi akses ke teknologi untuk petani di seluruh Indonesia," katanya saat Annual General Meeting (AGM) CorpLife Indonesia di Jakarta, Kamis (23/2). AGM ini sekaligus menjadi pertemuan dengan para pemangku kebijakan dan kepentingan di sektor pertanian.
Agung menjelaskan, bagaimana perjalanan CropLife Indonesia selama 5 tahun terakhir dan langkah CropLife Indonesia ke depan yang akan selalu menjalankan komitmen untuk menciptakan dan mendorong upaya pembangunan pertanian berkelanjutan yang aman, efektif dan efisien di Indonesia.
"CropLife Indonesia hadir untuk mendukung program pemerintah dengan membangun platform yang memungkinkan petani untuk mendapatkan informasi dan pengalaman dalam menggunakan teknologi modern. Sehingga para petani juga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan teknologi tersebut," ujar Agung.
Agung mengatakan, pertukaran informasi yang dilakukan CropLife selalu berbasis keilmuan dan pengembangan riset di skala industri. Dengan demikian, memungkinkan petani untuk bisa mengaplikasikan pertanian yang maju dan modern.
"Di Indonesia, adopsi teknologi pertanian modern menjadi semakin penting mengingat Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian yang masih menjadi tulang punggung ekonomi,” katanya.
Sementara itu Chairman CropLife Indonesia, Kukuh Ambar Waluyo mengatakan, AGM juga untuk evaluasi atas milestone perjalanan kegiatan CropLife Indonesia dalam membangun pertanian berkelanjutan.
“Sebagai asosiasi pertanian tentunya kegiatan yang dilaksanakan CropLife Indonesia tidak lepas dari dukungan, sinergi dan kolaborasi berbagai pihak. Peningkatan kerjasama, kolaborasi dan sinergi dengan multi stakeholder tentu akan membawa pengaruh positif dan membantu percepatan tercapainya pertanian berkelanjutan di Indonesia,” ujar Kukuh saat sambutan pembukaannya.
Kegiatan AGM 2023 Croplife Indonesia dihadiri Dr. Andriko Noto Susanto, SP.,MP., Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan (Badan Pangan Nasional) dan pejabat lintas Kementerian. Diantaranya Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, Badan POM, BSN, BRIN, Bapanas, BSIP dan Bareskrim Polri.
Selain itu, acara ini juga dihadiri mitra kerja yang juga selama ini berkomunikasi erat dengan CropLife Indonesia seperti Dinas Pertanian Kabupaten Brebes, Tim Teknis Komisi Pestisida, Sekretariat Komisi Keamanan Hayati Indonesia, Balai Besar Penelitian, Assosiasi CropCare Indonesia, Alishter, MP2RT, ABI, Apropi, Asbenindo, KTNA serta USDA.
CropLife Indonesia juga menginisiasi diskusi multi pihak dalam upaya membangun pertanian yang maju, mandiri dan berkelanjutan melalui kegiatan talkshow. Pembicara kunci, Dr. Tan Siang Hee (Executive Director CropLife Asia) mengatakan, salah satu solusi menjawab tantangan pertanian adalah adaptasi teknologi modern.
Dalam talkshow bertema, “Perjalanan Transformasi Pertanian Berkelanjutan dan Maju Melalui Adopsi Teknologi Modern” menghadirkan, Asisten Deputi Prasarana dan Sarana Pertanian/Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Ismariny.
Hadir juga, Direktur Pupuk dan Pestisida, Kementerian Pertanian, Tommy Nugraha; Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Badan Pangan Nasional, Yusra Egayanti, dan Ketua Komisi Keamanan Hayati, Bambang Prasetya.
Dalam sesi talkshow, keempat pembicara sepakat bahwa teknologi pertanian modern seperti aplikasi Good Agricultural Practices (GAP) serta pemanfaatan benih bioteknologi dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian.
Namun, petani seringkali kesulitan untuk mengakses teknologi ini karena biayanya yang tinggi dan kurangnya akses ke informasi dan sumber daya. Untuk itu, peran pemerintah sangat penting untuk membantu petani dalam mengakses teknologi modern yang bisa membantu mereka meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi.
Pemerintah juga dapat melakukan berbagai kerjasama dengan asosiasi dan industri untuk mengadakan pelatihan dan dukungan bagi petani, khususnya memanfaatkan teknologi pertanian modern.