Senin, 17 Juni 2024


Kerja Mentan Amran Hanya Setahun, Pengamat : Jangan Berambisi yang Sulit Dicapai

25 Okt 2023, 15:56 WIBEditor : Gesha

amran | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Menteri Pertanian kini dijabat Andi Amran Sulaiman usai dilantik Presiden Jokowi, Rabu (25/10). Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori mengatakan banyak pekerjaan rumah yang harus mendapatkan perhatian serius Mentan Amran. 

"Selamat kepada Pak Amran Sulaiman atas amanah baru yang diberikan oleh Presiden Jokowi. Ini kali kedua Pak Amran menduduki posisi Menteri Pertanian. Karena itu, Pak Amran sudah tahu 'jeroan' Kementan dengan segenap potensi dan permasalahannya," ungkap Khudori ketika dihubungi Tabloid Sinar Tani, Rabu (25/10).

Khudori menambahkan, di sisa waktu yang hampir setahun tentu tidak bisa berharap banyak kepada Mentan Amran. Sebab, sektor pertanian itu sektor yang multidimensi, multisektor, dan multiaktor. "Tidak bisa Kementan mentang-mentang sendiri," tambahnya.

Bahkan Khudori mengkritisi agar Mentan Amran jangan terlalu berambisi membuat terobosan-terobosan baru yang relatif sulit dicapai atau membuat langkah- langkah yang potensial memantik kontroversi dan masalah seperti 5 tahun (2014-2019). "Lebih baik beliau memanfaatkan sisa waktu setahun ini untuk membangun fondasi yang baik bagi pemerintahan ke depan," tuturnya.

Karena itu, di sisa waktu sampai 19 Oktober 2024, kunci yang penting untuk beliau perankan adalah bersinergi dan berkolaborasi. Untuk bisa mencapai itu koordinasi menjadi kata kunci.

"Apa yang dilakukan Plt Mentan, Pak Arief Prasetyo Adi, dalam beberapa hari menjawab sepatutnya diteruskan. Pak Arief mencoba membangun ekosistem yang memungkinkan pembangunan pertanian bisa diorkestrasi dengan menciptakan kolaborasi," jelasnya. 

Khudori mencontohkan, kerja sama dengan BRIN dalam pemanfaatan aset institusi riset dan litbang setelah aktivitas litbang dialihkan ke BRIN. "Aset-aset itu tidak termanfaatkan optimal karena ketika penelitia beralih jadi pegawai BRIN asetnya tidak ikut dibawa. Di sisi lain, infrastruktur riset di BRIN terbatas," jelasnya.

Khudori juga menyampaikan, hal lain yang perlu diteruskan, dikuatkan, dan dipastikan dieksekusi di lapangan adalah langkah quick wins peningkatan produksi beras jadi 35 juta ton pada tahun depan.

"Pak Arief sudah menurunkan quick wins itu dalam 9 langkah yang detail. Mulai pendetailan peningakatan produktivitas dari 5,2 ton/ha jadi 5,5-5,7 ton/ha, memastikan asuransi pertanian, pendetailan pemanfaatan alsintan yang sudah ada, pendetailan 26 ribu outlet pupuk (subsidi dan komersial), memastikan eksekusi oleh daerah, reward kepada daerah (provinsi/kab/kota) yang berhasil mencapai target, penetapan penanggung jawab wilayah hingga optimalisasi peran penyuluh," bebernya.

Khudori mengungkapkan, sebagai pangan utama, beras tentunya menjadi akan menjadi fokus strategis dari Mentan Amran. Selain karena partisipasi konsumsi semua warga dari Sabang sampai Serui nyaris sempurna 100 persen, dalam beberapa tahun terakhir produksi konsisten menurun. Produksi menurun karena luas panen menurun. 

Di sisi lain konsumsi terus naik. Akibatnya, surplus produksi tahun juga terus menurun. Pada 2018, surplus beras mencapai 4,37 juta ton, menurun jadi 2,38 juta ton pada 2019, turun lagi jadi 2,13 juta ton pada 2020, dan tinggal 1,3 juta ton di 2021 dan 2022. 

"Anomali iklim/cuaca, degradasi kualitas lahan dan air serta kapasitas petani yang tua membuat kontinuitas produksi menghadapi masalah serius. Apalagi, setidaknya dalam 5 tahun terakhir, ada kecenderungan emoh (tidak mau) menanam padi di kalangan petani," tegasnya.

Gejala tersebut terlihat dari beberapa gejala menurut Khudori. Pertama, luas panen padi menurun: dari 11,378 juta ha pada 2018 jadi 10, 549 juta ha pada 2022. Dalam 5 tahun luas panen turun 829 ribu ha. 

Kedua, luas sawah yang ditanami non-padi juga terus naik: dari 14.994 hektare pada 2019 jadi 18.311 hektare pada 2021. Tanpa banyak disadari, di lahan sawah seluas 7,4 juta hektare saat ini telah berkompetisi aneka tanaman pangan, yang paling utama tentu padi, jagung, kedelai, dan tebu.

"Mengapa kian banyak petani emoh menanam padi? Dugaan saya karena usatahani ini tidak lagi menarik dari sisi ekonomi. Ini perlu dipastikan dan dicamkan oleh Pak Mentan baru," tukasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018