Sabtu, 24 Februari 2024


Mentan Amran: Data Mahfud MD dan Cak Imin Perlu Dikoreksi

23 Jan 2024, 08:49 WIBEditor : Gesha

Mentan, Andi Amran Sulaiman ingatkan panitia pengadaan | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Mentan Amran menyoroti data Mahfud MD dan Cak Imin, menekankan perlunya koreksi untuk memastikan keakuratan informasi.

Mentan Amran Sulaiman memberikan sorotan terhadap data dalam Debat Cawapres (21/1/2024), menekankan perlunya klarifikasi atas beberapa informasi terkait pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, lingkungan, energi, pangan, agraria, dan masyarakat adat serta desa.

"Kami menyayangkan beberapa data tidak di kroscek secara detil yang kami khawatirkan bisa menyebabkan disinformasi di masyarakat," tegas Mentan Amran dalam keterangan tertulis, Senin (22/1/2024). 

Amran kritis terhadap Mahfud MD yang menyebut jumlah petani berkurang sementara subsidi pupuk meningkat.

Menurutnya, fokus tahun 2024 adalah mengubah pertanian tradisional ke modern, dengan penggunaan alat mesin seperti rice transplanter dan combine harvester untuk meningkatkan efisiensi.

"Gagasan besarnya bertujuan menekan biaya produksi 50-60%, meningkatkan produktifitas 20-30%, planting index 1-2, peningkatan mutu, mengurangi looses, dan petani mampu bertransformasi ke sektor pertanian lainnya seperti pembibitan, perbengkelan, RMU dan dryer," katanya.

Mengenai Pupuk, Mentan Amran mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, subsidi pupuk justru mengalami penurunan nilai dan volume akibat penurunan nilai subsidi dan kenaikan harga bahan baku.

Dirinya menjabarkan, Sejak 2019, alokasi subsidi pupuk Indonesia turun dari Rp34,1 triliun menjadi Rp25,3 triliun pada 2023, dengan volume rata-rata 9 juta ton yang menurun menjadi 6,1 juta ton pada tahun yang sama. Saat ini, kemampuan subsidi pemerintah hanya mencapai 4,7 juta ton pada tahun 2024.

Menurut Amran, kenaikan harga bahan baku seperti DAP (Diamonium Fosfat) sebesar 76,95?n pupuk urea naik hingga 235,85% menjadi pemicu penurunan subsidi pupuk.

Penurunan Petani

Terkait sorotan Cak Imin terhadap penurunan jumlah petani, Amran menilai hal tersebut tidak tepat. "Data Sensus Pertanian 2023 yang menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) mampu meningkat 8,74 persen," sebutnya.

Amran menjelaskan bahwa penurunan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sebesar 7,45 persen lebih disebabkan oleh efisiensi dalam pertanian, terutama melalui peningkatan penggunaan alat dan mesin pertanian.

Ini menandakan suksesnya transformasi dari pertanian tradisional ke modern, dengan mekanisasi berhasil meningkatkan efisiensi waktu pengolahan lahan hingga 97,4 persen.

"Sebagai contoh, dulu bertanam butuh 20 orang untuk 1 hektar, kini cukup satu orang selama 5 jam. Begitu pula panen dengan combine harvester cukup 2 orang per hektar selama 4 jam. Ini sangat efisien," tukas Amran.

Dia menyampaikan bahwa tingkat mekanisasi pertanian Indonesia terus meningkat. Pada 2015, hanya 0,5 Horse Power (HP) per hektar, namun pada 2018 meningkat menjadi 1,68 HP per hektare.

Pada tahun 2021, mencapai 2,1 HP, dan diprediksi akan mencapai sekitar 3,5 HP per hektare pada tahun ini. Pemerintah memiliki target untuk menyamai tingkat mekanisasi pertanian dengan negara seperti Jepang dan Taiwan.

Lebih lanjut Mentan Amran membeberkan, menurut data BPS dari Sensus Pertanian 2023, jumlah Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPB) meningkat sebesar 35,54 persen.

Selain itu, jumlah petani milenial usia 19-39 tahun juga mengalami peningkatan menjadi 6,183,009 orang, mencakup sekitar 21,93 persen dari total petani Indonesia.

Amran menambahkan bahwa jumlah petani milenial saat ini mencapai 16,78 juta orang menurut data BPS terkini, dan diprediksi akan terus bertambah.

"Pemerintah terus mendorong regenerasi petani, dan berbagai program yang diterapkan terbukti memberikan dampak positif," tandasnya.

Reporter : Nattasya
Sumber : Kementan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018