Kamis, 18 Juli 2024


Pemberdayaan Petani Perempuan, Investasi Masa Depan Sektor Pertanian

09 Mar 2024, 16:03 WIBEditor : Herman

Peringatan Hari Perempuan Internasional | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Peringati Hari Perempuan Internasional 2024, pemangku kepentingan di sektor pertanian Indonesia bertemu di Jakarta (7/3) dalam kegiatan seminar bisnis "Meraih Peluang Bisnis melalui Penguatan Peran Perempuan di Sektor Pertanian”.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara PRISMA - kemitraan Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia untuk pertumbuhan pasar pertanian di Indonesia – dengan PISAgro - kemitraan bisnis untuk pertanian berkelanjutan di Indonesia.

"Dengan berinvestasi pada perempuan, kita berinvestasi pada masa depan pertanian," kata Ketua Women Empowerment Working Group PISAgro sekaligus Head of Government & Industry Affairs - ASEAN di Corteva Agriscience, Prelia Moenandar.

Dia mengatakan bahwa pemberdayaan perempuan dalam pertanian bukan hanya tentang keadilan tetapi juga merupakan keharusan strategis untuk pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan lingkungan.

“Di Corteva dan di antara anggota-anggota PISAgro, kami sangat percaya pada kekuatan pemberdayaan perempuan di pertanian. Partisipasi kami dalam inisiatif seperti Women Empowerment Working Group menggarisbawahi komitmen ini. Kami percaya bahwa pemberdayaan perempuan di pertanian bukan hanya masalah keadilan atau kesetaraan, ini adalah keharusan strategis untuk pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan lingkungan." tambahnya.

Menurut Prelia, pelibatan perempuan dalam semua aspek pembangunan pertanian membuka peluang yang belum tergali untuk bisnis sehingga mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, dan mengarah pada praktik yang lebih berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Maesti Mardiharini dari mengatakan bahwa perempuan berperan penting dalam pertanian.

"Perempuan merepresentasikan 24?ri keseluruhan petani Indonesia dan terlibat penuh dalam rantai nilai pertanian, mulai dari pembibitan, penanaman, pemanenan, hingga kegiatan pasca panen," ungkapnya.

Dr. Maesti menambahkan, masih ada peluang untuk meningkatkan produktivitas perempuan.

"Petani perempuan tidak memiliki akses yang sama dengan laki-laki terhadap produk, layanan, dan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas. Jika memiliki akses yang setera, petani peremuan dapat meningkatkan keterampilan sehingga akan meningkatkan produksi pertanian juga," jelas Dr. Mardiharini.

Lebih lanjut Dr. Maesti juga mengungkapkan bahwa peningkatan produksi jelas membuka peluang untuk memberi nilai tambah pada produk dan memperluas jangkauan pasar, sehingga dapat menghadirkan peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan investasi mereka dalam kegiatan pertanian.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (2011), akses yang setara antara petani laki-laki dan perempuan dapat meningkatkan hasil pertanian sebesar 20-30 persen, sehingga meningkatkan produksi pertanian nasional sebesar 2,5-4,0 persen.

Sementara itu CEO PRISMA, Mohasin Kabir memaparkan bahwa program kemitraan bilateral ini membantu pelaku agrobisnis beradaptasi dan menjangkau lebih banyak petani perempuan.

"Pengalaman kami dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa pendekatan business as usual di mana laki-laki menjadi target utama untuk kegiatan penjualan dan pemasaran, tidak lagi efektif. Kami membantu mitra bisnis kami meraih peluang komersial dengan berinvestasi pada petani perempuan dengan mengubah pendekatan” ungkapnya.

Pendekatan baru ini termasuk mengadakan pertemuan kelompok tani pada waktu dan lokasi yang sesuai dengan kondisi perempuan,  mendorong partisipasi aktif perempuan dalam pertemuan dan mengadakan pertemuan khusus untuk kelompok perempuan

“Survei yang dilakukan terhadap mitra-mitra bisnis kami menunjukkan bahwa 58% responden perempuan mengalami peningkatan pendapatan setelah mendapatkan akses yang lebih baik kepada produk dan jasa pertanian." Ujarnya.

Pada kegiatan ini, hadir pula perwakilan petani perempuan yakni Sisilia dari Manado. Petani kakao perempuan dari PT Mars Symbioscience tersebut mengatakan bahwa petani perempuan membutuhkan akses pendidikan dan pelatihan agar dapat meningkatkan keterampilan sehingga dapat mandiri secara finansial dan meningkatkan kualitas hidup keluarga.

la merefleksikan pekerjaannya sebagai petani kakao yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran di setiap proses, mulai dari pengembangan kebun hingga perawatan pohon kakao. Namun ia melihat tantangan tersebut sebagai kesempatan untuk tumbuh dan belajar.

"Kita harus menjadi panutan yang memberikan dorongan positif bagi petani perempuan lain e" untuk terus maju dan berkembang." Pesan Sisilia.

Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto menyambut baik upaya pemberdayaan perempuan di sektor pertanian.

"Pengarusutamaan dan kesetaraan gender merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dalam mencapai Indonesia Emas 2045," ungkanya.

la meyakini bahwa sektor swasta memiliki dampak signifikan dalam mendukung peningkatan peran perempuan melalui pengikutsertaan dan pelibatan. Hal ini kemudian akan memperkuat perekonomian di sektor pertanian.

"Saya berharap acara hari ini mampu memberikan kiat dan wawasan praktis kepada pelaku usaha tentang cara berkolaborasi dengan lebih banyak petani perempuan, yang sejatinya dapat memperluas peluang bisnis," ujarnya. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018