Jumat, 12 Juli 2024


Kementan Temukan Akar Masalah Produksi Padi yang Tidak Optimal

14 Mar 2024, 05:27 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kanan) bersama Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat beberapa alasan mengapa produksi padi dalam negeri tidak mencapai potensi maksimal, salah satunya adalah berkurangnya luas area pertanian yang digunakan untuk menanam padi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), luas area pertanian yang ditanami padi selama musim tanam 2024 mengalami penurunan signifikan sebesar 1,9 juta hektar atau 26,2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen Jakarta, Rabu, Amran mengungkapkan, data BPS menunjukkan bahwa luas area pertanian yang ditanami padi selama musim tanam 2024 mengalami penurunan sebesar 1,9 juta hektar atau 26,2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Amran menjelaskan, penurunan luas area tanam disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan volume pupuk bersubsidi sebesar 4,7 juta ton atau 70 persen dari alokasi tahun sebelumnya.

Selain itu, tidak semua petani mendapatkan akses pupuk, dan fenomena alam seperti El Nino juga ikut berkontribusi pada penurunan produksi padi.

"Tidak semua petani mendapatkan akses pupuk, contohnya lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) 30 juta orang tidak boleh menerima pupuk, serta dampak perubahan iklim El Nino atau disrupsi perubahan iklim yang menyebabkan produksi turun sebesar 30 persen," ungkap Amran.

Meskipun demikian, Kementan memastikan bahwa stok beras untuk periode Maret hingga Mei 2024 dalam kondisi aman, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan pangan selama Ramadhan dan Idul Fitri 1445 Hijriah.

Namun, Amran menambahkan, kekhawatiran muncul terkait produksi pada periode Juni hingga Oktober 2024 karena luas area tanam padi lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

“Selain itu kondisi harga beras naik kurang lebih 56 persen akibat dampak El Nino sehingga kami menganggap kondisi ini merupakan darurat pangan yang harus segera dicarikan solusi,” tutur Amran.

Solusi Kementan

Menteri Pertanian menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut, Kementan telah merumuskan beberapa solusi cepat, termasuk mengembalikan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton dan memperluas areal tanam dengan pompanisasi air sungai di beberapa provinsi.

"Kami juga memperluas areal tanam dengan pompanisasi air sungai di 11 provinsi untuk lahan sawah, dengan 500 ribu hektar di Pulau Jawa dan 500 ribu hektar di luar Pulau Jawa, jika memungkinkan," jelas Amran.

Selain itu, Kementan juga mengoptimalkan lahan rawa dan mengusulkan tambahan anggaran belanja sebesar Rp5,8 triliun pada tahun 2024 untuk meningkatkan produksi padi di seluruh Indonesia.

"Kami melakukan optimasi lahan rawa seluas 400 ribu hektar di 10 provinsi untuk menambah luas area pertanaman padi," kata Amran.

Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan anggaran sebesar Rp7,74 triliun yang diarahkan dari pagu APBN 2024 untuk meningkatkan produksi tanaman padi dan jagung guna mencapai swasembada pangan.

Amran berharap langkah-langkah tersebut dapat membantu mencapai target peningkatan produksi padi sebesar 32 juta ton pada tahun 2024 dan mengatasi kondisi darurat pangan akibat dampak fenomena alam El Nino.

Mendengar solusi dari Mentan Amran, Ketua Komisi IV DPR RI Sudin meminta Kementerian Keuangan untuk segera mengembalikan alokasi pupuk subsidi menjadi 9,55 juta ton.

Namun, Sudin juga menekankan perlunya pengawasan ketat dalam penyaluran dan distribusi pupuk untuk mencegah terjadinya tindak pidana atau penyelewengan.

"Komisi IV menyetujui dan meminta Kementerian Keuangan melalui Kementan untuk mengembalikan alokasi pupuk subsidi menjadi 9,55 juta ton dengan catatan bahwa pengawasan dalam penyaluran dan pendistribusiannya harus ditingkatkan sehingga tidak terjadi penyelewengan," jelasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018