
Sebelum menjadi SInar Tani, nama awal tabloid ini adalah SInar Djaja
TABLOIDSINATANI.COM, Jakarta---Sebagai sebuah media massa khusus yang mengupas informasi pertanian, Tabloid Sinar Tani telah menempuh perjalanan panjang selama 54 tahun. Ibarat roda yang berputar, kadang berada di atas, kadang juga di bawah.
Kondisi tersebut menjadi sebuah pelajaran berharga bagi manajemen Tabloid Sinar Tani. Apalagi ketika wabah Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, membuat banyak mitra Sinar Tani menurunkan belanja iklan. Tak terkecuali penurunan anggaran Kementerian Pertanian yang sangat berpengaruh terhadap alokasi pelanggan untuk Tabloid Sinar Tani.
Sejalan dengan kondisi tersebut, kemudian bermunculan media on line yang menjadi tantangan tersendiri bagi Tabloid Sinar Tani. Alhamdulillah, hingga kini Tabloid Sinar Tani masih tetap bertahan menemani pembaca, khusus petani dan penyuluh pertanian.
Selain media massa online yang tumbuh pesat, media sosial juga bermunculan dalam menginformasikan dunia pertanian. Namun demikian, ternyata di lapangan masih banyak pembaca, khususnya penyuluh pertanian yang menunggu kehadiran media cetak Tabloid Sinar Tani. Mereka percaya, tabloid ini banyak memberikan informasi yang valid seputar dunia pertanian.
Antonius J Supit
Banyak asa kepada Tabloid Sinar Tani. Seperti Komisaris Utama PT. Sreya Seu Indonesia, Antonius Joenoes Supit yang berharap, usia ke-54 Tabloid Sinar Tani menjadi usia matang bagi sebuah media massa. “Ibarat orang usia 54 tahun adalah usia yang matang. Dengan perjalanan Sinar Tani sudah banyak prestasi yang telah dicapai,” katanya.

Namun demikian, Anton Supit mengingatkan, tantangan ke depan yang akan dihadapi juga kian besar. Berdasarkan data BPS, jumlah angkatan kerja di Indonesia akan mencapai 138 juta jiwa dan hampir 30 persen berada di sektor pertanian.
“Kalau ingin memberdayakan ekonomi dan daya beli, maka sektor pertanian harus digenjot. Ini tantangan di era globalisasi dengan kemajuan teknologi digitalisasi,” tuturnya.
Dengan kondisi tersebut menurut Anton Supit, tentunya Tabloid Sinar Tani sebagai media pertanian akan sangat dibutuhkan. Untuk itu ia berharap Sinar Tani harus bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi tersebut. Khususnya mendorong keberpihakan terhadap beberapa hal.
Pertama, kesejahteraan petani dan mendorong peningkatan produktivitas pertanian. Jika produktivitas meningkat otomatis, kesejahteraan petani pun membaik. “Jadi persoalannya bagaimana berita mengenai teknologi pertanian ini bisa sampai ke petani untuk membantu meningkatkan produktivitas,” katanya.
Anton Supit mencontohkan budidaya jagung. Saat ini, produktivitas jagung yang ditanam petani hanya sekitar 4 ton/ha. Padahal di Turki, produktivitas jagung bisa mencapai 10 ton/ha. “Kenaikan ini karena teknologi. Kalau kita ingin sejahterakan petani, caranya dengan menerapkan teknologi, benih dan pupuk juga,” katanya.
Contoh kedua, kondisi yang dialami petani karet. Saat ini banyak tanaman karet milik petani yang terserang hama gugur daun yang belum terselesaikan. Di sisi lain, petani kopi tengah menikmati harga yang baik dengan naiknya permintaan dunia. Bahkan pembeli tidak lagi melihat kualitas kopi, apakah baik atau kurang baik. “Tapi harus diantisipasi akan timbulkan masalah ke depan. Kalau permintaan mulai turun, pasti pembeli akan melihat dan menyeleksi kualitas kopi,” katanya.
Dengan melihat masih banyak kasus di lapangan, menurut Anton Supit, masih banyak ruang bagi Tabloid Sinar Tani membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Misalnya, memberikan informasi mengenai benih unggul dan inovasi teknologi yang sangat membantu petani. “Dengan usia ke 54 tahun menjadi usia yang matang bagi Sinar Tani untuk bisa berkiprah memperbaiki produktivitas petani,” tuturnya.
Harapan juga datang dari akademisi dan anggota dewan. Baca halaman selnnjutnya.