Wednesday, 21 October 2026


BPS: Inflasi Ramadan Naik Tajam, Cabai-Bawang dan Tarif Listrik Jadi Buang Kerok

08 Apr 2025, 11:55 WIBEditor : Gesha

BPS catat inflasi Ramadan 2025 melonjak 1,65 persen. Biang keroknya? Tarif listrik, bawang, dan cabai.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- BPS catat inflasi Ramadan 2025 melonjak 1,65 persen. Biang keroknya? Tarif listrik, bawang, dan cabai. 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada Maret 2025, inflasi mengalami lonjakan signifikan sebesar 1,65 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Kenaikan ini terbilang drastis, mengingat pada bulan sebelumnya, Februari 2025, justru terjadi deflasi sebesar 0,48 persen mtm.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, dalam konferensi pers pada Selasa (8/4/2025), menyampaikan bahwa inflasi tahunan (year on year/yoy) juga menunjukkan kenaikan, meski tidak setajam inflasi bulanan.

“Inflasi Maret 2025 sebesar 1,65 persen mtm dan 1,03 persen secara yoy,” ujarnya.

Angka ini sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan inflasi bulanan akan mencapai 1,7 persen dan inflasi tahunan sebesar 1,09 persen.

Meski begitu, realisasi tetap menjadi alarm penting bagi kondisi ekonomi domestik.

Lonjakan Terbesar

Habibullah menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran yang menjadi pendorong utama inflasi Maret 2025 adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 8,45 persen dan menyumbang andil tertinggi terhadap inflasi bulanan, yakni 1,18 persen.

Tarif listrik menjadi komoditas paling dominan dalam kelompok ini.

“Tarif listrik sendiri memberikan andil inflasi sebesar 1,18 persen,” jelasnya.

Kenaikan tarif listrik yang signifikan ini menjadi pemicu utama melonjaknya IHK (Indeks Harga Konsumen) bulan Maret yang tercatat sebesar 107,22.

Tak hanya listrik, beberapa komoditas pangan juga turut menyumbang andil terhadap kenaikan inflasi.

Di antaranya adalah bawang merah sebesar 0,11 persen, cabai rawit sebesar 0,06 persen, daging ayam ras sebesar 0,03 persen, serta emas perhiasan yang menyumbang 0,05 persen.

Menariknya, di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok dan tarif listrik, terdapat komoditas yang justru mengalami penurunan dan memberikan sedikit andil terhadap deflasi.

Salah satunya adalah tarif angkutan udara yang tercatat menyumbang deflasi sebesar 0,04 persen.

Meskipun kecil, penurunan ini memberikan sedikit penyeimbang di tengah kenaikan harga lainnya.

Namun demikian, dampaknya belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan inflasi yang dipicu oleh sektor energi dan bahan makanan.

Tiga Bulan Deflasi

Jika menilik ke belakang, pada Februari 2025, Indonesia sempat mencatat deflasi baik secara bulanan (0,48 persen) maupun tahunan (0,09 persen).

Namun situasi tersebut cepat berubah pada Maret, seiring dengan kenaikan tajam pada beberapa sektor strategis, terutama energi.

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku pasar untuk mencermati dinamika harga ke depan.

Kenaikan tajam inflasi, terutama yang dipicu tarif listrik, bisa berdampak luas terhadap biaya produksi, daya beli masyarakat, hingga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Kenaikan inflasi Maret 2025 menjadi catatan penting bahwa tekanan terhadap harga kebutuhan pokok belum mereda.

Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola pengeluaran dan pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah strategis untuk menstabilkan harga, khususnya di sektor energi.

Apakah lonjakan ini hanya gelombang sesaat atau pertanda badai ekonomi yang lebih besar di depan? Kita tunggu saja dinamika bulan-bulan berikutnya.

Reporter : Nattasya
Sumber : BPS
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018