Tuesday, 12 May 2026


Presiden Hapus Kuota Impor, Prof Bungaran: Perkuat Substitusi atau Kita Habis

18 Apr 2025, 06:37 WIBEditor : Gesha

Presiden Prabowo hapus kuota impor, namun Prof. Bungaran Saragih menegaskan, tanpa penguatan substitusi impor melalui pertanian dalam negeri, Indonesia bisa terjebak dalam ketergantungan pangan luar negeri.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Presiden Prabowo hapus kuota impor, namun Prof. Bungaran Saragih menegaskan, tanpa penguatan substitusi impor melalui pertanian dalam negeri, Indonesia bisa terjebak dalam ketergantungan pangan luar negeri.

Ketika Presiden Prabowo memutuskan untuk menghapus kuota impor bahan pangan, langkah itu langsung mencuri perhatian.

Kebijakan yang terkesan membuka keran impor seluas-luasnya ini menjadi sorotan banyak pihak.

Ada yang menganggapnya sebagai solusi efisien untuk menstabilkan harga pangan, ada pula yang khawatir ini bakal membuat petani lokal semakin terhimpit.

Namun di tengah riuhnya kontroversi itu, suara tegas tapi penuh makna datang dari Prof. Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian yang dikenal blak-blakan.

Menurut Bungaran, masalahnya bukan terletak pada “impor” itu sendiri, tapi bagaimana kita mempersiapkan sektor pertanian dalam negeri supaya tak terus bergantung pada produk luar.

"Impor itu bukan dosa, tapi kita harus serius bangun sektor substitusi impor. Jangan semuanya dibuka begitu saja, tanpa pondasi yang kuat. Itu namanya bunuh diri pelan-pelan," jelas Bungaran. 

Kuota Impor Dihapus

Dengan keputusan Presiden untuk menghapus kuota impor, pintu perdagangan internasional kini terbuka lebih lebar.

Kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki efisiensi dan kestabilan harga pangan dengan menghilangkan sistem kuota yang selama ini dianggap rentan terhadap praktik tidak sehat.

Pemerintah beralih ke sistem impor berbasis kebutuhan dan harga pasar.

Namun, di balik niat baik tersebut, Bungaran menyoroti potensi bahaya yang mengancam sektor pertanian lokal jika tidak disertai strategi yang jelas.

Baginya, fokus utama kita bukan hanya soal boleh atau tidaknya mengimpor, tetapi lebih kepada alasan mengapa kita masih mengimpor barang tertentu.

Menurut Bungaran, produk pangan yang ada saat ini bisa dikelompokkan menjadi tiga kategori:

- Produk Unggul: Produk yang sudah kita kuasai dengan baik, punya daya saing di pasar global. Produk ini seharusnya bisa diekspor.

- Produk Potensial: Produk yang belum unggul, tapi bisa dikembangkan dengan proteksi dan insentif yang tepat. Ini adalah peluang substitusi impor.

- Produk Lemah: Produk yang sulit untuk bersaing, dan harus mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Fokus utama Bungaran adalah pada kategori kedua, yaitu produk potensial yang masih bisa kita tingkatkan produksinya agar tak lagi bergantung pada impor.

"Substitusi impor itu kunci. Jangan semua barang dipaksakan swasembada. Kalau bisa dikembangkan, ya kembangkan. Tapi tetap realistis, jangan memaksakan sesuatu yang belum bisa kita capai," katanya.

Ia memberikan contoh beberapa komoditas seperti bawang putih, kedelai, jagung, hingga gula.

Semua komoditas ini masih banyak diimpor meski Indonesia punya potensi untuk memproduksinya dalam jumlah yang lebih besar.

Sayangnya, tanpa adanya kebijakan yang mendukung, petani lokal kesulitan bersaing dengan produk luar yang lebih murah.

Dosa Kita Bukan Impor

Salah satu kritik pedas Bungaran adalah soal dominasi beras dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Menurutnya, obsesi terhadap nasi telah membelenggu pola makan sehat dan pola konsumsi yang berkelanjutan.

"Kita ini bangsa yang dungu kalau cuma mau makan beras terus. Jepang aja dari 160 kg turun jadi 30 kg per kapita. Kita? Masih 110 kg per tahun dan makin banyak yang kena diabetes!" ujar Bungaran dengan nada serius.

Solusi yang dia tawarkan adalah diversifikasi pangan. Indonesia memiliki banyak alternatif pengganti beras yang tidak hanya lebih bergizi, tetapi juga lebih ramah terhadap lingkungan dan lebih mudah diproduksi.

Sagu, singkong, sukun, talas, jagung, hingga berbagai jenis umbi-umbian lain adalah contoh komoditas yang bisa dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

"Batang pisang bisa jadi sayur. Jantung pisang enak. Daun pepaya pun nikmat. Kita punya potensi besar yang harusnya bisa kita manfaatkan," katanya.

Bungaran menegaskan bahwa mengembangkan substitusi impor bukan hanya soal memperbaiki cara bertani, tetapi juga soal merubah pola konsumsi masyarakat.

Dari hulu hingga hilir, dari petani ke konsumen, kita harus bergeser ke pola makan yang lebih beragam.

Agroindustri

Selain memperkuat pertanian, Bungaran juga menyoroti pentingnya membangun agroindustri yang tangguh.

Tanpa pengolahan hasil pertanian yang optimal, Indonesia akan terus kalah bersaing dengan negara lain yang sudah mengolah produk mentah menjadi barang setengah jadi atau olahan siap konsumsi.

"Kedelai kita kalah bukan karena kita nggak bisa tanam, tapi karena olahan kedelai dari luar lebih murah. Tahu-tempe impor jauh lebih murah dari kedelai lokal. Akibatnya petani kita rugi, industri dalam negeri pun lesu," jelasnya.

Pembangunan sektor agroindustri yang mendalam ini membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah dalam hal fasilitas pengolahan, logistik, dan distribusi.

Petani lokal membutuhkan akses pasar yang lebih luas dan fasilitas yang memadai untuk bisa bersaing dengan produk luar. 

Perdagangan Adil

Bungaran menutup pandangannya dengan kritik terhadap perdagangan bebas yang tidak adil.

Menurutnya, kita tidak bisa hanya fokus pada perdagangan bebas tanpa memperhatikan keadilan dalam bertransaksi antarnegara.

"Kalau kita ekspor, harusnya kita juga bisa impor dengan adil. Tapi jangan sampai terus-menerus defisit. Kalau nggak bisa surplus, paling tidak kita harus seimbang," katanya.

Bungaran mengingatkan bahwa negara besar seperti Amerika Serikat pun bisa menuntut keadilan dalam perdagangan. Indonesia seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama.

Bungaran menegaskan bahwa tanpa upaya serius dalam memperkuat pertanian dan mengurangi ketergantungan pada produk impor, Indonesia akan terus terjebak dalam ketergantungan pangan yang tak sehat.

"Kita punya segala yang dibutuhkan untuk berdiri di kaki sendiri. Tinggal kemauan dan keberanian untuk berubah," tutupnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018