
Pemerintah gelontorkan Rp 40 miliar untuk riset jagung dan bawang putih, dorong swasembada, kurangi impor, dan wujudkan kedaulatan pangan nasional yang mandiri dan berkelanjutan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pemerintah gelontorkan Rp 40 miliar untuk riset jagung dan bawang putih, dorong swasembada, kurangi impor, dan wujudkan kedaulatan pangan nasional yang mandiri dan berkelanjutan.
Pemerintah memperkuat langkah menuju kemandirian pangan nasional dengan mengalokasikan dana riset senilai Rp 20 miliar hingga Rp 40 miliar untuk empat komoditas strategis yakni gandum, kedelai, jagung, dan bawang putih.
Anggaran tersebut digunakan untuk mendanai riset terapan yang melibatkan berbagai perguruan tinggi, peneliti, dan institusi pertahanan dalam konsorsium besar lintas sektor.
“Ini bagian dari implementasi arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita untuk membangun kemandirian pangan berbasis riset. Komoditas seperti jagung dan bawang putih kita genjot produksinya agar tak lagi bergantung pada impor,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat konferensi pers di Jakarta.
Empat komoditas yang menjadi fokus yakni gandum, kedelai, jagung, dan bawang putih selama ini masih mengandalkan pasokan luar negeri dalam jumlah besar.
Padahal, menurut Mentan Amran, Indonesia memiliki potensi agroklimat dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengembangkan seluruh komoditas tersebut secara mandiri.
“Kami teliti bagaimana meningkatkan produktivitas dengan melibatkan seluruh perguruan tinggi yang punya keahlian. Gandum, kedelai, jagung, dan bawang putih kami dorong agar produksinya melampaui standar nasional,” tegasnya.
Langkah strategis ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwa pihaknya telah menetapkan empat flagship riset nasional, masing-masing untuk satu komoditas utama. Kegiatan riset didesain menyeluruh, dari hulu ke hilir.
“Ini konsorsium lengkap. Kita libatkan dosen, peneliti, dan praktisi yang memahami seluruh rantai produksi—mulai dari varietas unggul, teknologi budidaya, pengendalian hama, hingga alat dan mesin pertanian,” ungkap Brian Yuliarto.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan riset dilakukan berbasis wilayah agroklimat yang sesuai. Pemerintah bahkan telah mengirim delegasi ke negara-negara seperti Brasil dan Yordania yang memiliki karakteristik lahan dan iklim serupa untuk mempelajari praktik terbaik pengembangan pangan strategis.
“Kami ingin riset ini langsung aplikatif. Tidak berhenti di jurnal, tapi bisa didemonstrasikan di lapangan dan dikembangkan oleh petani,” imbuh Brian.
Langkah kolaboratif ini juga mendapat dukungan kuat dari sektor pertahanan. TNI Angkatan Laut, melalui Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, menyatakan kesiapan institusinya dalam mendukung program swasembada pangan, khususnya kedelai.
TNI AL telah menguji coba budidaya kedelai di Serang dan mencatat produktivitas tinggi.
“Program budidaya kedelai kami hasilkan 4,39 ton per hektare, dan ini akan kami replikasi ke berbagai wilayah yang sesuai. Kami siap dukung ketahanan pangan nasional dari sisi lahan dan logistik,” kata Laksamana Ali.
Selain aspek teknis, pendekatan pemerintah juga memperhatikan hilirisasi dan nilai tambah komoditas lokal.
Melalui riset dan inovasi, pemerintah mendorong komersialisasi hasil pertanian berbasis teknologi, agar petani mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Kementan dan Kemendikti juga menyatakan bahwa riset ini akan dikembangkan secara inklusif, melibatkan UMKM, koperasi petani, dan pemerintah daerah.
Harapannya, hasil riset tidak hanya dimanfaatkan oleh industri besar, tetapi juga dapat diakses oleh pelaku usaha kecil dan komunitas petani.
“Presiden ingin agar komoditas strategis ini tak lagi bergantung pada impor. Kami optimistis, dengan kerja sama kuat antar sektor, kita mampu wujudkan kemandirian pangan nasional,” tegas Mentan Amran.
Dengan alokasi anggaran yang signifikan dan pendekatan riset berbasis aksi lapangan, Indonesia kini melangkah lebih serius untuk mewujudkan swasembada pangan.
Jika konsistensi dan sinergi ini terjaga, harapan untuk berdikari dalam produksi jagung, kedelai, bawang putih, dan bahkan gandum bukanlah utopia melainkan masa depan yang terukur dan dirancang secara ilmiah.