
Munas X HKTI 2025 jadi titik balik kebangkitan petani Indonesia menyatukan kekuatan, menatap pertanian modern, dan menggerakkan desa agar tak lagi tertinggal di pusaran zaman.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Munas X HKTI 2025 jadi titik balik kebangkitan petani Indonesia menyatukan kekuatan, menatap pertanian modern, dan menggerakkan desa agar tak lagi tertinggal di pusaran zaman.
Indonesia menyaksikan babak baru dalam sejarah perjuangan petani. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), sebagai organisasi petani tertua dan terbesar di tanah air, resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta. Mengusung tema “HKTI Mewujudkan Pertanian Modern dan Struktur Perdesaan Maju,”.
Munas ini menjadi momentum emas bagi HKTI untuk memperkuat posisi, memperbaharui arah kebijakan, dan menyatukan kembali kekuatan petani Indonesia.
Ketua Pelaksana Munas X, RS. Suroyo, S.P., M.Si., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pemuda Tani Indonesia, Selasa (24/06) menyampaikan bahwa Munas ini bukan sekadar forum formalitas lima tahunan.
“Munas ini bukan hanya soal rapat, tapi tentang bagaimana kita menatap masa depan pertanian Indonesia dengan lebih serius dan terstruktur,” ujar Suroyo dalam pidato pembukaan.
Dalam laporannya, RS. Suroyo membeberkan lima agenda utama yang menjadi jantung dari rangkaian Munas X HKTI yang digelar 24-26 Juni 2025.
Pertama, ada Kongres Tani IX yang menjadi ruang strategis bagi para petani dari seluruh penjuru negeri untuk menyatukan suara, berbagi aspirasi, dan merumuskan arah gerak ke depan.
Kedua, Sidang Munas menjadi momen penting untuk menetapkan keputusan-keputusan organisasi yang bersifat fundamental. Di sinilah arah masa depan HKTI sebagai wadah perjuangan petani dibahas secara mendalam.
Yang ketiga, Business Matching yakni pertemuan langsung antara petani dengan pelaku industri. Di forum ini, peluang kerja sama dijajaki, jaringan diperluas, dan harapan baru tentang kemitraan yang saling menguntungkan mulai dirangkai.
Keempat, Tani Fest. Gelaran ini bukan sekadar pameran produk, tapi juga panggung kebanggaan bagi daerah untuk menampilkan komoditas unggulan masing-masing. Di sini, kekayaan agrikultur Nusantara dipertontonkan dalam wujud terbaiknya.
Dan yang terakhir, Gerakan Pangan Murah. Sebuah inisiatif sosial yang menjembatani hasil tani langsung ke tangan konsumen, dengan harga terjangkau. Sebuah langkah nyata melawan inflasi pangan dan menumbuhkan semangat gotong royong di antara petani dan masyarakat luas.
Sebelum Munas, HKTI menggelar Kongres Tani IX sebagai bagian dari tradisi dan sejarah organisasi yang sudah berjalan sejak tahun 1973. Kongres ini mengundang berbagai organisasi petani dari seluruh Indonesia untuk memberikan masukan terkait persoalan pertanian dari akar rumput.
“Ini adalah momentum yang sangat baik bagi para petani dan juga organisasi petani di Indonesia, termasuk HKTI sebagai wadah organisasi petani yang paling tua,” ujar Ketua Umum DPN HKTI, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
Lebih lanjut Fadli Zon mengungkapkan, HKTI yang lahir pada 27 April 1973, merupakan hasil fusi dari 15 organisasi petani. Tokoh-tokoh seperti Suswono Yudohusodo dan Djafar Hafsah yang hadir dalam pembukaan Munas turut menegaskan eksistensi sejarah panjang dan peran strategis HKTI dalam perjuangan petani Indonesia.
Perlibatan semua pihak diharapkan dapat bersama-sama mendukung kemajuan petani Indonesia. Adapun Munas HKTI turut didukung oleh Kementan, Pupuk Indonesia, Pertamina dan berbagai pihak terkait.
Lebih lanjut, Fadli Zon menekankan bahwa saat ini adalah waktu yang sangat baik bagi sektor pertanian karena adanya perhatian besar dari pemerintah. Di bawah kepemimpinan presiden yang berpihak pada petani, berbagai kebijakan pro-petani telah diimplementasikan.
“Kita sekarang memiliki seorang presiden yang mempunyai keberpihakan kepada petani dan sektor pertanian. Menjadikan swasembada pangan sebagai prioritas dalam pembangunan,” ujar Fadli.
Beberapa kebijakan baru belakangan ini mulai terasa nyata dampaknya di lapangan, terutama bagi para petani. Salah satunya yang paling disambut hangat adalah penghapusan utang petani bermasalah. Selama ini, beban utang jadi tembok besar yang menghalangi akses mereka ke pembiayaan. Kini, pintu peluang itu mulai terbuka kembali.
Tak hanya itu, pemerintah juga menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah menjadi Rp6.500 per kilogram, lonjakan cukup signifikan dari harga sebelumnya yang berkisar Rp5.000 hingga Rp5.500 per kilogram.
Distribusi pupuk subsidi pun ikut dibenahi. Penyalurannya kini lebih akurat: tepat sasaran, tepat harga, dan tepat jumlah. Artinya, petani yang benar-benar membutuhkan tidak lagi harus gigit jari karena kehabisan stok atau permainan harga di lapangan.
Dan satu lagi yang tak kalah penting yakni program makan bergizi gratis di sekolah. Di balik manfaat besarnya bagi anak-anak, program ini juga membuka peluang pasar baru bagi petani lokal. Mereka bisa ikut memasok bahan pangan segar dan berkualitas, dari sawah dan kebun langsung ke piring-piring kecil di sekolah.
Menurut data BPS (2024), jumlah rumah tangga petani di Indonesia mencapai 27,3 juta. Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari akses pasar, keterbatasan teknologi, hingga rendahnya regenerasi petani muda. HKTI ingin mengambil peran sebagai mitra pemerintah dalam menjawab tantangan ini.
Yang membuat Munas X HKTI 2025 semakin istimewa adalah angin segar dari upaya rekonsiliasi internal. Selama hampir 15 tahun terakhir, organisasi ini sempat terpecah. Namun, Fadli Zon menegaskan bahwa HKTI sedang berada di jalur pemulihan persatuan.
“Momentum yang kedua adalah, pada kesempatan ini, kita sudah sepakati dengan HKTI yang selama 15 tahun terakhir ini agak terbelah. Ini adalah momen terbaik untuk menyatukan kembali HKTI menjadi satu kesatuan,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang besar atas kembalinya HKTI di bawah kepemimpinan Jenderal (Purn.) Moeldoko ke dalam satu rumah besar HKTI. Ini diyakini akan memperkuat langkah HKTI dalam menyuarakan aspirasi petani dan memperjuangkan kedaulatan pangan nasional.