
Acara MUNAS X HKTI di Kementerian Pertanian Jakarta
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA --- Musyawarah Nasional (Munas) X HKTI akhirnya menetapkan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2025-2030 menggantikan Fadli Zon. Sementara itu kubu HKTI Moeldoko juga secara aklamasi menyerahkan kepemimpinan ke Sudaryono juga.
HKTI, organisasi yang berdiri sejak 1973 sebagai wadah perjuangan petani Indonesia, telah menghadapi berbagai dinamika internal. Sejak Munas VII di Bali Juli 2010, HKTI sempat mengalami dinamika internal berupa dualisme kepengurusan antara kepemimpinan Jenderal (Purn) Moeldoko dan Fadli Zon yang berlangsung lebih dari satu dekade.
Konflik ini tidak hanya memecah belah organisasi, tapi juga melemahkan peran HKTI sebagai mitra strategis pemerintah dalam memajukan kesejahteraan petani dan mendukung kedaulatan pangan nasional. Kini, kedua kubu yang berselisih baik dari Fadli Zon dan Moeldoko sepakat tak ada lagi dualisme dengan menunjuk Sudaryono sebagai sosok yang pemimpin HKTI.
Satu harapan, penyatuan HKTI akan memperkuat akselerasi pembangunan sektor pertanian nasional. Munas ke-X kali ini menjadi momentum bersejarah untuk menyatukan kembali kedua kekuatan tersebut dalam satu kepemimpinan tunggal demi kemajuan petani dan pembangunan pertanian Indonesia.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menilai, penyatuan dua kubu dalam tubuh HKTI menjadi satu kekuatan nasional dipandang sebagai langkah tepat untuk memperkuat konsolidasi kelembagaan petani. Dengan struktur yang lebih solid, HKTI diyakini mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam mempercepat pencapaian berbagai program pembangunan pertanian, termasuk swasembada pangan.
“Ini adalah momentum yang baik untuk menyatukan HKTI yang selama ini terbelah, menjadi satu kekuatan besar. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama merealisasikan visi Presiden Prabowo, khususnya di sektor pertanian,” ujar Mentan Amran saat menghadiri Munas ke-10 HKTI di Kementan, Jakarta, Selasa (24/6).
Amran juga mengapresiasi semangat dan kekompakan para peserta Munas HKTI, yang datang dari 35 provinsi secara sukarela dalam waktu yang singkat. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa HKTI memiliki kekuatan besar dan komitmen tinggi untuk membangun pertanian nasional yang maju dan berkelanjutan.
Amran juga menekankan pentingnya penguatan peran HKTI di setiap wilayah dalam mengawal pengembangan komoditas unggulan daerah berbasis keunggulan komparatif. Bukan hanya itu, ia mengingatkan, untuk menyatukan HKTI dalam masa transisi ini, diperlukan struktur yang fleksibel.
Baca Juga : Akhiri Drama Dualisme, Munas HKTI X Tetapkan Sudaryono jadi Ketua Umum
“Yang penting inklusif, terbuka, dan bisa menjaring sebanyak mungkin energi positif. Penyaringan akan terjadi secara alamiah, yang sungguh-sungguh pasti akan tetap tinggal,” ucap Amran dengan nada optimis.
Dalam Munas HKTI dan Kongres Tani Indonesia yang berlangsung di Kementerian Pertanian, Jakarta, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono yang terpilih menjadi Ketua Umum HKTI menegaskan komitmennya menyatukan dualisme yang telah lama memecah organisasi petani tersebut.
Sudaryono yang dipilih secara aklamasi pada 25 Juni 2025, mengapresiasi kepercayaan dari dua kepengurusan antara kepemimpinan Moeldoko dan Fadli Zon. “Di penyelenggaraan Munas kali ini, HKTI yang diketuai Pak Fadli Zon dan juga HKTI yang diketuai Pak Moeldoko akan ada persatuan, akan bersatu menjadi satu HKTI, tidak lagi ada dualisme di situ," ujarnya.
Tak Lagi Jalan Sendiri
Bahkan Sudaryono juga menganggap, bersatunya HKTI ini menjadi tonggak bagaimana yang tadinya jalan sendiri-sendiri ini bisa bersatu, bersatu di pusat, dan bersatu sampai dengan level di bawah, di provinsi, kabupaten, sampai dengan kecamatan dan seterusnya.
Sebagai sosok yang lahir dan besar dari keluarga petani, Sudaryono mengapresiasi kepercayaan dari berbagai kalangan tersebut. Ia juga menyatakan komitmennya untuk terus memajukan sektor pertanian nasional serta mewujudkan swasembada pangan yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga : Munas HKTI, Momentum Konsolidasi Petani
“Insyaallah, itu satu kepercayaan, dan orang percaya karena punya harapan. Ya kita lakukan yang terbaik. Semoga itu bisa memenuhi harapan dari semua orang yang trust dan percaya. Sebagai seorang muslim tentunya jabatannya ini, saya sikapi dengan Innalilahi wainnailaihi rojiun. Segala sesuatu nya milik Allah dan akan kembali kepada Allah," tuturnya.
Sudaryono mengungkapkan amanah sebagai Ketua Umum HKTI adalah sarana untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat petani dan negara. Kesejahteraan petani menjadi kunci utama dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
”Ini akses manfaat bagaimana memberikan manfaat yang besar ke petani dan negara. Kalau petani happy, produktivitasnya tinggi, petani sejahtera, sementara produktivitas tinggi kan, negara juga senang karena kita punya cadangan pangan yang cukup, tidak perlu impor, ekonomi bergerak, dan seterusnya,” tuturnya.
Untuk itu, ia menegaskan jalan pertama yang harus ditempuh oleh seluruh pengurus HKTI adalah menyatukan visa tanpa melihat lagi yang pernah terjadi masa lalu. “Saya mengajak seluruh jajaran HKTI, baik di DPN, Dewan Penasehat, Dewan Pakar, maupun di daerah, untuk bersatu dan memiliki peran aktif. Kita harus punya visi bersama, menjalankan, dan mengeksekusi program demi kesejahteraan petani dan kedaulatan pangan nasional,” tegasnya.
HKTI Kubu Moeldoko
Sementara itu Ketua Umum HKTI kubu Jenderal TNI (Purn) Moeldoko secara resmi juga menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Sudaryono dalam Musyawarah Nasional (Munas) X HKTI yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (26/6).
Dalam forum yang juga dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Ketua Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) HKTI Oesman Sapta Odang (OSO), Moeldoko menyampaikan hasil Rapat Pimpinan (Rapim) HKTI yang memutuskan Sudaryono sebagai penerusnya. “Di dalam Rapim, kita telah memilih dan mempercayakan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, untuk memimpin HKTI ke depan,” ujar Moeldoko.
Baca Juga : Munas X HKTI 2025: Petani Bersatu, Bangkitkan Pertanian Modern dan Desa Maju
Moeldoko menegaskan dengan keputusan ini, babak baru HKTI telah dimulai, tanpa bayang-bayang perpecahan. "Mulai saat ini, HKTI hanya satu. Tidak ada lagi dualisme," ujarnya lantang seraya mengajak semua kader untuk kembali fokus pada perjuangan hak-hak petani, bukan lagi sibuk dengan perbedaan yang sudah lewat.
“Saya sudah dipercaya Pak OSO memimpin selama 10 tahun. Tapi rasanya, kita terlalu lama berkutat pada hal-hal yang membuat kita jalan di tempat,” lanjut mantan Panglima TNI itu. “Kini waktunya bersatu, bukan cuma secara organisasi, tapi juga menyatu secara jiwa dan semangat.”