Jumat, 16 Januari 2026


HKTI Kirim 23 Anak Petani ke Tiongkok, Wamentan: Banggakan Indonesia

14 Okt 2025, 16:42 WIBEditor : Herman

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sekaligus Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono bersama penerima Beasiswa Agri Srikandi HKTI

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sekaligus Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono mengajak penerima Beasiswa Agri Srikandi HKTI menjadikan kesempatan belajar di luar negeri sebagai momentum untuk meraih prestasi tertinggi dan membanggakan bangsa Indonesia.

“Saya terharu, inisiasi baik ini sudah berjalan hingga tahun kedua. Saya berharap program ini terus berkembang, bukan hanya puluhan, tapi ratusan bahkan ratusan ribu penerima beasiswa di masa depan,” ujar Sudaryono saat memberikan arahan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (13/10).

Beasiswa Agri Srikandi merupakan inisiatif pendidikan dari DPP Perempuan Tani HKTI yang bertujuan membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda, khususnya anak-anak petani. Program ini berfokus pada pengembangan ilmu pertanian dan teknologi pangan, baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam sambutannya, Sudaryono membagikan kisah hidupnya yang inspiratif. Ia bercerita berasal dari keluarga sederhana di desa, dengan keterbatasan ekonomi yang justru menjadi pendorong kuat untuk menempuh pendidikan hingga ke luar negeri.

“Saya ini anak desa, orang tua saya tidak mampu, dan tak punya saudara di kota. Tapi saya percaya, satu-satunya jalan untuk memperbaiki nasib adalah melalui pendidikan. Saya ini produk dari sekolah,” ujarnya.

Sudaryono menempuh pendidikan selama lima tahun di Jepang. Datang tanpa kemampuan berbahasa Jepang dan dengan kondisi ekonomi pas-pasan, ia sempat merasa minder. Namun berkat ketekunan, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di kelas bahasa Jepang, mengalahkan 44 mahasiswa lokal.

“Saya dulu tidak bisa bahasa Jepang, tapi belajar keras. Setahun kemudian, saya sudah bisa membaca, menulis, dan presentasi dalam bahasa Jepang. Saya berjanji akan jadi lulusan terbaik — dan saya buktikan,” kenangnya.

Dalam pesannya, Sudaryono menekankan pentingnya kerja keras, disiplin, dan manajemen waktu dalam meraih kesuksesan.

“Kerja keras tidak menjamin kamu pasti berhasil, tapi memperbesar peluangmu untuk berhasil. Yang menentukan adalah bagaimana kamu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,” ujarnya.

Ia berharap para penerima beasiswa benar-benar memanfaatkan kesempatan belajar di luar negeri untuk mengembangkan diri dan kelak kembali membangun negeri.

“Tidak semua orang bisa beradaptasi di negeri orang. Tapi kalau kamu serius, kamu akan pulang sebagai pribadi tangguh dan cerdas. Kalau dulu saya bisa jadi lulusan terbaik di Jepang, maka sekarang saya ingin kalian juga jadi lulusan terbaik dari program HKTI ini,” pesan Sudaryono.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Tani HKTI, Dian Novita Susanto, menyampaikan bahwa program Beasiswa Agri Srikandi kini memasuki tahun kedua.

“Tahun lalu kami melepas sekitar lima penerima beasiswa, dan tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 23 orang,” kata Dian.

Para penerima beasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) seperti Kupang, Atambua, Lombok, Bangka, Batam, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bukittinggi, dan Jakarta.

Tahun ini, program berfokus pada dua bidang strategis: environmental engineering dan software technology.

“Kami berharap adik-adik ini dapat memperkuat pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan serta membuka peluang digitalisasi desa dan inovasi pertanian modern,” ujar Dian.

Seleksi program dimulai sejak Februari lalu dan menjaring lebih dari 100 pendaftar dari seluruh Indonesia.

Dari jumlah tersebut, terpilih 23 peserta terbaik yang akan melanjutkan studi di Nantou College of Science and Technology, Tiongkok. Program ini mendapat dukungan penuh berupa full scholarship dari kampus, sementara HKTI memfasilitasi proses pemberangkatan dan pendampingan peserta.

“Ke depan, kami berharap para penerima beasiswa ini dapat menjadi pemimpin di desanya masing-masing. Fokus kami adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pertanian Indonesia,” tutup Dian.

 

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018