Friday, 15 May 2026


Inflasi Oktober Lebih Tinggi dari Prediksi Pasar, BPS: Angkanya 0,28 Persen

03 Nov 2025, 13:20 WIBEditor : Gesha

Inflasi Oktober 2025 ternyata lebih tinggi dari perkiraan pasar. BPS mencatat kenaikan 0,28 persen secara bulanan, dipicu lonjakan harga pangan seperti cabai dan telur yang makin terasa di kantong.

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Inflasi Oktober 2025 ternyata lebih tinggi dari perkiraan pasar. BPS mencatat kenaikan 0,28 persen secara bulanan, dipicu lonjakan harga pangan seperti cabai dan telur yang makin terasa di kantong.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengejutkan pasar dengan angka inflasi Oktober 2025 yang lebih tinggi dari perkiraan analis.

Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat 0,28 persen, jauh melampaui konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan hanya 0,02%.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi mencapai 2,86 persen, sedikit di atas perkiraan 2,6 persen.

Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menegaskan bahwa kenaikan ini terutama dipicu oleh fluktuasi harga pangan dan peningkatan permintaan tertentu.

“Inflasi Oktober tercatat 0,28 persen bulanan. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang mulai terasa di beberapa komoditas strategis,” jelas Pudji dalam konferensi pers Senin (3/11/2025).

Data BPS menunjukkan bahwa harga beberapa bahan pokok mengalami perubahan signifikan.

Produksi cabai merah turun drastis, mencatat level terendah sepanjang 2025.

Sementara itu, harga bawang merah meningkat di beberapa daerah karena pasokan yang belum merata.

Faktor lain yang mendorong inflasi pangan adalah permintaan telur ayam ras yang melonjak seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di berbagai wilayah.

Secara historis, inflasi Oktober memang sering menjadi titik perhatian, terutama karena tekanan dari harga pangan yang cenderung bergejolak.

Pada September 2025, inflasi tercatat 0,21 persen (mtm) dan 2,65 persen (yoy), menunjukkan lonjakan bulanan yang terus meningkat.

Inflasi inti yang mengukur harga barang dan jasa selain energi dan makanan terpantau stabil di 2,2 persen, menandakan tekanan inflasi utama memang datang dari sektor pangan dan komoditas tertentu.

Kenaikan inflasi ini membuat pelaku pasar, pengusaha, dan konsumen menatap November dengan kewaspadaan.

Harga kebutuhan pokok yang meningkat, meski tipis, bisa memengaruhi daya beli masyarakat, terutama segmen rumah tangga dengan pengeluaran terbatas.

Ekonom memprediksi tekanan harga kemungkinan akan berlanjut hingga akhir tahun, seiring permintaan menjelang akhir tahun dan fluktuasi pasokan pangan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018