Wednesday, 21 October 2026


Terjun ke Hulu, Bulog Terapkan Tiga Pola Kerjasama dengan Petani

04 Nov 2025, 15:22 WIBEditor : Yulianto

Pelepasan hasil panen kemitraan Bulog dengan petani di Karawang, Selasa (4/11)

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang--Perum Bulog kini mulai terjun ke hulu yakni budidaya padi. Perusahaan plat merah tersebut menerapkan tiga pola kemitraan. Hasilnya, Bulog akan menyerap dan diproduksi menjadi beras premium.

Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto mengatakan, Program PMO mitra tani berjalan sejak 2024. Saat itu, ada ide Bulog untuk terjun ke budidaya pertanian yang nanti gabah hasil panen diserap Bulog dengan kualitas baik.

Dalam program Mitra Tani menurut Prihasto, ada beberapa pola. Pertama, kemitraan sinergis yang sudah dilaksanakan pada 2024 sampai sekaramg dengan luas lahan 2.826 ha. Kegiatan ini tersebar di beberapa daerah Indonesia, seperti Lebak, Cikeusik, Klaten, Cirebon, Indramayu, Sumedang, Grobogan, Sukoharjo, Palopo, bahkan sampai Merauke.

“Saat ini lahan tersebut sudah menghasilkan gabah sebanyak 14.236 ton di musim tanam pertama. Pada musim tanam kedua sedang berlanjut,” katanya.

Pada pola pertama ini, lanjut Prihasto, lahannya milik petani, tapi Bulog yang membiayai semua sarana produksinya. Kemudian Bulog sebagai offtaker akan menyerap gabah hasil produksinya.

“Alhamdulillah dari kemitraan sinergis ini, semua konsep kerjasamanya sudah berjalan. Dalam hal ini Bulog masih tetap diuntungkan dengan kemitraan sinergis ini,” ujarnya.

Pola kedua, Bulog menjadi bagian Program Makmur BUMN sebagai offtaker. Dalam program yang bekerjasama dengan PT Pupuk Indonesia dan perusahaan plat merah lainnya, total luas lahan budidaya mencapai 3.757 ha seluruh Indonesia. 

Pola ketiga ungkap Prihasto, Bulog melakukan secara mandiri di lahan milik Bulog yang belum tergarap maksimal. Ada beberapa lokasi yang sudah digarap untuk budidaya padi, selain di Jatisari, ada juga di Cikalong dua lahan masing-masing seluas 3 ha dan 1 ,5 ha, kemudian Cibitung, Bekasi 6 ha dan di Marunda, Jakarta Utara seluas 6 ha.

“Semua memang tanahnya Bulog dan sudah ditanami padi. Insyaallah nanti Januari sudah bisa panen,” ujarnya. “Memang semua kita yang membiayai dan hasilnya juga semuanya untuk kita,” tambah Prihasto.

Dua Pola Penyerapan

Dalam pembelian gabah hasil panen, Prihasto mengungkapkan, Bulog menerapakan dua pola. Pertama, jika harga gabah sedang tinggi diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500/kg, maka Bulog membeli dengan skema komersial. “Saat ini harga gabah mencapai Rp 7.000/kg. Jadi kita beli gabah sesuai harga pasar,” katanya.

Kedua, jika harga gabah di bawah HPP, maka Bulog menyerap dengan skema PSO (Public Service Obligation) dengan harga sesuai HPP Rp 6.500/kg. Gabah-gabah tersebut nanti akan dikirim ke SPPB (Sentra Produksi Padi Bulog) terdekat. “Gabah tersebut nanti akan diolah menjadi beras premium Bulog,” ujarnya.

Prihasto mengakui, untuk mendapatkan produktivitas tinggi dukungan benih juga penting. Untuk wilayah Karawang, Bulog bekerjasama dengan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Padi yang berlokasi di Sukamandi.

“Kita mintakan benih sebarnya dari BRMP Padi.  Kita minta dari sana dan diharapkan hasilnya akan bagus,” katanya. Sedangkan pupuk, lanjut Prihasto, pihaknya bekerjasama dengan Pupuk Indonesia.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018