
Laporan Mentan Andi Amran Sulaiman soal penanganan bencana, stok pangan aman, hingga target swasembada 2026 mencuri perhatian Presiden Prabowo dan kabinet, bahkan berujung tepuk tangan khusus di Istana.
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Laporan Mentan Andi Amran Sulaiman soal penanganan bencana, stok pangan aman, hingga target swasembada 2026 mencuri perhatian Presiden Prabowo dan kabinet, bahkan berujung tepuk tangan khusus di Istana.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendapat apresiasi khusus dari Presiden RI Prabowo Subianto saat menyampaikan laporan penanganan bencana dan kinerja sektor pertanian dalam Sidang Kabinet Paripurna 2025 di Istana Jakarta, Senin (15/12/2025). Paparan tersebut menjadi satu-satunya laporan menteri yang mendapat tepuk tangan langsung dari Presiden dan jajaran kabinet.
Di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto dan seluruh jajaran kabinet, Amran menyampaikan laporan penanganan bencana sekaligus kinerja sektor pertanian sepanjang 2025. Laporannya mengalir lugas, padat, tapi menghentak. Seolah memberi pesan: di tengah bencana, pangan tetap harus berdiri tegak.
Amran membuka dengan satu hal krusial: stok pangan aman. Di saat banjir dan bencana alam menerjang sejumlah daerah, Kementerian Pertanian bergerak cepat.
“Izin Bapak Presiden, kami laporkan bantuan pangan ke daerah bencana. Kami sudah mengirimkan beras kurang lebih 44.000 ton sampai dengan hari ini. Cadangan kami siapkan tiga kali lipat dari kebutuhan, yaitu 120.000 ton di lapangan. Jadi pangan tidak ada masalah,” ujar Amran mantap.
Tak hanya beras. Bantuan minyak goreng ikut mengalir. Total bantuan pemerintah mencapai sekitar Rp 1 triliun. Dari internal kementerian dan para mitra, terkumpul tambahan Rp 75 miliar. Tiga kapal bantuan dikerahkan, membelah laut, membawa harapan ke wilayah terdampak.
“Ada dua jenis bantuan. Dari pemerintah dan dari teman-teman kementerian serta mitra. Tiga kapal kami kirim,” jelas Amran.
Namun, laporan itu tak berhenti di angka bantuan. Amran juga blak-blakan soal luka di sektor pertanian. Sekitar 70.000 hektare sawah rusak akibat bencana. Angka besar, tapi nada Amran tetap optimistis.
“Insyaallah mulai Januari 2026 kami sudah bisa tangani dan mulai bekerja,” katanya. Kalimat pendek, tapi mengandung janji.
Dari bencana, Amran beralih ke capaian. Dan di sinilah grafik kinerja pertanian 2025 melonjak tajam. Nilai Tukar Petani (NTP) menembus 124,36 persen. Jauh melampaui target 110 persen, tertinggi sepanjang sejarah.
“Izin Bapak Presiden, kesejahteraan petani meningkat. Khusus padi, total kenaikan pendapatan petani mencapai Rp 120 triliun,” ungkap Amran.
Ekspor pertanian pun ikut melaju. Hingga Agustus 2025, ekspor tumbuh 42 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Hingga akhir tahun, diproyeksikan tetap kuat di kisaran 33–35 persen. Sawah, ladang, dan kebun bukan cuma menyuapi negeri, tapi juga menembus pasar dunia.
Produksi beras nasional menjadi sorotan lain. Data BPS mencatat kenaikan 4,17 juta ton. Lebih cepat dari target. Bahkan, Amran berani menyebut satu kata yang selama ini terasa seperti mimpi panjang: swasembada.
“Insyaallah dua minggu ke depan bisa kami umumkan Indonesia mencapai swasembada pangan per 1 Januari 2026,” ucapnya.
Stok beras nasional pun berada di level tertinggi sepanjang sejarah modern: 3,7 juta ton. Dengan penduduk 286 juta jiwa, angka itu menjadi simbol kesiapan.
Di sektor pupuk, volume naik 700.000 ton, harga turun 20 persen, tanpa tambahan anggaran. Semua lewat perubahan regulasi.
Sebagai penutup, Amran menyebut penghargaan FAO yang baru diterima Kementan. Indonesia dinilai berhasil menjaga kebijakan pangan. Bahkan, keputusan tak mengimpor beras disebut ikut menekan harga beras dunia hingga turun 42 persen.
Saat Amran menutup laporannya, ruangan kembali bergemuruh. Presiden Prabowo Subianto dan para menteri berdiri memberi tepuk tangan.



