Rabu, 14 Januari 2026


Bukan Beras-Jagung, Ini Sasaran Baru Swasembada Pangan 2026

05 Jan 2026, 14:10 WIBEditor : Gesha

Pemerintah mengubah arah swasembada pangan 2026. Setelah beras dan jagung, kini fokus bergeser ke gula, garam, serta protein hewani demi pasokan merata dan menopang program makan bergizi gratis.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pemerintah mengubah arah swasembada pangan 2026. Setelah beras dan jagung, kini fokus bergeser ke gula, garam, serta protein hewani demi pasokan merata dan menopang program makan bergizi gratis.

Pemerintah menyiapkan arah baru kebijakan swasembada pangan pada 2026. Jika selama ini fokus pada beras dan jagung, ke depan target diperluas ke komoditas strategis lain, mulai dari gula, garam, hingga protein hewani.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, swasembada beras dan jagung yang ditargetkan tercapai pada 2025 akan tetap dipertahankan pada 2026.

Namun, Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah mulai mendorong swasembada komoditas lain yang masih bergantung pada impor.

“Beras dan jagung kita pertahankan. Ke depan Presiden menginginkan swasembada gula, baik gula konsumsi maupun gula industri. Di sektor lain ada swasembada garam, termasuk garam industri,” kata Sudaryono.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program penguatan ketahanan pangan protein hewani, khususnya telur, daging ayam, dan sapi. Fokus awal diarahkan pada telur dan daging ayam di luar Pulau Jawa.

Sudaryono menjelaskan, selama ini produksi peternakan masih terkonsentrasi di Jawa sehingga daerah lain bergantung pada pasokan dari pulau tersebut.

Pemerintah ingin setiap daerah memiliki ketahanan pangan sendiri, terutama untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG).

“Tahun depan di Kementerian Pertanian ada dua program besar, salah satunya peningkatan produksi telur dan daging ayam, khususnya di luar Jawa,” ujarnya.

Untuk mendukung target tersebut, Kementerian Pertanian menyiapkan pengembangan peternakan terintegrasi di 13 provinsi di luar Jawa. Program ini melibatkan BUMN, Koperasi Desa Merah Putih, dan peternak lokal.

Dari sisi industri perunggasan, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi menyebut produksi daging ayam nasional pada 2025 mencapai sekitar 4,3 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 3,9 juta ton.

“Artinya ada surplus sekitar 400 ribu ton atau 12 persenndari kebutuhan nasional,” katanya.

Meski demikian, Sugeng mengingatkan agar penambahan produksi untuk program MBG direncanakan secara matang agar tidak menekan harga di tingkat peternak.

Ia juga menyoroti persoalan distribusi, karena sekitar 65 persen produksi ayam nasional masih terpusat di Pulau Jawa.

Sementara itu, dari sektor garam, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mengatakan produksi garam nasional pada 2025 sekitar 2,3 juta ton.

Tambahan produksi pada 2026 diperkirakan sekitar 80 ribu ton seiring beroperasinya tahap awal Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN).

Sementara itu, dari sektor pergulaan, produksi tebu nasional memang meningkat. Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mencatat kenaikan sekitar 10 persen pada 2025. Sayangnya, kenaikan tersebut belum sepenuhnya berbuah manis.

Penurunan rendemen membuat produksi gula tak melonjak signifikan. Efisiensi pabrik gula pun kembali disorot sebagai kunci jika swasembada gula ingin benar-benar tercapai. Untuk 2026, produksi gula nasional diperkirakan masih berada di kisaran 2,7 hingga 2,8 juta ton.

Dengan berbagai target tersebut, swasembada pangan 2026 tak lagi semata soal beras dan jagung. Tantangannya kini lebih berlapis: meningkatkan produksi, merapikan kebijakan lintas sektor, dan memastikan pangan tak hanya cukup di satu pulau, tapi merata hingga ke pinggir negeri.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018