Monday, 13 April 2026


Klaim Swasembada Dipertanyakan, DPR Beberkan Data Impor Pangan RI 2024-2025

09 Apr 2026, 07:38 WIB

DPR mempertanyakan klaim swasembada pangan Menteri Amran Sulaiman. Meski stok beras tercatat 4,59 juta ton, data impor 2024–2025 menunjukkan ketergantungan tinggi pada gandum, kedelai, dan daging dari luar negeri.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- DPR mempertanyakan klaim swasembada pangan Menteri Amran Sulaiman. Meski stok beras tercatat 4,59 juta ton, data impor 2024–2025 menunjukkan ketergantungan tinggi pada gandum, kedelai, dan daging dari luar negeri.

Komisi IV DPR mempertanyakan klaim Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman soal swasembada dan ketahanan pangan nasional, terutama terkait cadangan beras yang diklaim mencapai 4,59 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Klaim ini membuat anggota dewan skeptis karena tidak sejalan dengan fakta impor beberapa komoditas pangan strategis.

Anggota Komisi IV Fraksi PDIP, Sadarestuwati, menekankan pentingnya validitas data. “Stok beras cukup 11 bulan. Akan tapi, saya ingin data ini benar-benar data yang apa adanya. Data riil yang diberikan kepada kami semuanya bahwa kondisi ini adalah kondisi yang benar adanya," ujarnya dalam rapat di Gedung Parlemen, Selasa (7/4/2026). Pernyataan ini menjadi sorotan utama karena menunjukkan perlunya pemeriksaan mendalam terhadap data yang disampaikan pemerintah.

Senada, anggota Fraksi PKS Johan Rosihan mempertanyakan narasi surplus pangan nasional, yang dinilai tidak mencerminkan ketahanan sesungguhnya. Ia menyoroti sejumlah komoditas strategis yang masih bergantung pada impor.

“Kedelai impor 2,5 juta ton, kita hanya bisa produksi 300 ribu. Gandum 100% impor, defisit 3,4 juta ton. Pakan ikan 89?ri impor. Daging 30–40% itu impor,” jelas Johan. Dengan kata lain, meski cadangan beras cukup, ketergantungan terhadap bahan pangan lain masih tinggi, sehingga klaim swasembada perlu dikaji ulang.

Tren Impor Komoditas Pangan 2024-2025

Beras

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 Indonesia masih mengimpor total 4,51 juta ton beras. Thailand menjadi pemasok terbesar dengan 1,36 juta ton, diikuti Vietnam 1,24 juta ton, dan Myanmar 831,3 ribu ton.

Mayoritas beras impor adalah jenis medium. Tahun 2025, impor beras menurun drastis menjadi 364,3 ribu ton, terutama untuk beras giling putih atau premium, yang biasanya digunakan untuk kebutuhan khusus.

Penurunan ini menunjukkan adanya upaya pengurangan ketergantungan impor, meski skalanya belum sepenuhnya signifikan.

Kedelai

Impor kedelai sepanjang 2024 tercatat 2,68 juta ton, dengan Amerika Serikat sebagai pemasok utama 2,37 juta ton, diikuti Kanada 261,5 ribu ton. Pada 2025, impor kedelai turun sedikit menjadi 2,56 juta ton, atau turun 4,48 persen.

Penurunan ini masih relatif kecil, sehingga ketergantungan terhadap kedelai impor tetap tinggi dibanding produksi dalam negeri yang hanya mencapai 300 ribu ton.

Daging Sapi

Impor daging sapi sepanjang 2024 mencapai 183,1 ribu ton. India memasok 113,6 ribu ton, Australia 40,88 ribu ton. Tahun 2025, impor daging tercatat menurun tajam menjadi 48,10 ribu ton.

Penurunan ini menjadi salah satu indikasi keberhasilan upaya substitusi impor, namun angka impor tetap menunjukkan kebutuhan yang belum bisa sepenuhnya dipenuhi dari produksi domestik.

Gandum

Total impor bijih gandum dan meslin sepanjang 2024 tercatat 11,71 juta ton, dengan Australia memasok 2,99 juta ton, Kanada 2,54 juta ton, dan Ukraina 2,40 juta ton.

Pada 2025, impor menurun menjadi sekitar 6,91 juta ton, masih dipimpin oleh Australia, Kanada, dan Argentina. Penurunan ini menunjukkan adanya pergeseran pola impor, meski ketergantungan pada gandum masih signifikan.

Dengan demikian, meskipun pemerintah mengklaim swasembada pangan, data DPR menunjukkan ketergantungan impor pada beberapa komoditas strategis masih tinggi. Hal ini menegaskan pentingnya transparansi dan akurasi data agar kebijakan ketahanan pangan bisa lebih efektif dan berbasis fakta di lapangan.

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018