
Webinar Dampak Geopolitik Global terhadap Sektor Pertanian dan Pupuk Nasional
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Konflik di Timur Tengah antara AS-Israel dengan Iran berdampak terhadap perdagangan dunia karena penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini berdampak juga pada pasaokan pupuk di dunia.
Bagaimana dengan Indonesia? Untuk mengetahui imbasnya, Tabloid Sinar Tani bersama PT. Pupuk Indonesia menggelar webinar Dampak Geopolitik Global Terhadap Sektor Pertanian dan Pupuk Nasional di Jakarta, Rabu (22/4).
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Rahmat Pambudi, mengatakan, dunia saat ini tengah memasuki fase penuh ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik, lonjakan harga energi, hingga terganggunya rantai pasok global. Bahkan menurutnya, situasi global saat ini bukan sekadar gejolak biasa.
Konflik yang terjadi sejak awal 2026 telah memberikan dampak sistemik terhadap perdagangan dunia, terutama pada sektor strategis seperti energi, pangan, dan pertanian. “Saat ini kita menghadapi ketidakpastian global yang sangat dinamis. Dampaknya bukan hanya regional, tapi sudah memukul sistem perdagangan global,” ujar Rahmat.
Sementara Anggota Komisi VI, Herman Khaeron juga melihat konflik memunculkan masalah baru. “Semakin hari, semakin tidak menentu. Belum lagi perang tarif yang belum terselesaikan,” katanya saat Webinar Dampak Geopolitik Global terhadap Sektor Pertanian dan Pupuk yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani dan PT Pupuk Indonesia, Rabu (22/4).
Kondisi yang terjadi kini menurut Herman, berpengaruh besar terhadap masalah pupuk di dunia. Data menunjukkan hingga awal 2026 harga pupuk internasional telah melonjak hingga 86%. Angka ini menjadi ancaman serius bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku pupuk. Padahal di dalam negeri, kapasitas produksi pupuk juga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan.
Saat ini, kapasitas produksi pupuk BUMN mencapai sekitar 9,36 juta ton urea per tahun, namun realisasi produksi 2026 ditargetkan hanya 7,8 juta ton. Sementara kebutuhan pupuk nasional mencapai lebih dari 20 juta ton per tahun. “Ini artinya, masih ada celah besar yang harus ditutup, baik melalui impor maupun peningkatan produksi dalam negeri,” katanya.
Untuk pupuk bersubsidi, pemerintah telah mengalokasikan sekitar 9,55 juta ton. Dari jumlah tersebut 6,3 juta ton diantaranya berupa urea. Sisanya harus dipenuhi dari pasar komersial yang harganya jauh lebih fluktuatif.
“Kalau pupuk subsidi aman, pertanyaannya bagaimana yang non-subsidi? Ini yang harus dipikirkan serius,” katanya. Karena itu Herman mengingatkan, jika tidak segera diantisipasi, maka akan berimbas pada lonjakan harga pupuk yang kemudian berpotensi menurunkan produktivitas pertanian.
Sementara itu, SVP Pemasaran PT Pupuk Indonesia (Persero), Junianto Simare Mare mengakui, meski memiliki kekuatan di sisi produksi dan distribusi, tapi diirinya tidak menampik konflik di kawasan Selat Hormuz tetap membawa dampak signifikan terhadap pasar global.
Kawasan tersebut merupakan jalur vital perdagangan berbagai bahan baku pupuk, seperti fosfat, kalium (KCl), dan sulfur. Bahkan, kontribusi ekspor global yang melewati Selat Hormuz terbilang besar, yakni sekitar 34 persen untuk urea, 21 persen untuk fosfat, dan hingga 50 persen untuk sulfur.
Selain itu, ungkap Junianto, sejumlah negara produsen utama juga berada di kawasan tersebut. Iran menyumbang sekitar 16 persen produksi urea dunia, sementara China dan Nigeria masing-masing berkontribusi 14 persen dan 12 persen. Untuk komoditas fosfat, negara seperti Yordania menjadi salah satu produsen utama, sedangkan sulfur banyak dipasok dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Qatar.
Pupuk Urea Aman
Junianto mengatakan, penutupan Selat Hormuz tentu memberikan tekanan terhadap rantai pasok global. Namun, untuk Indonesia, dampaknya relatif dapat dikendalikan, terutama untuk produk urea. Hal ini tidak terlepas dari ketersediaan bahan baku utama urea, yaitu gas alam. Untung saja, produksi gas alam di dalam negeri masih dapat memneuhi untuk bahan baku urea.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak bergantung pada impor untuk produksi urea, bahkan memiliki kapasitas yang melebihi kebutuhan nasional. Pada tahun 2026, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea sebesar 7,9 juta ton. Sementara itu, kebutuhan domestik diperkirakan mencapai 6,4 juta ton, termasuk untuk pupuk bersubsidi.
Surplus produksi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisinya sebagai pemain penting di industri pupuk global. “Ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk tampil sebagai salah satu pemasok urea di pasar internasional, terutama di tengah terganggunya pasokan global,” kata Junianto.
Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Direktorat Pupuk, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Yustina Retno Widiati mengatakan, konflik di Timur Tengah turut memberikan tekanan pada harga pupuk global, terutama akibat terganggunya jalur logistik internasional setelah penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini berdampak pada ketersediaan bahan baku pupuk, khususnya fosfat (P) dan kalium (K), yang masih bergantung pada impor.
“Gejolak ini perlu diantisipasi karena dapat memicu kenaikan harga pupuk secara signifikan,” kata Yustina. Karena itu, sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah melakukan pembayaran subsidi pupuk lebih awal untuk pengadaan bahan baku. Dengan demikian, pembelian dapat dilakukan sebelum harga meningkat lebih tinggi.
Berdasarkan hasil reviu BPKP, alokasi subsidi untuk bahan baku pupuk bersubsidi tahun 2026 mencapai Rp25,89 triliun. Selain itu, pemerintah memastikan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi tidak mengalami perubahan guna menjaga daya beli petani.
Upaya lain meliputi pengajuan tambahan anggaran subsidi jika kebutuhan meningkat, serta mendorong penggunaan pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik. “Penggunaan pupuk organik, baik bersubsidi maupun mandiri dari bahan lokal, menjadi salah satu solusi strategis menghadapi ketidakpastian global,” katanya.
Bagi Sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi bisa mengunduh di link bawah ini. Begitu juga bagi yang telah mengikuti webinar bisa mendapatkan e Sertifikat dengan mengunduh di link.
Materi : Klik Disini !!!!
Esertifikat : Klik Disini !!!
Esertifikat Berdasarkan Nomor: Klik Disini !!!