Saturday, 05 September 2026


Begini Cerita Awal Lahirnya PM-AAS hingga Dibidik Terapkan di 1 Juta Hektare

17 Jul 2026, 10:55 WIBEditor : Gesha

Terungkap cerita awal lahirnya PM-AAS, berawal dari kajian usai kunjungan ke China dan Vietnam hingga kini ditargetkan diterapkan di 1 juta hektare.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Terungkap cerita awal lahirnya PM-AAS, berawal dari kajian usai kunjungan ke China dan Vietnam hingga kini ditargetkan diterapkan di 1 juta hektare.

Program Pertanian Modern melalui Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang kini menjadi salah satu fokus transformasi pertanian nasional ternyata lahir dari serangkaian kajian panjang setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat, China, dan Vietnam.

Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Amin Nur, dalam Webinar Smart Tani, Kamis (16/07) mengatakan gagasan PM-AAS muncul setelah Menteri Pertanian melihat secara langsung bagaimana negara-negara tersebut mampu meningkatkan produktivitas padi melalui pemanfaatan teknologi modern, mekanisasi, dan sistem budidaya yang efisien.

"Konsep ini sebenarnya berawal dari kunjungan Pak Menteri ke Arkansas di Amerika Serikat, kemudian ke China dan Vietnam. Dari hasil kunjungan tersebut beliau melihat ternyata produktivitas padi masih bisa terus ditingkatkan melalui penerapan teknologi modern. Karena itu beliau meminta kami mengkaji metode-metode tersebut untuk diintegrasikan dengan kondisi pertanian Indonesia," kata Amin Nur.

Untuk diketahui, pada akhir 2024 hingga awal 2025, Amran melakukan kunjungan ke Arkansas, Amerika Serikat, untuk mempelajari sistem budidaya padi modern yang telah menerapkan mekanisasi penuh, pertanian presisi, penggunaan drone, sensor lahan, hingga pengelolaan air berbasis teknologi.

Selain Arkansas, Amran juga mengunjungi China yang dikenal sukses mengembangkan pertanian cerdas (smart agriculture) melalui digitalisasi, kecerdasan buatan, dan mekanisasi berskala besar.

Sementara di Vietnam, pemerintah mempelajari keberhasilan negara tersebut dalam meningkatkan produktivitas padi sekaligus menjaga efisiensi biaya produksi melalui penerapan teknologi budidaya modern dan pengelolaan irigasi yang lebih baik.

Hasil kunjungan itu kemudian menjadi dasar penyusunan konsep PM-AAS dengan menyesuaikannya terhadap kondisi pertanian Indonesia.

Menurut Amin, PM-AAS bukan sekadar meniru sistem budidaya dari negara lain. Seluruh teknologi yang dipelajari terlebih dahulu diuji dan disesuaikan dengan karakteristik lahan, iklim, hingga kebiasaan bertani di Indonesia.

"Yang kami lakukan bukan copy paste. Kami melakukan kajian, kemudian mengintegrasikan teknologi dari luar dengan teknologi yang sudah berkembang di Indonesia, sehingga lahirlah konsep PM-AAS," ujarnya.

Karena itu, PM-AAS sendiri merupakan sistem budidaya modern yang mengedepankan efisiensi usaha tani melalui mekanisasi, penggunaan alat dan mesin pertanian, pemanfaatan teknologi presisi, digitalisasi, serta pengelolaan budidaya yang lebih terukur..Program ini menjadi salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan produktivitas padi sekaligus menekan biaya produksi petani.

Amin menjelaskan, kajian PM-AAS mulai dilakukan BRMP Padi pada 2025. Tahap awal difokuskan pada pengujian beberapa pola tanam yang dikombinasikan dengan berbagai varietas padi unggul.

Salah satu aspek yang diuji adalah penerapan sistem tanam jajar legowo yang selama ini telah dikenal petani Indonesia.

"Kami mengombinasikan teknologi dari luar dengan sistem jajar legowo yang sudah lama diterapkan di Indonesia. Kami menguji legowo 2:1, 4:1, hingga 6:1 untuk melihat mana yang memberikan hasil terbaik," katanya.

Hasil kajian menunjukkan pola tanam jajar legowo 4:1 dan 6:1 mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan pola lainnya.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar untuk melakukan pengujian dalam skala yang lebih luas.

Setelah memperoleh hasil positif pada tahap awal, BRMP Padi memperluas pengujian di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Uji coba dilakukan di lahan sekitar lima hektare dengan berbagai kombinasi teknologi PM-AAS.

"Hasilnya cukup menggembirakan. Produktivitasnya bisa mencapai sekitar 10 ton gabah per hektare," ujar Amin.

Keberhasilan tersebut mendorong Kementerian Pertanian memperbesar skala pengujian di Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang merupakan salah satu pusat penelitian padi nasional.

Di lokasi tersebut, BRMP Padi memanfaatkan lahan sekitar 300 hektare untuk menguji efektivitas PM-AAS.

Sebanyak 19 varietas padi unggul diuji secara bersamaan untuk mengetahui varietas yang paling adaptif terhadap sistem budidaya modern tersebut.

"Kami benar-benar ingin mengetahui varietas mana yang paling sesuai dengan sistem ini sehingga hasilnya optimal," katanya.

Selain mengevaluasi produktivitas, pengujian juga mencakup efisiensi penggunaan benih, pupuk, air irigasi, hingga efektivitas mekanisasi selama proses budidaya.

Setelah serangkaian uji lapangan menunjukkan hasil yang menjanjikan, Kementerian Pertanian memperluas implementasi PM-AAS.

Program tersebut kemudian diterapkan di 16 provinsi dengan total luas sekitar 2.000 hektare.

Dari total tersebut, sekitar 300 hektare berada di Jawa Barat, mengingat provinsi tersebut merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia.

Menurut Amin, perluasan dilakukan untuk memastikan bahwa teknologi PM-AAS mampu diterapkan pada berbagai kondisi agroekosistem di Indonesia.

"Kami ingin memastikan teknologi ini tidak hanya berhasil di satu lokasi, tetapi juga bisa diterapkan di berbagai daerah dengan karakter lahan yang berbeda-beda," jelasnya.

Diterapkan 1 Juta Hektare

Keberhasilan berbagai uji coba tersebut Ternyata mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Menurut Amin, setelah melihat hasil demonstrasi PM-AAS di Gelaran PENAS Gorontalo 2026,  pemerintah memberikan arahan agar sistem tersebut diperluas secara nasional.

"Dari kegiatan yang sudah kami lakukan, kemudian muncul arahan agar PM-AAS dikembangkan hingga satu juta hektare. Tentu ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan produksi padi nasional," katanya.

Pengembangan satu juta hektare tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, penyuluh pertanian, brigade pangan, hingga petani.

BRMP Padi juga akan terus melakukan pendampingan agar penerapan teknologi dapat berjalan sesuai standar.

Kementerian Pertanian juga menilai PM-AAS menjadi salah satu strategi penting untuk mendukung target swasembada pangan.

Melalui kombinasi mekanisasi, penggunaan varietas unggul, pola tanam yang tepat, serta pemanfaatan teknologi digital, pemerintah berharap produktivitas padi nasional dapat meningkat secara signifikan.

Selain meningkatkan hasil panen, sistem tersebut juga diharapkan mampu mengurangi kebutuhan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi penggunaan benih dan pupuk, serta menekan biaya produksi petani.

Amin menegaskan keberhasilan PM-AAS nantinya tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pendampingan penyuluh dan kesiapan petani dalam mengadopsi inovasi baru.

"Karena itu kami akan terus melakukan pengawalan bersama penyuluh pertanian di seluruh Indonesia agar implementasi PM-AAS berjalan sesuai harapan dan mampu meningkatkan produksi padi nasional secara berkelanjutan," tutupnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018